Sudut Pandang

Pintar Pintar Bodoh


“Semoga jadi anak yang pintar, berguna bagi negara, bangsa dan agama,” begitulah template ucapan selamat kepada anak-anak yang berulang tahun. Menjadi anak yang pintar adalah harapan semua orang tua. Maka selanjutnya, ketika anak itu sekolah, yang menjadi perhatian utama adalah, “Anaknya rengking berapa?”

Kalau angka rengkingnya kecil, maka dia dianggap pintar. Kalau rengkingnya puluhan, dianggap bodoh dan sering juga dibuat olok-olok. “Rengking satu juga, tapi dari belakang…” Hingga cerita ini akan menghiasi semua pertemuan, baik dengan sesama orang tua sebagai wali murid di sekolah, di meja makan ketika berkumpul di rumah kakek neneknya, sampai di arisan panci yang anggotanya hanya tiga orang.

Anak pintar dilihat dari nilai raportnya. Itu hukum sosialnya. Kalau nilai raportmu jelek, banyak angka di bawah enam, lima atau empat. Maka, tertasbihlah ia sebagai anak yang bodoh. Tak apa, memang tampaknya tidak adil. Tapi justru itulah keadilan sedang diselenggarakan sang pemilik alam dengan canggihnya. Menjaga keseimbangan dengan mengadakan pilihan, ada yang pintar, ada yang bodoh. Beruntunglah ada yang bodoh, sehingga ia patut dikategorikan pintar. Juga sebaliknya.

Namun dalam realitasnya, saat semuanya tumbuh. Pintar dan bodoh itu menjadi sangat tak jelas ukuran dan batas pembedanya. Ada yang dinisbatkan banyak orang sebagai orang pintar, tentu dengan ukuran akademik. Soal pencapaian akademik, semua jenjang sudah diraihnya. Bahkan sampai pada tahap paling tinggi. Tak terbantahkan, diakui banyak kalangan. Di lain sisi, khalayak ditunjukkan gamblang, sebuah ironi, “Orang sepinter itu kok bisa ketipu sih?” Artinya apa?

quote einsteinAda banyak kasus dan contoh orang-orang pintar yang yang terjerumus, terjerembab, dan tersungkur dalam wilayah kebodohan. Sori sekadar contoh saja. Berapa sarjana, lulus pascasarjana, bahkan sudah selesai menempuh strata tiga yang saat ini menghuni berbagai penjara karena hal-hal bodoh. Misal, korupsi hal remeh temeh. Urusan gula, urusan jalan, urusan ktp, semacam itu lah. Remeh, tapi jumlahnya bukan sekadar remah-remah.

Kalau kata mendiang ibu saya, “Kamu itu hidup di zaman orang pinter banyak. Ada orang yang pinternya minterin (bikin pintar) orang lain. Ada orang yang pinternya buat mbodohin orang lain.” Sambil dia berpesan, agar apa yang saya miliki jangan dipakai buat membodohi, mencurangi, atau mencelakai orang lain. “Ibu sekolahin tinggi, biar kamu bisa memberi lebih banyak manfaatnya buat orang lain.”

Fenomena orang pintar membodohi orang lain seperti menambah musim yang sudah ada sebelumnya. Negeri ini kaya sekali dengan musim, selain musim hujan dan kemarau, musim buah nyaris tak berjeda. Dari musim durian, rambutan, duku, salak, hingga pisang yang tak kenal musim. Sekarang, tambah musim pilkada. Malah sekarang semakin dekat jarak dan banyak jumlahnya. Di musim pilkada inilah, fenomena pin pin bo alias pintar-pintar bodoh membenih dan tumbuh sangat pesat. Seperti mutan yang menjalar hingga ke titik paling tersembunyi.

Di musim ini, ada orang pintar menjadi pura-pura bodoh, seolah tidak tahu ini itu. Tidak jelas, antara akting, tuntutan tugas, atau sebenarnya bodoh. Saya hanya bisa heran, kok sebegitunya. Tapi saya tidak kaget, karena kembali ke ucapan teman saya yang pernah kuliah ilmu politik walaupun drop out, “Politik itu kepentingan, titik!” Orang pintar itu meyakini bahwa di atas langit ada langit, masih ada orang yang lebih pintar dari dia. Maka dia tidak akan semena-mena, tidak akan underestimate kepada orang lain, merendahkan apalagi menghinakan orang lain.

Istilah pintar-pintar bodoh atau pin pin bo, mengingatkan saya pada film Warkop DKI, Dono, Kasino dan Indro di masa saya masih SD. Trio komedian dengan latar pendidikan tinggi dan sering disebut sebagai pioner komedi cerdas itu, sering berlakon dengan berlagak bodoh dalam adegan film yang penuh slapstick demi tuntutan skenario, demi menghibur penontonnya. Kebodohan mereka pasti hanyalah pura-pura demi sebuah profesionalitas peran. Apa yang mereka perani, entah kekonyolan, kebodohan, atau ironi-ironi yang mengocok perut dan mengundang tawa itu, adalah pekerjaan dan profesi bagi mereka. Termasuk dalam Pintar-Pintar Bodoh produksi Parkit Film di era 80an, salah satu dari 30  lebih film komedi yang dibintangi Warkop.

Kalau kemudian banyak kelucuan yang dilakukan orang pintar selain komedian dalam berbagai urusan masyarakat dan orang banyak. Apa nasib para komedian dan film komedi. Karena realitas sungguh sudah sangat komedik. Nafsu berkuasa, penghambaan kepentingan, ketakutan terempas dari zona nyaman, dan banyak sekali alasan yang masuk akal, tapi justru menistakan akal. Orang pintar tak berwibawa, orang pintar tak menjadi magnet bertanya. Walaupun masih ada yang memilih sepi dengan segala kerendahan hati, menjauh dari hiruk pikuk penuh kamuflase. Terus membenih, memintarkan orang lain. Akhirnya, mau pintar atau bodoh, kembali ke hati nurani saja…[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s