Story & History

Foto Keluarga


Foto Keluarga 1

SURAT UNTUK ICHA

Icha sayang… Setiap orang punya angan-angan, punya harapan. Beberapa tidak bisa membedakan apa itu angan, apa itu harapan. Cerita tentang orang yang terjebak angan-angannya sendiri, jatuh dengan berbagai gaya, entah tersungkur, terjerembab, terpelanting, atau apalah gaya jatuhnya, tentu sakit. Ada yang sakit sedikit tapi lama sembuhnya, ada yang sakitnya luar biasa, tapi cepat sembuhnya. Walau tidak sedikit yang terbingkai sakitnya, entah sengaja atau tidak, di lubuk hati terdalam, dan menamainya sebagai luka hati!

Banyak yang luka hatinya, karena tidak berusaha paham dari awal. Tidak segera mencari tahu, apa itu angan, angan-angan, apa itu harapan. Semuanya sekolah, semuanya belajar bahasa. Tapi tidak semua orang peduli bahasa, menganggap remeh dan tidak ada gunanya. Berapa kali kamu menyentuh, menyentuh saja, tak usah lebih jauh untuk memegang atau membuka-buka kamus bahasa Indonesia. Mungkin pernah membuka, sekali waktu menyusun skripsi. Selepas itu, ya sudah…

Tidak mengapa, tidak ada hukuman apa pun untuk semua itu. Tapi pesanku padamu, kalau hendak melangkah, jelas dulu apa yang hendak kamu tuju. Ketahui dulu apa itu. Jadi, tegas dan jelas pengetahuanmu tentang hal yang ingin kamu lakukan. Angan-angan itu karunia Tuhan untuk semua manusia, seperti halnya dicipta bumi, air, udara dan semesta isinya. Tapi tahu dulu, angan-angan itu apa…

 

Zaman sudah terlalu baik untuk generasimu, sayang…

Semua yang kamu perlukan, ada dalam genggamanmu. Mudah sekali zaman ini, dan aku merasa beruntung mengalaminya. Apalagi bersamamu yang paham betul seluk beluk berselancar di dunia maya ini. Membuat hidupku semakin bahagia, mampu mengepak sayap sedemikan jauh tanpa lelah, tanpa banyak waktu terbuang sia-sia, dan tanpa banyak biaya. Aku jadi teringat kata dosenku dulu, waktu kamu belum lahir yang berulang kali mengutip agadium ini, man behind the gun. Dia berpesan, hati-hati dengan penamu! Tentu karena dulu, para wartawan disebut kuli tinta. Hati-hati menulis berita. Meskipun bisa bermakna, hati-hati menulis kalau tersenggol bisa tumpah tintamu, habislah hasil kerja kerasmu…

Balik lagi ke soal angan, bukalah sebentar kamus. Unduh di play store, taruh di smartphone-mu, KBBI edisi V keluaran Pusat Bahasa Depdikbud. Kamus bahasa Indonesia dalam jaringan atau online yang bisa diakses dengan mudah, berguna buatmu, juga buat pekerjaan menulismu. Bukankah aku pernah cerita, bagaimana Malcom X, mengisi hari-harinya dengan membaca kamus berulang kali ketika di penjara. Ini soal lain lagi, tentang dahsyatnya efek membaca, bahkan membaca kamus sekalipun. Nanti lain waktu aku cerita lagi ya.

Angan dalam KBBI itu bermakna pikiran, ingatan, maksud, niat. Angan-angan artinya lebih ke gambaran dalam ingatan, harapannya sendiri dalam ingatan, khayal. Arti lainnya, proses berpikir yang dipengaruhi oleh harapan-harapan terhadap kenyataan yang logis. Jadi jelas ya, tidak usah mengarang-ngarang kalau ragu, buka saja sumber nya. Makna yang berkeliaran di khalayak, bisa jadi benar, bisa jadi tidak, maka tugasmu sebagai anak yang baik, sekolahnya tinggi, cek dan cek lagi. Tidak butuh waktu banyak untuk sekadar menggerakkan jari-jari lentikmu untuk sebuah kebenaran yang baku.

