Story & History

Mengiring Kebahagiaan Dina


Dina itu istimewa buat saya, salah satu aktivis di Fun Institute sejak awal mula. Saya mengenal dan bekerja sama dengannya jauh sebelum Fun Institute ada. Terlalu sering  saya dan dia berdiskusi, dari yang serius hingga bercanda untuk hal trivial belaka. Bekerja sama dalam berbagai kegiatan, bersama-sama dalam banyak perjalanan, serta terlibat banyak interaksi berpuluh hajat bersama. Maka, kedekatan emosi antara saya berada di kedudukan yang paling enak, sahabat sehati.

dina-resepsi

Itu sebab mengapa saya mau saja jadi among tamu, memakai beskap dan berkain sepanjang pesta pernikahannya, Ahad 29 Januari 2017 di Aula Masjid Assahara, Kantor Walikota Jakarta Barat. Saya mau lakukan, sekali lagi karena saya merasa ikut berbahagia merasa lega pada akhirnya, setelah turut dalam berseri-seri cerita yang panjang bersama Dina. Saya membanggakannya telah melewati ini semua, hal terberat baginya bukanlah soal sesegera mungkin menyelesaikan disertasi doktoralnya. Tapi membangun keyakinan, membuktikan proses yang sungguh-sungguh, selalu akan menemukan hasil yang setimpal. Kerja keras tidak akan pernah salah alamat dengan hasilnya.

“Salah satu harus diselesaikan, disertasi atau nikah…”

Tetapi memilih bukanlah hal yang mudah. Harus ada tarikan langit, bukan semata-mata feeling. Saya hanya membantunya, meletakkan pilihan itu di atas meja. Menjelaskan beberapa alasan logisnya dan efek dari pilihan itu. Selebihnya, Dina dengan segala kerendahan hatinya, menyangkutkan kepasrahan kepada zat ilahiyah yang menguasai kejernihan samudera cinta-Nya.

Pilihan yang sulit, tetapi Allah memberi kelapangan jalan. Jalan jodoh yang tidak bisa digambar oleh manusia. Tak bisa direkayasa walau dengan teknologi tercanggih dan strategi terbaik sekalipun. Tak terhitung bulan untuk terus mengawal niatnya, tak terbilang bincang panjang untuk terus menjaga niatnya. “Niat kan ada di mula, di awal… tapi juga harus dijaga hingga pertengahannya, agar niat tetap tegap dan tak beralih jalurnya…” kata saya, tentu saya mengutip omongan orang-orang shaleh di masa lalu, mana mungkin saya bisa sebijak dan sedalam itu. “Termasuk di ujungnya… Ketika kesampaian, masih sesuaikah dengan niat di awal dulu.”

Tugas saya sebagai sahabat Dina sangatlah sederhana. Memberikan harapan dan menguatkan hatinya. Memberi harapan, bukanlah harapan yang membual-bual, tidak terjangkau, di luar nalar, dan jauh dari gerak pencapaian. Tidak ingin Dina terjebak dalam buaian layaknya para makelar yang sering memberikan brosur yang tidak seindah aslinya. Hari ini banyak orang putus harapan, pesimis, termasuk pada hal yang sangat privat dan langsung terhubung pada tali ilahiyah.

Banyak orang yang patah hati, galau menahun sampai lupa kalau jerat dan simpul kesedihannya sudah lepas. Pengganti yang lebih baik sudah datang, namun akhirnya  terlewat karena sibuk dengan ‘membingkai kenangan’ dan ‘memelihara rasa’ yang seharusnya sudah selesai. Tutup buku, ganti judul baru. Selalu ada yang seru dengan perjalanan yang baru, tentu dengan bekal kehati-hatian dengan pengalaman di masa lalu.

Bagi saya, senang saja menemani proses mewujudkan harapan itu. Dari mulai memetakan semua kemungkinan, hingga keberanian menyemai, menyirami, mencabut hama dan menggunting pengerat yang mengganggu. Sebagaimana yang Dina lakukan, sebagaimana saya harus berlaku di fase berikutnya, tugas untuk menguatkan hatinya. Ketika pilihan sudah dijatuhkan, ketika proses sudah berlangsung, mustahil semua akan berjalan mulus bak jalan tol. Tidak semua proses menyenangkan, bukankah saat belum menjadi kupu-kupu, ada fase ulat yang menjijikan, menyebalkan dan mengganggu?

Proses tidak bisa dilompati, hanya bisa dijalani. Dina sudah menjalani semua proses dan menggapai titik terbaiknya. Saat tangan calon pengantin pria bertaut erat dengan tangan walinya, saya yang berada di dekatnya menahan sekuat-kuatnya keharuan agar tak beranak air mata. Dengan nada tertata ketukan dan iramanya, sang wali mengucapkan ijab dan bersahut qabul yang tenang tapi lantang dan lancar calon pengantin pria. Seketika doa meluap-luap diaminkan beribu malaikat. Saya berdoa, Dina dan Ali pernikahan dilimpahi keberkahan. Dan seperti saya pesan, “Kita nikah untuk saling membahagiakan, bahagia bareng-bareng, bukan untuk berantem…”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s