SENGGANG

Ngadep ‘Umar Kayam’ Sugih


Beruntung saya mempunyai simbah yang suka membaca. Setidaknya membaca koran. Korannya Kedaulatan Rakyat. Sampai akhirnya saya turut ketagihan membaca dan mengenal seri cerita bersambung Api di Bukit Menoreh karangan SH Mintaredja yang kemudian dibukukan berjilid-jilid. Satu lagi, saya terpukau dengan mengangeni kolom Umar Kayam yang begitu sublim dan leleh menyatu dengan kehadiran tokoh-tokohnya, seperti Ki Ageng beserta keluarga Mr. Rigen, Ms. Nansiyem, Beni Prakoso dan Tolo-tolo.

Kalau cerita bersambung karya Pak Singgih, saya pernah menuliskan sosoknya di sini dibukukan berjilid-jilid. Kolom Pak Umar Kayam pun akhirnya dalam rentang sekitar sepuluh tahun dibukukan oleh Grafity Press. Buku pertama berjudul Mangan Ora Mangan Kumpul, disusul Sugih Tanpa Banda, dan terakhir dijuduli Madep Ngalor Sugih, Madep Ngidul Sugih. Pada waktu itu saya mengoleksinya, tetapi saat saya menulis ini, tak satupun buku itu tersisa di lemari buku saya. Dalam hal ini, saya masih terlalu bodoh, ‘meminjamkan buku, hampir pasti tidak akan kembali.”

Umar KayamProfil - Umar Kayam adalah salah satu idola saya, baik pribadi, maupun karya-karyanya. Kualitas karyanya mencerminkan kualitas dirinya. Saya tidak membayangkan, seperti apa kondisi negeri ini di tahun 1960an. Umar Kayam sudah merantau ke Amerika untuk kuliah di perguruan tinggi keren. Menyelesaikan studi masternya di New York University, lalu mencapai Ph.D di perguruan tinggi impian banyak orang, Cornell University.

Jauh sebelum saya membaca tulisan beliau, saya mengenal namanya dari title actor di film Penumpasan Pengkhiatan G30S/PKI karya sutradara Arifin C. Noor yang dulu wajib ditonton setiap anak sekolah. Setiap tahun di tanggal menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Selain Amoroso Katamsi yang sangat familiar memerankan Soeharto, Umar Kayam menancap di ingatan saya dalam perannya sebagai Presiden Soekarno. Ada scene yang tak terlupa, ketika Umar Kayam dengan posturnya yang tinggi besar, berpeci hitam serta baju safari empat kantong mengadakan pertemuan dengan para jenderal di Istana Bogor.
Kekayaan atau ‘kesugihan’ Umar Kayam terlihat dari banyaknya peran yang dijalani. Kemampuannya sebagai penulis cerita, baik cerpen maupun novel, ternyata beliau juga penulis skenario. Jadi alasan mengapa bisa menjadi aktor di sebuah film, bukan semata-mata kedekatannya dengan para insane film. Walaupun dalam satu kurun masa Umar Kayam berada di sebuah tempat paling penting, rahim bagi lahirnya para seniman. Umar Kayam pernah menjadi Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta sebelum berubah menjadi Institut Kesenian Jakarta. Masih dekat dengan wilayah berkesenian dan kebudayaan, Umar Kayam juga pernah mengetuai Dewan Kesenian Jakarta.

‘Kesugihan’ itu jejaknya jelas. Kecintaannya pada ilmu dan pendidikan, perantauannya sekolah tinggi hingga negeri Paman Sam adalah bentuk ‘proses’ sekaligus kerja kerasnya untuk menjadi ‘sugih’. Semua itu seperti yang diharapkan orangtuanya, berharap anak pertamanya, cucu pertama kakeknya di Ngawi, bisa seperti Omar Khayyam, tokoh sufi yang hidup pada masa Dinasti Seljuk abad ke-11. Layaknya para ilmuwan dan cendekiawan, Omar Khayyam bukan hanya seorang yang pandai bersyair, tetapi ahli ilmu astronomi dan ahli matematika. Saya tidak membayangkan, orang tua dari Umar Kayam yang tinggal di Solo, memiliki keluasan wawasan, hingga mempunyai harapan pada anaknya yang lahir 30 April 1932, saat kondisi bangsa masih terjajah.

Rasanya, daya jelajah dan sepak terjang Umar Kayam, membuat dirinya sangat lengkap. Seniman, budayawan, birokrat, dan cendekiawan. Wajar sekali dengan kekayaan pengalaman, keilmuan, dan kekuatan imajinasinya. Karya-karya yang dihasilkan, baik kolom, cerpen maupun novel Para Priyayi dan Jalan Menikung memiliki daya pikat, baik bahasa maupun kedekatan emosionalnya, selain ramuan pandangan sosiologis, budaya dan lainnya. Ngadep ‘Umar Kayam’ Sugih, lah… Salut dan hormat saya, hingga hari ini…[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s