Ibu

Ibu yang Tak Henti Puasa


“Sarapan dulu, biar nggak masuk angin…” kalimat ini membelokkan langkah saya. Dari hendak menuju pintu, kembali ke ruang makan. Seperti biasa, ibu sudah siapkan sarapan untuk saya. Tidak berubah dari saya mengenal makan di meja makan, dari kecil hingga kuliah, bahkan sudah bekerja.

“Nggak sekalian, Mam…” sering saya bertanya begitu. Tapi jawabannya macam-macam, berganti-ganti. Demikianlah orang tua, harus pintar.  Saya sering sekali sarapan ditunggui ibu, tapi dia tidak turut makan. Kadang hanya bercerita saja, sambil membaca, atau mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan.

Hingga akhirnya saya tahu. Ibu tidak ikut makan karena berpuasa…

ibu-bundar-emas Saya bangga memiliki ibu yang tidak ‘menyuruh’ dan ‘memaksa-maksa’. Dia memberi ruang yang meleluasakan. Bahwa anaknya harus merasa percaya diri dengan segala yang sedang dimilikinya. Semisal, waktu saya kuliah, saya merasa ibu memberi kesempatan agar saya bangga pada apa yang sedang disandang dan dijalani. Saya sering bercerita tentang teman-teman, teman seperjalanan, atau kejadian apa saja yang semua didengarkannya.  Supportnya saya rasakan sekali, terutama dalam hal, ‘memberi ruang’.

Ruang itu tidaklah sederhana. Menjadi single parent itu tidak mudah. Ibu saya menempuh cara yang membuat saya malu setelah mengetahuinya. Hampir semua puasa sunnah dia jalani. Tanpa banyak bicara dan tak juga mengajak serta saya. “Semua yang ibu lakukan untuk ke bahagiaanmu, untuk semua cita-citamu,” kata ibu ketika saya tanya. “Kalau kamu mau, makin ringan beban ibu…” hanya begitu saja pernyataannya. Tidak meminta, tidak memaksa.

Terus terang, sampai hari ini saya masih belum mampu mengejar langkah-langkah ibu. Hingga saya merasa, hal yang paling bisa saya lakukan adalah menyayanginya dengan segenap jiwa dan raga. Saat saya menghadapi kesulitan, lalu datang kemudahan, saya yakin, doa ibu yang sedang berpuasa telah mengetuk karunia Allah untuk memudahkan urusan saya. Saat saya buntu dan harus berhadapan dengan persoalan rumit, pertolongan yang datang, saya sangat yakini, itu gerak Allah atas doa-doa ibu yang terus menyorong arsy-Nya. Banyak kemustahilan yang menjadi sederhana jalan keluarnya, menjadi sangat masuk akal dan enyah kerumitan yang berkelindan nyaris tak ketemu ujungnya.

Puasa ibu, bukan puasa semata menahan makan, minum dan segala persyaratan berpuasa. Tapi dia menahan diri dari kebahagiaannya sendiri, untuk kebahagiaan anaknya. Puasa yang menaklukkan keangkuhan dirinya demi hari-hari yang suatu ketika anaknya hanya akan sendiri. Menabung banyak doa dalam saat-saat mustajabnya doa, entah berapa ribu kali nama saya disebutnya. Permintaan yang berdesak, didesakkan, diselip-selipkan, agar padat ruang kemustajaban itu oleh doanya.

Bukankah puasa salah satu keistimewaannya mempercepat terkabulnya doa. Itulah yang akhirnya membuat saya perlahan sering mengiringi puasa ibu. Tidak segempita beliau, tidak serutin dia, dan tidak sekhusyu ibu. Saya masih sering mengeluh lapar, haus, dan lemas. Hingga beralasan untuk bermalas-malas. Tidak sekali dua kali, ibu memberikan pilihan untuk ‘berbuka saja’ kalau saya dianggap tidak kuat lagi.

Motivasi dan tujuan yang jelas, itulah yang saya lihat mengapa ibu menjalankan puasa dengan ikhlas. Tidak mengganggu aktivitasnya yang sesekali sangat menguras tenaga dan emosi. Tanpa mengurangi produktivitasnya dalam bekerja. Tentu saja, saya merasa ibu memiliki wajah yang bercahaya, halus kulitnya, dan teduh sorot matanya. Meskipun sekali waktu saya menjumpai kantung matanya tampak sekali dia lelah.

Enam tahun berlalu, saya masih merasakan berkali-kali doa ibu makbul memudahkan urusan. Inilah yang namanya doa ditunda, dan akan terkabul di waktu yang sangat tepat. Saya hanya bisa merasa, kemudian perlahan mengikutinya.  Dari beliau saya belajar tentang ‘kesederhanaan beragama’. “Nggak perlu ndakik-ndakik, sing penting diamalke…” jadi tidak perlulah ruwet dengan ini itu, kalau yakin benar dengan tuntunannya, ya amalkan saja. Ilmu tanpa amal apalah artinya, sebaliknya amal tanpa ilmu ya ngaco! Ibu saya mengajari, kalau sunnahnya begitu, ya lakukan. Sebisanya, pelan-pelan…

Bahkan sampai akhir hayatnya, ibu berpuasa untuk tetap sendiri, berpuasa belasan tahun menanti cucu dari anaknya, berpuasa dengan keyakinan yang sangat tak terjangkau. Bahwa akan tiba masa, Allah hadirkan segala bentuk keindahan lain yang tidak kalah membahagiakannya. Kata mendiang ibu saya, “Setelah puasa ada kenikmatan berbuka, walaupun hanya seteguk air putih. Kalau puasa ramadhan pasti lebaran, nanti juga ada saatnya kita berlebaran dan menikmati kebahagiaan itu…”

Allaahumaghfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kama rabbayaanii shaghiraa. Ya Allah, ampunilah aku dan ibu bapakku. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Wallahu’alam bishowab, Allah Maha Cinta…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s