SENGGANG

Senja di Tepian Cisadane


Eksplorasi Pasar Lama Kota Tangerang itu banyak sekali bab-nya. Tidak semata tentang pecinan yang memang mengakar kuat. Sejarah dan keberadaannya bisa digali pada sebuah bangunan di tengah pasar, tapi bukan sembarang bangunan. Di Jalan Cilame, Pasar Lama Kota Tangerang, yang bila pagi penuh dengan pedagang sayuran. Ada sebuah destinasi penting, sebuah museum! Ya, Museum Benteng Heritage.

Saya pernah menuliskannya, bahkan saya pernah mengikutkan sebuah artikel tentang museum ini dan memenanginya dengan hadiah yang unik, sepasang sepatu. Mungkin simbol kalau saya semakin tua, tetaplah jalan-jalan, tapi pakailah sepatu, jangan sendalan melulu. Bagus juga pesannya… tentu ada hadiah lainnya, bukan cuma sepasang sepatu ya.

Cerita tentang Museum Benteng Heritage, mudah sekali dicari di internet. Sudah banyak yang menuliskannya. Keunikannya, selain berada di tengah pasar, juga banyak keunikan lain, seperti bangunan yang berusia ratusan tahun tapi tetap kokoh dan dipertahankan sesuai aslinya. Silakan kunjungi saja, buka setiap hari, kecuali Senin tutup, jam 10.00-17.00, tiketnya sekarang 25 ribu per orang. Kalau naik kereta commuter, cukup turun di Stasiun Tangerang. Kalau bawa kendaraan sendiri, bisa parkir di Jalan Kalipasir, tepian Cisadane.

Nah sepanjang tepian Cisadane itu juga surganya kuliner. Ada yang baru di tepi kali yang dulu juga punya sejarah panjang. Pemerintah Kota Tangerang semakin mempercantik dengan banyak fasilitas. Baik jogging track, hingga Flying Deck Cisadane. Datanglah agak sore, banyak anak-anak bermain sepatu roda di lintasan jembatan layang Cisadane yang panjangnya sekitar 100 meter itu. Ada banyak pasang muda-mudi selfie, atau seperti saya yang hanya iseng belaka menikmati senja di tepi Cisadane.

Menyenangkan lah… semakin banyak spot foto buat yang narsis-narsis. Semakin ketahuan juga bahwa ada ikthiar sungguh-sungguh dari pihak berwenang untuk mengkhidmati sungai. Sejarah berawal dari sungai… Memelihara, mempercantik, dan menjaganya adalah bagian dari memuliakan sejarah, memuliakan peradaban, memuliakan sumber kehidupan. Pilihan tidak membeton bantaran sungai juga sebuah pilihan yang cerdas, karena sejauh-jauh air mengalir ke laut, tetap saja, tanah dan air adalah satu kesatuan. Ada tanah air, ada air tanah, ada tanah ari-ari…

Tidak perlu dijelaskan lah…

Saya hanya merasa senang saja, bisa menikmati senja di bantaran sungai yang umurnya sangat purba. Telah mengantarkan banyak peristiwa penting yang sering lenyap, sering senyap, sepi dan bisu seperti arus yang membawanya ke laut. Berfotolah di taman Flying Deck… lalu berjalan-jalanlah menikmati Cisadane. Bila sampai ujung, turunlah dari tangga. Di seberang jalan, berderet pilihan kuliner yang asyik. Tinggal pilih…

Kemarin saya memilih masuk ke Terminal Café, persis di seberang tangga flying deck. Bersebelahan dengan Cokelat Café. Nuansa hitam putih langsung menyapa, tempatnya luas, dan pilihan menunya banyak. Bersih hingga ke toiletnya… Maklumlah, orang menjelang tua seperti saya mulai sering mampir ke tempat bertoilet. Di Terminal Cafe yang ternyata baru buka itu… saya menikmati suasana seperti zaman muda. Teringat ketika pertama kali menikmati senja di sebuah tempat di waktu yang telah berlalu lama nun jauh di sana.

“Murah, terjangkau banyak kalangan lah…” kata perempuan yang menemani perjalanan saya sore itu. Saya sebenarnya ingin mencoba banyak menu lainnya, tapi apa daya, dua menu yang saya pesan dan minuman mineral sudah cukup membuat perut kenyang. Mengusaikan makan, seorang perempuan muda cantik menghampiri, “Silakan mencoba,” dia menawarkan cokelat dalam sebuah gelas kecil. “Ini minuman andalan kami…” katanya seraya terseyum ramah.

Senja semakin sempurna di tepi Cisadane…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s