Story & History

Anak Cucu Nyai Subang


“Njenengan ini muda, tapi soal selera dan pengetahuan kok ngalahin saya ya…” kata seorang yang sejak berangkat hanya menyimak saja. Saya hanya tersenyum sambil berjalan beriring menuju mobil. “Dia kerjaannya makan, Pak…” sahut istri saya. Bapak berambut perak, mirip Hatta Rajasa tersenyum.

“Saya baru pertama lho makan nasi tutug oncom…” katanya tersipu.             “Sementara, njenengan sudah ke mana-mana ya…”

“Sepanjang boulevard Graha Raya sudah selesai Pak, karena istri saya jarang masak, jadi kita nyari makan malam yang dekat dan gampang. Dari ujung ke ujung, tinggal giliran hari sama lagi maunya apa…” saya menjelaskan, Graha Raya itu perumahan di Tangerang, dekat rumah saya, dekat BSD, dekat juga dengan Alam Sutera.

Perjalanan berlanjut setelah beres urusan ini itu para ibu. Seperti baru di-cas baterainya, riuh saling bercerita antarmereka. Semua bicara, entah siapa yang mendengarkan. Saya hanya sesekali menyela, selebihnya saya diam sambil menikmati pemandangan sepanjang perjalanan yang indah luar biasa. Ini bukan kali pertama saya melewati rute ini, beberapa kali, tak terhitung, tapi ada yang istimewa. Kenangan bersama mendiang ibunda saya. Yah, sudahlah. Terlalu indah dilupakan, terlalu indah dikenangkan…

“Mas, dilanjut dong cerita Nyai Subang Larang…” pinta sebelah saya. Istri saya menimpali, ditambahi sama bapak berambut perak paling ujung.

“Sebenarnya sumbernya banyak, cuma orang malas cari tahu, males baca. Prabu Siliwangi dulu mudanya bernama Pamanah Rasa. Banyak orang tidak tahu juga, Prabu Siliwangi juga menjadi salah satu penyumbang kewalian, cucunya adalah wali terkenal…”

“Wali sanga, Mas?” – “Masak sih, baru tahu saya…” – “Emang iya, Mas?” itu tanggapan mereka. Silakan tebak mana orangnya, paling gampang ditandain pasti ungkapan istri saya ya…

“Walang Sungsang setelah pulang haji berganti nama menjadi Muhammad Abdullah Iman. Berguru kepada Syekh Kahfi, Walang Sungsang atau Abdullah Iman diberi nama menjadi Ki Samadullah tinggal di Kebon Pasisir. Menikah dengan Nyai Kencana Larang. Memohon izin sama Siliwangi untuk mengelola tempat bernama Lemah Wungkuk, dan berkembang menjadi Caruban Larang. Walang Sungsang berganti nama menjadi Ki Cakrabumi atau Pangeran Cakrabuwana. Asal muasal penguasa Cirebon.”

“Oh gitu…”

“Walaupun banyak cerita tentang nama Cirebon, tapi secara bahasa kan nggak jauh dari Caruban. Coba diucap cepat berulang…” saya bercanda mengerjai orang tua, moga-moga nggak kualat ya.

“Iya, ya… kiran dari Ci dan rebon, kota udang…” saya tidak membantah pendapat ini. Karena banyak versi tentang nama kota ini. Yang penting buat saya adalah memberi mereka pengetahuan dan kesadaran bahwa Islam tumbuh jauh melampaui batas ingatan sejarah mereka.

“Nah, Rara Santang, adik Walang Sungsang yang diperistri Syarif Abdullah atau Maulana Sultan Mahmud sewaktu haji, berganti nama menjadi Syarifah Mudaim. Mereka menetap di Mesir selama 20 tahun. Mereka mempunyai anak bernama Syarif Hidayatullah yang kemudian pulang ke Nusantara, ke tanah leluhur kakek nenek dan ibunya. Syarif Hidayatullah ini yang nanti disebut dengan Sunan Gunung Jati…”

Hening! Entah memakna, kaget, baru tahu, atau memang tidak paham…

“Berarti Syarif Hidayatullah itu cucunya Prabu Siliwangi ya? Anaknya Rara Santang, anak perempuan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang?” bapak sebelah saya agak ambigu, antara bertanya, meyakinkan atau menyimpulkan.

“Iya, kenapa dia ke Cirebon, karena ada uwaknya di sana, Pangeran Cakrabuwana alias Walang Sungsang, Muhammad Abdullah Iman, Ki Samadullah, dan Ki Cakrabuwana. Namanya banyak orang dulu itu.”

“Iya, ya, suka bikin bingung… namanya ganti-ganti,” kata istri saya. “Kalau sekarang banyak nama biasanya karena banyak utang…”

“Nama ganti biasanya karena periodenya berganti, ada nama anak-anak, remaja, nama tua, dan nama gelar. Keberhasilan Walang Sungsang mengembangkan Cirebon Larang akhirnya diakui Siliwangi dan diberi gelar Sri Mangana. Di sini juga terjadi proses islamisasi berikutnya, adik Walang Sungsang paling kecil, Raja Segara yang diutus untuk menyerahkan panji-panji kerajaan kepada kakaknya, akhirnya memeluk islam, naik haji, dan dikenal sebagai Syekh Sunan Rochmat Suci alias Kian Santang…”

“Hah, Kian Santang?” Belum selesai wajah-wajah kaget serta keingintahuan lebih lanjut mereka, mobil terasa memasuki sebuah destinasi wisata di Lembang. Orang-orang ini tahunya ke Lembang saja, dan akhirnya menjadi kesempatan buat saya dan istri ketika ditanya, enaknya ke mana kalau ke Lembang, istri menjawab Farm House! “Biar kita bisa foto-foto kayak di luar negeri Tante,” kata istri saya. Bungkuuussss! Ajib dah…

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s