Sudut Pandang

Laki-laki Sholehah


“Laki itu shalatnya di masjid,” kata Ustadz Hendi Rustandi di mimbar ketika kultum menjelang shalat tarawih di Masjid Al-Haq. Lalu dia menyitir ayat Al-Quran, hadits dan sebuah riwayat dari Ibnu Umar. Gamblang sekali. “Perintahnya jelas, perempuan shalatnya di rumah, laki-laki di masjid. Jadi kalau ada laki-laki shalat di rumah, jangan-jangan dia laki-laki shalehah…”

Pernyataan itu membuat sebagian jamaah tertawa, walaupun sebagian lagi merasa ‘digebuk’. Terutama jamaah laki-laki. Mana ada laki-laki shalehah. Laki-laki ya shaleh, shalehah itu kata sifat untuk perempuan yang baik. Selanjutnya sang ustadz muda ini menjelaskan tentang pentingnya shalat sebagai tiang dari segala amalan lainnya.

Proses menjadi itu memang berat. Mau menjadi apa saja, pasti berproses. Apalagi menjadi orang yang shaleh dan shalehah. Sederhana saja contohnya, nasi yang terhidang di meja makan, bukanlah hasil sulapan, dengan sim salabim maka jadilah nasi. Ada proses pengolahan, ya mengolah dari beras menjadi nasi. Tidak perlu terlalu jauh harus bercerita proses dari benih, ditanam, dipupuk, disiangi, dipanen, dijemur hingga dikuliti dengan mesin penggiling padi atau rice mill untuk menjadi beras.

ustadz hendi Olah beras menjadi nasi pun banyak caranya. Ada yang dimasak dengan kecanggihan teknologi, cukup masukan ke mesin penanak nasi, colokin ke stop kontak, tinggal dalam waktu tertentu matang. Ada juga cara olah yang lain, diaron, dikukus, atau ditim. Banyak cara. Begitulah proses, bertahap, tidak instan, perlu waktu, butuh kesabaran dan ilmu. Selain itu juga perlu konsistensi. Orang-orang yang biasa di masjid menyebut dengan istiqamah.

Menjadi shaleh, tidak sederhana.

Itulah pentingnya menikmati proses. Saya menyebut dengan ‘kesadaran berproses’ dan ‘kesabaran berproses.’ Artinya, kita harus menjalani secara sadar kalau ingin mencapai tingkatan tertentu, tujuan yang kita targetkan, dan meraih apa yang kita cita-citakan. Sadar berarti kita melakukan dengan penuh pengetahuan, dengan menyertakan akal pikiran yang sehat dan jernih, termasuk menyusun strategi cara pencapaian, cara memelihara pencapaian dan cara menikmati pencapaian.

Kesadaran butuh ilmu dan pengetahuan. Itulah sebab, banyak nasihat bijak, banyak ayat dan dalil yang menyebut betapa pentingnya ilmu, termasuk betapa mulianya orang-orang yang berilmu. Pun dengan kesabaran. Ada ilmunya. Tidak hanya dengan mensugesti diri, “Sabar, sabar… orang sabar disayang Tuhan.” Bahkan ada yang bercanda ‘orang sabar jidatnya lebar.’ Sebuah upaya untuk menghibur diri, karena kesabaran itu juga harus didasari dengan ilmu. Padahal, seperti juga ilmu, sabar sering sekali diberi makna dan tekanan baik dalam ayat, dalil, dan nasihat bijak. Bahwasannya, sabar memiliki tingkatan dan derajat yang setidaknya setara dengan ilmu. Betapa banyak ayat ditujukan kepada orang-orang yang berpikir dan kepada orang-orang yang bersabar.

Kalau kesadaran dan kesabaran menyatu seiring dalam berproses, ada sublimasi antara akal sehat dan kekuatan ruhani, maka pencapaian pun akan pada titik optimal. Misal, stimulusnya adalah sentilan Ustadz Hendi bahwa lelaki harus shalat berjamaah di masjid. Maka kesadaran untuk menjadi shaleh harus meliputi pentingnya ilmu dan pengetahuan tentang, keshalehan itu apa, shalat yang benar itu bagaimana, berjamaah itu maknanya apa, mengapa harus masjid bukan tempat lain, dan seterusnya. Semua itu proses…

Berproses itu juga pilihan. Kecuali proses menjadi tua. Itu sebuah kemestian. Itu sunatullah. Allah maha memperjalankan kehidupan dan waktu. “Eh, ternyata kita sudah tua ya, nggak kerasa!” “Eh, ternyata kita sudah uzur ya, kayak berasa muda saja.” Banyak yang kaget dan sering dikagetkan dengan kenyataan pada dirinya yang tak diinginkan. Karena apa, karena kita tidak memilih berproses secara sadar. Menjadi shaleh itu kesadaran. Menjadi baik itu kesadaran. Pilihan sudah diberikan, waktu luang sudah dibentangkan, kesempatan sudah dilapangkan.

Terngiang lagi penggalan kultum Ustad Hendi malam itu, “Silakan, mau jadi laki-laki sholeh atau laki-laki shalehah… kalau masih mau shalat di rumah, silakan dah rebutan mukena…” Sepertinya memang bercanda, tapi sungguh sangat mengena. Hikmah puasa memang tak terkira… []

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s