Setelah tahu, silakan kembarakan anganmu…

foto-keluarga-taufan2

Seumurmu dulu aku juga pernah punya banyak angan-angan. Tentang apa saja. Seperti yang lain, karena aku tak juga memulai dengan angan-angan yang benar, aku pun pernah jatuh. Pernah sakit, pernah merasa bodoh, walaupun di kemudian hari menjadi bahan tertawaan yang renyah. Kita sering menertawakannya… Apa yang sangat serius di suatu masa, ternyata hanya pepesan kosong kebodohan di masa kini. Sebuah tragedi di hari lalu, bisa jadi sangat komedial di hari ini.

Inilah pesan pentingku untukmu tentang angan-angan.

Jangan terlalu serius berangan-angan. Karena setelah aku tahu, angan-angan itu dekat sekali dengan kemubaziran. Kamu tahu kan, mubazir bagi kita… sudah berbagai ruang, kita isi dengan pembicaraan ini. Terutama, kita akan kehilangan banyak sekali waktu. Kemudian kita juga kehilangan masa-masa untuk maksimal berbuat. Angan-angan mengikat erat tubuh untuk sulit bergerak. Mager, menurut bahasamu sekarang, males gerak. Angan-angan berlebihan juga bikin sakit, sering pusing, dan bikin kelakuan jadi gaje, gak jelas…

Makanya, kita buat angan-angan kita itu jadi harapan saja. Harapan itu kan lebih asyik, pangkatnya juga lebih tinggi dari angan-angan. Aku membuka KBBI V di smartphone, harapan bermakna sesuatu yang dapat diharapkan, keinginan supaya jadi kenyataan… Lebih menarik kan. Dan harapan itu lebih menarik lagi kalau kita cantelkan menjadi doa. Nah, di sini bedanya…

Angan-angan, sudahlah. Apalagi menghidup-hidupkan angan-angan. Buang waktu. Kita jadikan harapan saja, lalu kita lesatkan seperti anak panah dengan iringan doa. Satu harapan, sebanyak mungkin doa. Perihal harapan itu jadi kenyataan atau tidak, bukan hak kita lagi, tapi otoritas Tuhan yang tak bisa digugat. Kita merayunya cukup dengan menyerahkan seikhlas-ikhlasnya, sepasrah-pasrahnya. Silakan, mau dikabulkan sekarang, Alhamdulillah. Mau dilkan dengan cara yang lain, pasti rencana Allah lebih indah bagi hamba-Nya. Atau mau ditunda, disimpan untuk kebahagiaan yang lebih abadi, ya silakan.

Kamu tahu sayang…

Setiap orang yang berumah tangga berangan-angan, selain berkehidupan cukup, semua kebutuhan terpenuhi, juga berharap punya anak, punya keturunan. Tapi tidak semua orang bisa memiliki itu semua. Seperti aku, tidak berbeda angan-angannya dengan orang-orang itu. Kalau aku teruskan angan-angan itu, bisa stress dan kamu tak akan pernah menjumpai tawa berderai-derai dalam setiap perjumpaan kita. Aku hanya berharap, aku lampirkan banyak sekali doa. Tapi lagi-lagi, aku pasrahkan sepasrah-pasrahnya pada Allah. Terserah baiknya ya Allah…

Kamu tahu kan, aku selalu bilang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Demikian pula pertemuanku denganmu, anakku! “Anak perempuan yang cantik, pinter, patuh sama orang tua, dan ada nglawan-nglawannya dikit…” Itu harapan yang terus menerus kudesak-desakkan ke langit, kusorong-sorong dengan begitu banyak doa, tapi Allah berkehendak lain. Dia hadirkan dirimu, sebagai jawaban yang sangat indah tepat pada saat yang paling pas. Ketika satu persatu orang-orang di sekelilingku pergi, ibuku – eyang putrimu – kembali ke haribaan yang Maha Cinta, ketika keponakanku harus kembali ke pangkuan orangtuanya, ketika mereka juga harus pergi karena studi. Kamu datang sebagai hadiah yang indah.

Seperti orang-orang yang berbangga memasang foto keluarga di ruang tamunya. Aku pun pernah berangan-angan semacam itu. Ada kerinduan yang sesekali menggoda, lalu meminta ruang untuk angan tumbuh dengan kembang-kembangnya. Tapi ketika tahu pesan mulia itu, “Tak elok berpanjang angan,” maka aku ubah itu menjadi harapan. “Aku yakin, Allah Maha Canggih dengan segala kekuasaan-Nya.” Dan foto keluarga yang 15 tahun lebih kuharap-harap itu, ternyata menunggu kamu…

Iklan

2 tanggapan untuk “Foto Keluarga”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s