Sudut Pandang

Sepotong Pandangan


Seorang suami sedang menjemur pakaian, sementara istrinya berdiri sambil tolak pinggang. Lalu seseorang lewat dan melihat. Dalam beberapa meter berikut bertemu orang dan bilang, “Gila tuh bini apaan! Lakinya suruh njemurin, eh dia enak-enak ngliatin sambil tolak pinggang.” Terus, berita kemana-mana dengan segala macam bumbu dan versinya.

Banyak sekali cerita semacam itu dan sebanyak itu pula yang tak tidak terklarifikasi tetapi menyebar dengan persepsi. Namun itulah senyata-nyata ukuran berteman, bertetangga, bersosialisasi dengan banyak orang. Sederhananya, persepsi yang muncul adalah ukuran kualitas seseorang. Tak peduli dengan bungkusnya. Karena banyak kok sekarang ini orang yang ‘pintar’ jadi sangat ‘bodoh’ melihat sesuatu, menilai sesuatu, dan mempersepsikan sesuatu. Tidak sedikit juga, ironi dicipta dan lahir dari orang-orang yang melekat pada dirinya simbol-simbol ‘baik’. Tidak apa, tapi itulah salah satu alat ukur untuk bisa mengetahui ‘batas-batas berteman’.

blog - sepotong pandangan

Herannya, kadang beberapa dari mereka adalah orang yang ‘tahu’ bahkan pada level yang ‘sangat tahu’ bagaimana memperlakukan pandangan dan persepsinya. Saya pernah dianggap tidak ‘ghadul bashor’ – menundukkan pandangan ketika sekadar bercanda, “Gila, cakep bener itu…” dan sebagian dari yang ada tertawa. “Hati-hati, jaga pandangan,” suara datar teman saya sambil bermain hape. Seketika semua diam, tapi saya usil, mengintip apa yang dia lihat di hape. Cukuplah saya tersenyum. Ya, sudah, cukup tahu! Tapi mendadak kok otak saya usil, maksudnya tundukan pandangan jangan-jangan tidak boleh melihat yang di sekeliling, tapi boleh liar melihat apa saja di hape, asal menunduk. Ah, nakal sekali saya. Harusnya saya berterimakasih sudah diingatkan tentang kebaikan. Tanpa tapi, tanpa walau…

Akhirnya saya tidak heran lagi, kenapa banyak orang tahu, tapi seperti tidak tahu. Kualitasnya intelektualnya turun jauh, merosot hingga menyamai saya yang hanya bagian dari orang-orang berotak udang. Orang-orang yang otaknya kecil, dan parahnya, tidak terpakai pula. Saya teringat ketika duduk di pojok sambil ngantuk, melihat slide nun jauh di depan, menuliskan tentang tahu dan pengetahuan. Ada orang yang tahu dalam ‘tahu’-nya. Ada orang yang ‘tahu’ dalam ‘tidak tahu’-nya. Ada orang yang ‘tidak tahu’ dalam ‘tahu’-nya. Dan terakhir ada orang yang ‘tidak tahu’ dalam ‘tidak tahu’-nya.

Apa hubungannya dengan sepotong pandangan…

Orang tahu dalam tahunya adalah orang yang tahu persis bahwa dirinya tahu. Biasanya orang pada kriteria ini pembawaannya rendah hati, tidak memperlihatkan pengetahuannya secara ekstrim dan norak. Cool. Golongan kedua, orang yang tahu dalam ketidaktahuannya. Artinya, dia tahu kalau dia tidak tahu. Ngaku bego, ngaku bodo, karena memang tidak tahu. Itu sebabnya yang masuk kriteria ini memiliki semangat ingin tahu lebih tinggi dan semangat belajarnya luar biasa.

Lha ini mulai repot, tidak tahu dalam tahu-nya. Biasanya jadi kagetan. “Kok gue bisa ya!” Kriteria ini, cenderung tidak percaya dan kurang mengekplorasi kemampuan dirinya. Terakhir golongan orang yang tidak tahu dalam tidak tahunya. “Mbuh, ndak ngerti!” Akhirnya yang dilakukan ya berdasarkan ketidaktahuannya. Golongan yang mustahil banget dimiliki oleh orang-orang berpendidikan tinggi.

Membuat kesimpulan sendiri dari sepotong pandangan adalah kecerobohan. Sebuah penghalusan dari kebodohan. Tidak ada satu hal pun, berdiri sendiri kemudian hadir di depan mata kita, menusuk pandangan kita, dan memberi stimulasi agar kita cepat berpersepsi… Satu kisah pasangan muda yang satu kereta dengan anak dan ayahnya dalam sebuah perjalanan. Anak itu selalu mengungkapkan pertanyaan dan pernyataan yang mengundang underestimate pasangan muda itu. “Ayah, pohon-pohon itu berlarian,” atau “Ayah, awan itu terus mengejar kita.” Salah satu dari pasangan itu berkata, “Kasihan anak Anda ya, hal sekecil itu tidak tahu…” Sang ayah tersenyum, “Ini adalah hari yang sangat membahagiakannya, karena ini kali pertama dia bisa melihat, setelah sepanjang usianya dia buta…”

Seperti istri yang bertolak pinggang ketika suaminya menjemur. Sebelumnya, istri telah berlelah-lelah mencuci pakaian itu, sebelumnya lagi dia telah berlelah-lelah di dapur, hingga suami ambil inisiatif membantu menjemur setelah pinggang istrinya pegal.  Terlalu mudah menyimpulkan, sangat mungkin akan keliru menafsirkan. Meskipun bisa jadi benar. Tapi berhati-hati, tetaplah pilihan yang baik. “Terlalu sedikit yang kita tahu, terlalu banyak yang tidak kita tahu.” Termasuk pengetahuan tentang diri sendiri…

Iklan

6 thoughts on “Sepotong Pandangan”

    1. Haiyah, tulisan saya hanya main-main belaka, kadang ada benernya, tapi banyak biasanya banyak nggak benernya… jangan terlalu dianggap serius, hehehe…

    1. Hhehe, sering kali kita terlalu teliti mengurai kekurangan orang lain, tapi lupa, melihat kuping sendiri saja dari lahir sampai sekarang tak kunjung bisa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s