Story & History

Malaikat Mamat


Malam itu saya kedatangan sahabat. Nama sebenarnya Muhammad Sahuri. Tapi sejak saya mengenalnya puluhan tahun silam, saya memanggil Mamat. Keponakan saya menyapa ‘Bang Mamat’, istri saya menyebutnya dengan ‘Pak Mamat’. Kok bisa beda-beda, ya tidak apa, kan memang mereka mengenal dalam waktu dan konteks yang berbeda pula. Walaupun satu hakikatnya, Mamat itu penting dan selalu ada untuk saya dan keluarga.

Sudah lama saya tidak bertemu…

Katanya beberapa kali dia datang ke rumah, saya tidak ada. Sempat datang dengan anak dan istrinya, tapi papasan di jalan. Dia melihat saya, tapi saya tidak. Mungkin saya harus terburu untuk tujuan dan keperluan tertentu. Maka untuk kesekian kali saya kembali tidak bertemu. Dia jarang bertelepon, tetapi tahu-tahu datang saja. Dulu sewaktu saya masih jadi biker, dialah yang datang mengingatkan saya untuk service motor, ganti oli, atau apalah. Kadang datang sudah membawa oli dan seperangkat alat bengkel tanpa saya minta. Nyaris semua sepeda motor di rumah, didokterin sama Mamat.

Mamat dan saya kenal ketika sama-sama masih bujangan. Bertemu di tempat yang baik, majelis anak-anak muda yang belajar agama. Mamat membaca Al-Qurannya bagus, tadjwidnya benar, dan saya senang belajar padanya. Dia memanggil saya, Mas, walaupun tahun kelahirannya tidak jauh beda. Saya juga baru tahu setelah terlanjur ‘njangkar’ memanggil dengan nama panggilan itu.

Dia datang dari Brebes. Seperti pemuda lainnya, merantau ke Jakarta, takdir rezekinya di Tangerang. Memulai semuanya dari nol. Ketika bertemu dengan saya, dia menjadi salah satu mekanik bengkel sepeda motor di Ciledug. Kariernya membengkelnya, hampir semua bengkel di daerah Pojok, Ciledug pernah menjadi tempat kerjanya. Hingga, sekarang dia mampu berdikari membuka bengkel bersama adiknya di sekitar Joglo.

Mamat sering sekali datang pada saat saya butuh teman.

Karena buat saya, diamnya saja menemani. Apalagi ceritanya. Kini saya lebih sering mendengar ceritanya. Semakin berisi dan semakin berwawasan. Pergaulannya sudah meluas, dia mengikuti banyak taklim dan pengajian, rajin bergaul di lingkungannya, bahkan menurut penuturannya, dia juga dicalonkan jadi ketua erwe tapi ditolaknya. Sejak menikah, dia sangat bertanggungjawab pada keluarganya. Kerja keras hingga membangun rumah untuk anak dan istrinya. Entah kenapa, beberapa ornamen rumahnya kok mirip rumah saya ya… mungkin kebetulan pikir saya, sampai akhirnya saya mendengar pengakuannya, “Dulu waktu bikin rumah, saya pengin banget kaya rumah Mas, tapi nggak mungkin segede rumah Mas lah…” Hadeuuh…

Malam itu, saya seperti kedatangan malaikat. Omongan Mamat menampar-nampar saya. Terutama ketika sampai pada bab ‘urip sing penting berkah’. “Hidup itu yang penting kan berkah, Mas… kerja banting tulang nggak ngerti waktu, capek setengah mati, tapi nggak berkah juga buat apa. Malah musibah beruntun, ya istri sakit, anak nggak keurus, rumah tangga ruwet. Buat apa, mending sedikit tapi berkah.” Saya menimpali, “Syukur-syukur, dapat banyak berkah ya Mat…”

Kuliah tentang keberkahan saya nikmati sambil ngeteh dan makan cemilan di teras. Mamat tentu tidak sedang menceramahi saya. Kedatangannya semata karena kangen lama tidak bertemu, kerinduannya untuk silaturahim semata. Tapi saya yakin, langkah Mamat tak mungkin tanpa izin sang Ilahi, menjumpai saya untuk menyampaikan banyak pesan.

Pertama, agar saya terus berendah hati. Belajarlah dari siapa saja, jangan lihat siapa yang bicara, tapi dengarkan isinya. Jangan merendahkan siapa pun, karena meninggikan diri sendiri sejatinya sedang menuju kejatuhan. Menganggap diri sendiri lebih dari orang lain, maka tanpa sadar sedang menunjukkan betapa tiada apa-apanya kita. Malam itu, omongan Mamat ibarat biji padi yang bernas, siap tetas menjadi beras yang pulen, wangi dan lembut. Saya harus mengolahnya sendiri, agar menjadi nasi yang penuh gizi dan menjadi energi yang diberkahi.

Kedua, saya diingatkan untuk lebih semangat menuntut ilmu. Jangan puas dengan yang sudah dimiliki. Dan ilmu ada di mana saja kita berada. Tak semata ayat qauliyah, tapi bertebaran ayat kauniyah-Nya. Ketiga, Mamat adalah malaikat yang dihadirkan menghibur saya, mengabarkan tentang harapan-harapan. Termasuk jangan pernah berputus asa dari berharap pada Tuhan.

“Mamat seperti malaikat, omongannya dahsyat…” kata saya pada istri ketika Mamat sudah kembali. Istri saya mengangguk ketika saya ceritai apa yang saya dapat dari Mamat. Lelaki sederhana yang liat. Yang selalu saya ingat, dia selalu datang di waktu yang tepat. Seperti malam itu, dia datang saat saya butuh banyak pengingat…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s