SENGGANG

Sate Bandeng Mertua


“Di rumah nggak Om, sekalian lewat nih mau mampir…” Saya langsung jawab pesan WA itu dengan cepat. “Ada, ditunggu…”  Karena kalau dikira-kira jarak perjalanan dari posisi beliau ke rumah ya masih cukup untuk saya sampai duluan ke rumah. Saya jarang main jauh, takut ilang. Kata orang tua dulu kan begitu, “Jangan jauh-jauh maennya…”

Begitulah, saya pun sampai duluan di rumah. Selang berapa menit, sang pengabar datang. Pintu rumah sudah saya buka lebar, tanda saya siap menyambutnya. Orang menyebutnya banyak tamu banyak rezeki, dan Alhamdulillah, rumah saya selalu saja banyak yang datang. Dan soal rezeki…

sate bandeng imam2

“Saya bawain sate bandeng nih, Om…” katanya sambil menyerahkan sekantong plastik putih. Setelah berucap terima kasih yang amat sangat, saya pandangi tulisan di kantong plastik. Kuliner Khas Banten – SATE BANDENG, BEKAKAK AYAM – Ibu Yoyok Urfi, Hj Maryam. Ehm, saya dulu selalu membeli oleh-oleh ini kalau jalan ke Serang atau sepulang jalan-jalan dari Carita, Anyer, atau pantai-pantai di Banten yang cantik-cantik.

Sate Bandeng itu khas banget. Aroma, rasa dan penyajiannya. Konon juga, itu makanan para raja dan tamu-tamu raja. Hari ini saya berasa tersanjung, mendapat buah tangan sate bandeng dari sahabat baik saya, Imam Salimi. Teman menulis dari dulu kala, dan kini ia melesat dengan karier menulis skenario. Malas menghitung karyanya yang tayang di tivi, karena saking banyaknya. Baik program sinetron berseri, FTV, hingga program lain.

“Ini buatan nenek saya, ibu mertua mulai meneruskan…” Imam menunjuk nama yang tertera di kantong plastik.

Saya makin antusias. “Maaf, ayam bekakaknya habis, jadi nggak bawa,” katanya lagi. Hari ini saya bakal merasa tamu raja, makan dengan olahan sate bandeng, original temuan chef Kerajaan Banten olahannya mampu membuat  bandeng terlepas dari duri-durinya.  Saya ingin ajak makan, tapi rupanya istri saya tidak masak nasi ketika pergi. Maklum, sebelumnya memang sepakat saya mau makan di luar karena ada urusan.

sate bandeng imam3

Berhubung mendapat hantaran makanan raja, maka obrolan saya dan Imam pun layaknya obrolan para pembesar. Ngomong yang sulit dipahami orang kebanyakan, karena memang mereka tidak perlu paham urusan orang-orang besar. Tentang kondisi negara, dari berbagai bab, ipoleksosbudhankamrata dibahas semua, walau tanpa ketuntasan. “Ngapain dituntasin, kalau bisa digantungin…” kira-kira begitu. Bukankah dalam dunia fiksi dan cerita sinema ending yang menggantung itu juga menarik. “Biar besok pada nonton lagi, nongkrong di depan tipi lagi, rating naik, panjang dah…”

Saya dan Imam sepakat, hal yang paling penting dalam hidup itu ‘sehat’. Agar sehat terus, maka harus makan. Agar bisa makan, kita harus ambil piring, lalu diisi nasi dan lauknya. Baik ambil sendiri, diambilin istri, maupun diambilin istri orang lain, ups! Maksudnya yang jualan kalau makannya di warung. Karena kalau sehat, otak jadi jernih, penglihatan juga jadi terang. Bisa membedakan dengan jelas mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Kalau sehat, berdiri shalat jadi tegak. Maka melihat jelas bedanya yang batil dan yang haq.

“Tapi sehat saja tidak cukup, pikiran dan ruhiyah kita juga kudu sehat…” kutipan ini dari guru ngaji waktu sekolah. Imam tahu, bahwa dalam diri seseorang yang perlu tumbuh dan terus diisi dengan nutrisi bukan jasadi semata. Tapi ada pikiran dan hati. Bahasa ngajinya, fikriyah dan ruhiyah harus tumbuh sama sehatnya dengan pertumbuhan jasadiyahnya.

Begitulah persahabatan, kami saling mengingatkan. Hal sederhana. Walaupun ada yang mengaku sahabat, tapi tidak mengingatkan justru membincang dan mengurai keadaan sang teman. Melucuti hingga telanjang tak berdaya di level sehina-hinanya. Tidak sedikit, tapi itu pilihan. Saya dan Imam, memilih bersahabat dalam kebaikan saja. Termasuk hari ini, kehadirannya membuat kami saling membuat bahagia.

“Ntar kalau mau lagi, telpon atau WA aja. Nanti dianter ojek…” ujarnya ketika pamit “Atau kalau jalan ke Serang, mampir aja…” Saya mengiyakan. Dan sepulang Imam, istri langsung masak nasi dan siang itu, saya beberapa kali tambah nasi makan siang berlauk sate bandeng. Beberapa hari kemudian, saya pesan lagi sate bandeng olahan nenek dan ibu mertuanya Imam. Ketika datang dianter ojek online, kemasan plastik dan kardusnya bertulis persis, Kuliner Khas Banten – SATE BANDENG, BEKAKAK AYAM – Ibu Yoyok Urfi, Hj Maryam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s