Story & History

Cara Mencintai


Beberapa hari itu, setiap berangkat kerja, saya menjumpai sesuatu yang menarik di Perempatan Ciledug. Bila lampu merah menyala, sekelompok orang akan memainkan calung. Seperangkat alat musik dari dari bambu, yang dimodifikasi sedemikian rupa, menjadi alat bunyi yang memiliki kemiripan dengan bebunyian pentatonik. Satu lagu dinyanyikan, menjelang hitung mundur di traffic light tinggal beberapa detik, seseorang menghampiri pengguna jalan, menadahkan tempat untuk tempat uang.

Begitu seringnya, saya merasa jatuh cinta. Hingga ketika mereka tidak ‘ngamen’ di perempatan saya sempat kehilangan. Pun saya merasa kalau perlu saya berada di posisi lampu merah ketika di perempatan itu. Sehingga bisa menikmati sajian yang menurut saya menggugah banyak hal dalam diri saya.

Maka, suatu kali…

Saya sengaja menghampiri mereka, bicara, ngobrol di antara lampu pengatur jalan berganti. Membawa dua bungkus rokok, beberapa minuman dan makanan kecil yang saya beli di warung waralaba dekat perempatan. Tempat saya sengaja memarkir kendaraan. Bingkisan kecil yang tidak seberapa itu disambut ucapan terima kasih yang tiada henti. Lalu mudah  bagi saya untuk menjadi jalan masuk berbicara banyak.

calung-1

Bukan hanya asal dari mana dan mengapa melakukan ‘ngamen’ seperti itu. Saya mendapat lebih banyak dari yang saya inginkan. Sekelompok orang ini mengamen ketika masa tanam sudah selesai, mereka semua adalah petani di Sidareja, salah satu kecamatan di Kabupaten Cilacap. Di antara mereka ada yang suami istri dan saling bersaudara. Walau pun ada yang tetangga, tapi ada tautan silsilah yang menaut ketika diceritakan.

“Kapan-kapan tek tanggap nang ngomahku ya…” saya menyampaikan keinginan untuk suatu hari kelak mengundang mereka ke rumah. Tentu setelah saya tahu banyak dari keterangan mereka. Bahwa mereka biasa diundang untuk mengisi acara, baik hajatan, peringatan acara tertentu. “Kula malah pun nate tampil teng kantor Indosat, Pak…” salah seorang yang dianggap tetua menegaskan portofolionya. Pernah tampil dan diundang  mengisi acara di Indosat.

Hingga tibalah hari itu, ketika saya harus menggelar acara ngunduh mantu. Saya tadinya berpikir biasa saja, syukuran mengundang tetangga dan kerabat dekat. Makan-makan, ketemu, senang, dan saya bisa tunjukan kalau Angga, keponakan saya sudah menikah. Itu intinya, tetapi kemudian kok mendadak konsleting otak saya. Kapan lagi saya menjamu tetamu sedemikian banyak seperti ini. Maka, saya mendadak sontak ingin menyajikan sesuatu yang beda.

Selain sajian makanan yang standar layaknya pesta, saya menyajikan masakan khas Banyumas. Nenek moyang, leluhur dan ibu saya orang  sana. Konsepnya tidak hanya menyajikan tapi atraktif sekaligus. Maka hadirlah ‘mendoan’ khas Banyumas yang digoreng dadakan, saya datangkan tukang mendoan dengan seperangkat alat penggorengannya. “Dari dulu otak lu ngaco…” kata teman saya. Saya juga hadirkan Sroto Sokaraja yang laris manis. Anggap saja, tamu yang datang sedang kulineran di Purwokerto atau di daerah Banyumas lah.

Nah, satu lagi… saya hadirkan kelompok calung yang biasa ‘ngamen’ di Perempatan Ciledug. Orang rumah tidak ada yang tahu, saya diam-diam saja mengundang mereka. Hanya meminta disisakan tempat, agar dikosongkan tanpa ada kursi atau properti apa-apa. Serta sebelumnya saya minta ke operator sound menyiapkan beberapa mikrofon. Harapan saya terkabul, saya bisa menghadirkan mereka dan menjadi kejutan bagi semua. Tetamu yang sudah hadir, pengantin yang sudah duduk di pelaminan, dan keluarga saya. “Apaan sih!” Dan saya juga dibuat terpana, mereka tampil tidak seperti biasanya, berseragam!

Niat membagi kebahagiaan tunai sudah…

Begitulah cara mencintai, memberi ruang, memberi kesempatan. “Nek teng Clacap, mampir Sidareja nggih Pak…” Mereka menawari saya, kalau ke Cilacap supaya mampir ke Sidareja, rumah mereka. Setelahnya, setiap kali saya bertemu mereka di perempatan, senyum dan sapa mereka seperti mengandung daya dan doa mengiring perjalanan saya. Keindahan cinta itu, sederhana tapi memikat…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s