Story & History

Tombo Ati


Banyak sekali versi lagu Tombo Ati. Jauh sebelum Opick melantunkannya, saya mendengarnya dari Emha Ainun Najib di akhir tahun 1990an. Masih berupa kaset dan saya membeli kaset itu sepulang kuliah di Blok M. Ternyata lagi, kata teman-teman, lirik Tombo Ati itu jauh sebelum saya tahu, sudah menjadi bagian dari ‘puji-pujian’ di pesantren. Saya jadi malu, baru tahu saat itu. Tapi saya kan orang yang nggak tahu malu, jadi ya cuek saja, menikmati kebarutahuan itu…

Dari lirik Tombo Ati, tentu yang saya dengar dari Mbah Nun, saya jadi belajar tentang pencipta syair sang Abu Nuwas atau Abu Nawas punjagga Arab yang hidup di tahun 750-800an. Kemudian saya juga jadi penasaran dengan daya cipta sang Sunan Bonang yang membumikan syiar dengan syair itu. Saya yang aslinya orang Jawa, walaupun menurut ibu saya, “Nggak njawani sama sekali!” merasa syair Sunan Bonang itu bukan semata-mata memiliki daya sastra yang tinggi, tapi memiliki daya magis sekaligus magnetis.

Saya kutip versi Mbah Nun, dari berbagi banyak versi yang intinya isinya sama. Tombo ati iku ana limang perkara, kaping pisan maca Quran sakmanane. Kaping pindo, shalat wengi lakonana, kaping telu wong kang sholeh kumpulana, kaping papat weteng ira ingkang luwe. Kaping lima, dzikir wengi ingkang suwe. 

tombo ati

Sebagai manusia biasa, tentu saya seperti yang lainnya. Tidak ada yang istimewa dari saya, karena hatinya kerap berbolak balik, beribadahnya juga kadang ‘sregep’ – rajin, kadang biasa, kadang juga nge-drop kayak batere hape. Saya tidak mau menautkan dengan dalil, bahwa keimanan seseorang itu naik turun, fluktuatif. Sebenarnya, karena saya saja yang tidak konsisten dengan konsekuensi beragama saya. Jangankan sampai pada tataran keyakinan orang-orang shaleh yang sudah pada puncak ‘hidup mulia atau mati syahid’. Saya masih ‘berantem sendiri’ dengan kacaunya menjalankan kewajiban-kewajiban yang tak tertunaikan dengan baik apalagi benar, mungkin benar tapi juga belum baik.

Perihal persoalan hidup, sudah jelas rumusnya. Tidak ada ujian tanpa kemampuan kita untuk menyelesaikannya. Pun tentang jalan keluarnya, setiap kesulitan disertakan kemudahan setelahnya. Setiap kesukaran, ada jalan gampangnya diiringkan. Setiap kesempitan, sesungguhnya sedang menuju keluasan. Jadi, kuncinya ada pada keyakinan bahwa semua persoalan ada jawabannya. Masalahnya tinggal waktunya seberapa lama, cara menyelesaikannya bagaimana, sesabar apa kita menghadapinya, dan seakrab apa kita menyerahkan diri kepada Tuhan dalam bingkai ketawakalan.

Sayangnya, moga-moga tidak ada yang seperti saya… orang yang lebai, berlebihan membingkai diri sebagai orang yang sangat menderita, teramat susah, bahkan merasa hina, dina, terpuruk dalam titik nadir terdalam ketika semua persoalan hidup itu datang. “Terlalu fokus pada persoalan, lupa bahwa pintu dan jalan keluar sudah terbuka. Sehingga, ketika persoalan hidup berikutnya datang, kita  terlewat dan tidak sempat keluar…” kata sahabat saya yang harum baunya.

Harum baunya? Iya, saya hanya mengambil istilah sederhana dari perolehan duduk sambil ngantuk di pojok masjid. “Bergaul dengan tukang minyak wangi tertular baunya, berkawan dengan pandai besi terasa panasnya.” Saya terpikat dengan ketenangan dan wajah teduh orang-orang shaleh itu. Saya yakin, mereka pasti mempunyai persoalan hidup, bahkan mungkin lebih berat, lebih dahsyat, tak ada seujung kuku persoalan kita. Tapi begitu dekatnya mereka dengan khalik-Nya, sama sekali tak tampak gejolak di wajahnya. “Ustad kan juga manusia, ya seperti manusia lain juga persoalannya.”

Wong kang shaleh kumpulana…

Ini hanya pilihan saja. Silakan berkumpul dengan siapa saja. Bebas. Berhubung saya butuh pengobat hati, kemudian ada tawaran terhampar di hadapan saya. Maka saya memilih mendekat pada orang-orang shaleh. Setidaknya saat-saat ini. Orang yang shalatnya pasti lebih khusyu dari saya, orang yang amalan sunnah utamanya mendekat semirip mungkin junjungannya. Orang yang hafal di luar kepala ayat-ayat Allah beserta arti dan tafsirnya sementara saya masih ‘grathul-grathul’ mengeja huruf perhuruf. Jauh dari tartil, jauh dari fasih. Boro-boro berani menafsir, membaca arti terjemahan pun sampai seumur ini belum pernah selesai.

Suatu hari saya dihadapkan pada nasihat ini, “Kalau waktumu banyak, silakan usil sesibuk-sibuknya ngurusi urusan orang laen sampai keraknya nggak kesisa. Tapi kalau waktumu sedikit, terus kamu juga masih seperti orang biasa yang bisa dijemput ajal sewaktu-waktu… kewajibanmu lebih banyak dari waktumu.” Dan saya yang mulai menua, merasa waktunya makin sedikit…[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s