FUN Institute

Fun Institute Berbagi Buku


berbagi buku

“Apa yang bisa aja,” kata saya setiap kali ada pertanyaan dari istri, “Kita bantu apa?” Bantuan itu tidak melulu uang. Cukuplah dengan apa yang kita bisa, saat itu. Bisa hanya sekadar cerita kecil, juga sedikit barang yang mungkin lebih bermanfaat. Seperti ketika istri saya bingung mau nambahin buku apa lagi untuk paket bantuan buku yang akan disumbangkan.

Bukan karena kami berkelebihan, bukan. Hanya kebiasaan sederhana dan kecil saja sebenarnya. Setiap kali perjalanan ke luar kota, kami selalu bawa buku-buku, terutama buku anak-anak untuk dititipkan pada taman baca atau rumah baca. Kebiasaan yang rupanya belakangan ini turut menyentuh simpati beberapa teman untuk turut menitipkan, ya titip buku, titip salam, titip kebahagiaan bisa berbagi.

Nah kali ini… saya tidak punya lagi stok buku anak. Biasanya, istri saya selalu memiliki banyak cadangan buku anak. Karena selain buku yang ditulisnya sendiri, ada kebiasaan lain, setiap belanja buku selalu ‘nyawel’ atau menyertakan beli buku-buku anak. Ndilalah, kok ya habis ketika saya dan istri mau jalan ke luar kota. Mau tidak mau, saya melakukan sebuah pekerjaan berat yang tak pernah saya lakukan. ‘Memutar otak’. Lha, saya sendiri merasa tidak punya otak, bagaimana harus memutarnya… Walhasil, saya tidak perlu memutarnya, rupanya bukan saya tidak punya otak, tetapi otak saya ada, hanya saja jarang eh malah tidak pernah dipakai.

Namanya juga tidak pernah dipakai mikir, maka hasilnya ya tidak menarik. “Kita kumpulin aja naskah lama, nanti kita bukuin…” ujar saya pada istri. “Bisa cepet?” dia agak ragu. Saya tidak perlu menjawab. Bisa cepet itu bukan pertanyaan menurut saya. Tapi jawaban untuk segera dikerjakan. Terjadilah pembagian tugas, dia mengumpulkan naskah cerita anak yang pernah dimuat di Majalah Bobo. Baik tulisannya maupun tulisan saya. Tugas berikutnya, ya pekerjaan saya…

Jadilah buku kumpulan cerita anak!

‘Hilangnya Kalung Mutiara’, begitu judulnya. Kami sepakat mengambil salah satu judul dari 20 cerita anak yang terhimpun di buku itu. Sebenarnya yang terkumpul lebih dari angka itu. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, maka cukuplah 20 cerita itu secara khusus kami persembahkan untuk sahabat kecil kami entah di mana berada. Dengan kerja serba cepat, proses pracetak yang kilat, tidak banyak pula yang bisa kami cetak, tapi cukup untuk bekal perjalanan yang waktu itu sudah kian mendekat.

Membuncah rasa bahagia, manakala buku kumpulan cerita anak ‘Hilangnya Kalung Mutiara’ berada bersama buku-buku lain yang hendak menjumpai pembacanya. Terbayang wajah-wajah ceria dan bahagia itu. Seperti ketika saya menyaksikan sendiri, serombongan anak-anak sepulang sekolah mampir di sebuah rumah baca. Sebuah rumah yang alamatnya tak berplang nama jalan, tidak ada kendaraan angkutan, tidak dilalui banyak kendaraan.

“Kiyeh, ana buku anyar,” ujar sang pengelola rumah baca. “Ini, ada buku baru…” ujaran yang disambut celoteh suka cita dan mata yang berbinar menonjok muka saya. Basah mata saya melihat itu semua, meski saya punya alasan izin ke belakang pada empunya rumah untuk sekadar mengusap keharuan yang merekahkan air di mata saya. Syukur dan hanya bersyukur saja adanya…

berikan-sebisanya-era

Berbagi itu sederhana sekali. Bahagia itu dekat sekali.

Tidak sebanding rasa bahagia yang saya dapati dari sedikit sekali yang diberikan. Dialirkan banyak sekali kebahagiaan, bermula naskah yang bertahun-tahun bisu dan nyaris terlupa di folder komputer. Ternyata mampu membenih senyum, menumbuhkan wajah suka cita, dan membuah cinta. Sekali lagi, saya belajar dan berharap terus belajar tentang makna betapa sederhananya cinta, juga indahnya berbagi.

Berharap, selalu ada kesempatan itu datang. Berbagi selagi bisa…

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s