Story & History

Ada Cinta pada Jelita


Kalau ada kesempatan, duduk bersila di sebuah ruang, ditemani kopi dan jajanan pasar, lalu pemandangannya hamparan sawah yang tanamannya sedang hijau menghampar, nun jauh tampak pepohonan berbaris, jalan yang sesekali tampak melintas orang bersepeda, bersepeda motor atau sesekali kendaraan roda empat. Sesekali saja melintasnya, menghidupkan pemandangan yang melatarinya. Bukit dengan deretan pepohonan yang menghijau, indah…

“Kalau dekat, saya bakal sering nongkrong di sini…”

“Iya, enak banget, di tepi sawah gini…”

Sayang saya tidak sempat memotretnya. Atau mungkin terlalu bahagia hingga lupa mengambil gambarnya. Bisa jadi, itu alasan untuk mengembalikan langkah saya ke sana pada suatu ketika nanti. Ya, mungkin saja. Tapi saya memang jatuh cinta pada tempat itu.

jelita-web

Pemandangan yang penuh pesona itu, adalah bagian dari sudut TBM Jelita yang saya dan istri kunjungi. Taman Bacaan Masyarakat di Desa Kebokura, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas ini dikelola oleh seorang ibu rumah tangga yang memiliki kecintaan pada dunia literasi. Bukti cintanya, tidak saja dengan mengambil pendidikan strata satunya di jurusan perpustakaan, tetapi dia merelakan separuh rumahnya untuk menjadi ruang literasi bagi warga sekitarnya.

Namanya Any Anggorowati, maaf kalau saya salah menuliskan namanya. Seorang perempuan yang sangat mencintai buku. Selama sepuluh tahun bergelut dengan buku di sebuah perpustakaan sekolah, ya sebagai tenaga honorer yang tidak perlu saya sebut berapa besar honornya. Seperti orang-orang yang saya temui, hampir sama ceritanya, “Orang-orang nggak suka baca buku…”

Beruntunglah ada banyak orang yang seperti Mbak Ani, begitu saya menyapanya. Orang yang kecintaannya pada buku, kepeduliannya kepada masa depan peradaban bangsanya. Tidak punya lelah dalam kesepiannya di dunia yang tidak seksi, tidak gemebyar. Tidak mudah putus asa untuk terus membenih dan menyemai asa, bahwa masih ada harapan di masa depan dengan rumah baca yang didirikannya. Griya Baca Jelita…

Setiap perjalanan agak jauh dari rumah, saya dan istri berusaha sebisanya menyapa teman-teman semacam Mbak Ani. Mereka ada dibanyak tempat. Tidak banyak yang saya dan istri bawa, hanya membawa beberapa buku. Saya tahu, akses untuk menambah buku baru tidak semudah di kota. Maka, sebisanya, seadanya, saya dan istri bagikan yang  segitu-gitunya itu. Alhamdulillah, belakangan keisengan saya dan istri diapresiasi beberapa teman. Ada di antara mereka yang akhirnya ikut ‘titip’ membagikan buku. Salah satunya, teman-teman alumni istri saya dari SMAN Banyumas. “Teman-teman alumni SMABA 91… sudah saya sampaikan titipannya, terima kasih dan teriring sepaket salam dan doa dari Mbak Ani dan keluarga. Doanya sangat indah, moga-moga Allah ijabah.”

Niat sebentar, hanya sekadar mampir… Suasana TBM Jelita membuat saya dan istri betah berlama-lama. Selalu ada cerita yang heroik dari relawan literasi di mana pun, untuk bisa bertahan, tidak mudah. Tantangannya bukan minat baca yang rendah, tapi ada yang menganggap bahwa membaca itu harus bayar! “Tinggal baca lho, makanya sampai saya tulis di spanduk, gratis…” kata Mbak Ani yang didampingi Mas Lanang Bandara, suaminya yang guru sekaligus pemilik organ tunggal yang cukup dikenal di kawasan itu.

Selalu ada rasa campur aduk, dari yang heroik, tragik, hingga komedik dalam mengelola taman baca. Tetapi selalu ada ujung, selalu ada panggung, bagi orang-orang yang terus berusaha, berjuang, dan berupaya meski menghadapi rintangan yang rupa-rupa. “Alhamdulillah, kemarin dapat sumbangan dari dinas, nilainya lumayan dalam bentuk buku…” ujar Mbak Ani dengan mata berbinar. Menyiratkan kebahagiaan, sekaligus mengabarkan ada harapan dari impian yang terus diupayakannya.

Perjalanan saya kali ini, menyesap banyak pelajaran penting. Perjalanan yang menjaga saya untuk tetap jadi manusia, agar tetap rendah hati, karena “yang lu lakuin belum apa-apa Fan!” Di Griya Baca Jelita nun jauh di Sumpiuh, Banyumas sana, bersama kisah Mbak Ani, saya merasakan sekali, betapa sebuah cinta telah terpatri dan terus di uri-uri pada dunia literasi.  Insya Allah saya kembali ke tempat ini suatu kali nanti…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s