SENGGANG

{Film} Boven Digoel, Cerita Seorang Dokter


Boven Digoel adalah tempat entah berantah yang tidak terkonstruksi baik di benak saya. Seperti ketika saya bingung, di mana Pulau Buru yang terkenal dengan pembuangan para PKI 1965. Walau kemudian saya tahu, Boven Digoel adalah sebuah wilayah di Papua, tempat pembuangan para tokoh pergerakan di masa penjajahan Belanda. Bung Hatta, Syahrir, dan Mas Marco Kartodikromo adalah beberapa nama yang hits di ingatan saya. Sejak 2002, Boven Digoel sudah menjadi sebuah kabupaten, ibukotanya Tanah Merah. Dimana persisnya, dia berada di atas Merauke kalau di peta, persis berbatasan dengan Papua Nugini.

Bila sejarah memberitahukan Boven Digoel yang hutan lebat, banyak rawa-rawa, dan hanya bisa dijangkau dengan perahu melalui Sungai Digoel. Tempat ribuan orang ditawan Belanda, ratusan orang tawanannya mati karena kelaparan dan malaria. Perjalanan darat dari Merauke, kota terdekat berjarak 400 kilo lebih atau 10 jam perjalanan darat. Digoel tahun-tahun itu, dimana tawanan pemberontak PKI 1926 diasingkan. Kemudian tahun 1935 para pejuang pergerakan dibuang dengan kondisi alam dan infrastruktur yang minim. Ternyata…

poster-boven-digoel

Digoel tahun 1990an tidak terlalu jauh berbeda. Sarana kesehatan, puskesmas hanya ada di Tanah Merah, dengan hanya satu dokter dan beberapa tenaga medis. Wilayah pelayanannya luas tak terkira. Nyaris tidak ada dokter yang bertahan lama karena medan ‘pengabdiannya’ terlalu berat. Tidak hanya berhadapan dengan medan geografis yang masih banyak hutan, akses jalan darat nyaris tidak ada, dan tantangan berikutnya berhadapan dengan tradisi masyarakat yang kuat.

Film Boven Digoel menceritakan kisah pengabdian dokter muda yang mengabdikan dirinya bagi masyarakat di sana. Sebuah film biopic, diangkat dari buku Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digul, kisah nyata dokter John Manangsang. Seorang anak Papua yang sempat bercita-cita jadi pilot, anak keluarga miskin, ibunya single parent. Hidup dalam keterbatasan, namun John dan adik-adiknya dididik dengan nilai-nilai yang ketat dari ibunya. Christine Hakim, tak perlu lagi diragukan aktingnya. Keren banget dia.

“Hidup itu harus rajin berdoa, rajin bekerja, dan rajin belajar.”

John yang diperankan oleh Joshua Matulessy atau lebih dikenal dengan JFlow, penyanyi hiphop dan mantan rapper Saykoji, begitu semangat ingin mewujudkan cita-citanya menjadi pilot. Hingga ia ke Jakarta tanpa ada sanak saudara dan kerabat satu pun. Sebuah titik balik terjadi di sini. Ingatan-ingatan tentang kampungnya, kejadian memilukan tentang orang-orang yang kepayahan saat sakit, kematian yang dilihatnya.

Singkat cerita, ia menjadi dokter dan kembali ke tanah kelahirannya. Tugas pertamanya di Puskesmas Tanah Merah. Konflik dibangun perlahan, baik konflik pribadi, pengantin baru yang harus tinggal di daerah sulit dengan segala keterbatasan. Waktunya nyaris habis untuk melayani penduduk. Hingga benturan-benturan nilai, pengetahuan tentang kesehatan, dan tradisi yang masih tumbuh kuat.

Klimaknya adalah manakala ia melakukan operasi cesar. Dia harus melakukan dengan segala keterbatasan alat, ruang, dan berhadapan dengan banyak risiko. Termasuk risiko etika dan hukum. “Saya siap dengan segala risiko itu, termasuk bila saya harus di penjara.” Di sinilah puncak penonton diaduk-aduk emosinya.

Banyak talenta dari Papua di film yang disutradari FX Purnomo ini. Film pertama rumah produksi di Papua, Foromoko Matoa ini menghadirkan Edo Kondologit yang cukup menghibur perannya. Ada juga Maria Fransiska, finalis Putri Indonesia 2014 asal Papua, Ira Dimara, Juliana Rumbarar serta banyak talenta lainnya. Didukung orang-orang terbaik di dunia film, Jujur Prananto menulis skenarionya, Thoersy Argeswara mengawal ilustrasi musiknya.

Terlepas dari beberapa hal yang masih bisa dieksplorasi, film yang tayang mulai 9 Februari ini menyampaikan banyak pesan. Bukan semata-mata film biopic beratnya pengabdian dokter John Manangsang di pedalaman Boven Digoel. Bahkan kalau bisa peka, ini suara lantang dari timur. Suguhan panorama Papua cukup memikat, menghadirkan Indonesia yang lain. Menyampaikan pesan, Indonesia tidak hanya Jakarta. Film yang patut diapresiasi, tentu harus ditonton. Boven Digoel melayar lebar, tanpa bayang-bayang sejarah pembuangan, tapi masih sangat miris…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s