Story & History

Mengembalikan Titipan


“Saya sempat shock berat sepeninggal ibu,” kata saya pada beberapa orang yang datang bertamu ke rumah pada sebuah perbincangan menjelang senja. Mereka menjawab wajar, bagaimana pun ibu adalah orang yang paling dekat, sumber cinta, kebahagiaan, dan ketenteraman. Ibu yang baik akan menjadi sumber kebahagiaan bagi anaknya, menjadikan rasa tenteram pada anaknya. Saya mengiyakan, tapi bukan itu yang membuat saya shock!

“Ature njenengan…” kata saya, “Menurut njenengan yang belajarnya sampai ke Al-Azhar, jauh di Kairo itu, semua yang ada, semua yang bersama kita ini kan titipan. Pasti diambil yang punya. Seperti ibu saya, pasti bakal diambil yang Maha Kuasa. Lha… saya ini kan juga titipan, Tadz! Titipan Allah kepada ibu saya…”

Tetamu saya sempat terdiam. Sampai saya melanjutkan, “Saya ini shock, karena saya harus meyakinkan diri, mendiang ibu saya cukup tegar dan percaya diri menghadap Allah mempertanggungjawabkan saya. Anaknya. Anak yang dititipkan kepadanya…” Suasana hening dan saya kembali tercekat, teringat hari-hari setelah keprgian ibu hampir lima tahun lalu. “Saya tahu diri Tadz… sulit rasanya, ibu saya bisa tegar, bisa gagah menyampaikan pertanggungjawaban ini.”

kh-zaenuddin-mz-titipan

Menjadi orang tua itu tidak asal menikah dan punya anak selesai. Maka disebutlah orang tua, entah mau memakai merek apa, ayah ibu, ayah bunda, abi umi, bapake mamake, dll. Ada tanggung jawabnya. Ada kewajiban yang otomatis menyerta, melekat, dan menempel sampai akhir hayat. Saya belajar dari tamu hari itu, bahwa beberapa kewajiban orang tua dalam Islam ya, memberi nama yang baik, mengajarkan Al-Quran, dan menikahkan bila telah dewasa. Saya tidak akan menjelaskan, saya tahu persis ukuran kedangkalan pengetahuan soal ini.

Tugas saya berat dan sudah sangat terlambat…

Memberi energi ketegapan kepada mendiang ibu saya. Bahwa anak yang dititipkan kepadanya, meskipun telah ditinggalkannya, masih berupaya mengembalikan ingatan-ingatan tentang apa dan bagaimana berhamba, bersikap sebagai manusia, berlaku sebagaimana tuntunan yang seharusnya. Berusaha bermanfaat bagi sebanyak-banyak manusia, baik dengan dirinya, waktunya, serta apa yang ada padanya.

Teringat saya pada ceramah almarhum KH Zaenuddin MZ. Kiai Sejuta Umat itu dengan gamblang dan jelas menyampaikan tentang bahaya rasa memiliki dan lupa pada rasa dititipi. Bila sudah merasa memiliki, maka akan tumbuh rasa takut dalam dirinya. Kalau merasa harta yang dimiliki, ketakutan itu berujud takut dirampok, takut dicuri, takut dirampas, dll. Kalau jabatan apalagi kekuasaan yang dimiliki, takutlah ia pada kehilangan jabatan dan pengaruhnya, takut dijatuhkan, takut makar, dll. Efek lainnya, kata Kiai yang kondang banget dan sempat saya koleksi kaset ceramahnya itu, rasa memiliki mendorong sebagian orang menjadi sombong dan takabur.

Maka cerita tentang tukang parkir menjadi tepat dalam konteks ini. Tukang parkir mobilnya banyak, mereknya macem-macem, harganya dari yang ratusan juta sampai milyaran ada, tapi dia tidak sombong. Dia hanya hanya dititipi. Sok kalau mau diambil, mau disombongkan apanya kalau bukan miliknya. Bagi tukang parkir satu prinsipnya, dia dititipi, maka dijaga dengan baik barang titipannya. Ketika waktunya yang punya mengambil, semua dalam keadaan baik seperti semula dan seperti maksud empunya mobil menitipkannya. Soal reward… ya tergantung bagaimana menjaga titipan itu kan.

Sampai hari ini, saya masih lemah daya, tersuruk-suruk, dan naik turun ghirahnya untuk membangun kekuatan diri, bahwa titipan ini harus kembali sesuai harapan. Saya tentu tidak ingin, almarhum ibunda saya harus menanggung beban berat, memberikan laporan pertanggungjawaban anak yang dititipkan kepadanya.

“Ini sebab, mengapa rumah ini harus bermanfaat buat orang banyak…” kata saya kepada sang tamu tanpa dia bertanya, “Saya harus bertanggungjawab, rumah yang dititipkan itu apa gunanya, apa manfaatnya… Kalau bisa, manfaat itu menembus hingga menjadi tenaga buat ibu saya, menjadi daya untuk gagah di hadapan-Nya…”

Iklan

2 tanggapan untuk “Mengembalikan Titipan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s