Sudut Pandang

Belajar dari Sumbernya


“Belajarlah dari sumbernya,” itu salah satu pesan mendiang ibunda saya. Singkat dan sederhana, seperti pemilik pesannya. Tetapi berkali-kali harus dikunyah hingga lumat di otak dungu saya. Waktu itu, konteksnya adalah banyaknya kasus kriminalitas, karena penyimpangan pemikiran, kesesatan aliran, dan kesalahpahaman yang membuat orang berpikir dangkal serta berbuat bodoh.

Belakangan baru saya paham…

“Orang yang belajar Islam ya cari sumber-sumber langsungnya. Di Mekkah, di Madinah, Universitas Al-Azhar Kairo, atau tempat-tempat yang pasti. Bisa ke pesantren-pesantren yang terpercaya atau mualimin mualimat lainnya, datang ke kiai yang bener, bukan ustadz karbitan atau malah ke kiai yang bentuknya kerbau dan keris,” kata teman saya, lulusan pesantren ternama di Jawa Timur. “Kalau mencari sesuatu bukan ke sumbernya, ya blaik… pulang edan!”

“Kok bisa edan!” saya agak terkejut dengan gaya bercandanya.

“Sampeyan pengin bisa nyetir, ya sekolah nyetir, bukan pergi ke bengkel! Bener, di bengkel itu ada mobil, tapi mobil rusak, buat dibenerin… bukan buat belajar nyetir. Ada ilmunya, tapi bukan itu sumbernya. Paham ndak…”

Saya menggeleng pelan, paham sedikit, maksudnya biar dia bikin analogi lain biar saya semakin mengerti. “Durung paham sampeyan…” tanyanya sambil tersenyum, “Ternyata bener, otake sampeyan rada cupet!” Derai tawanya mengalir setelah bilang kalau otak saya cupet.

“Sampeyan seneng membaca kan ya… ada beberapa teori tentang masuknya Islam ke nusantara, ada banyak teori juga tentang perkembangan Islam di nusantara. Ada yang berdebat soal tahun, ada yang berbeda soal siapa yang memulai. Pada berkelahi duluan mana, terus berantem Mojopahit iku rajane islam opo dudu. Prabu Siliwangi itu islam opo dudu yo kerah… Wis, jor! Sekarang gampangnya, Rasulullah wong ngendi? Kanca bolone wong ngendi?”

Saya mulai paham dengan gaya melotot-melototnya si teman ini. Dia mau menunjukkan sumber Islam itu siapa dan di mana. “Sahabat itu punya murid, muridnya punya teman, punya murid lagi, terus begitu… semua nyebar sak luasnya bumi. Ada yang sampai di Pasai, Malaka, dan banyak tempat lainnya di nusantara. Makanya kalau belajar sing tutug, yang tuntas. Jangan baru judulnya sudah berisik, baru baca bab satu sudah teriak-teriak, bab dua setengah halaman sudah merasa benar, uwalah kasihan amat orang tuamu nyekolahke! Bodomu ra mari-mari, bodohmu nggak berkurang!”

Dia menyebut juga, bukankah dalam dunia akademis, sumber primer itu juga punya nilai tinggi sekali. Kalau mampu menjangkaunya, kenapa harus memilih sumber sekunder, atau malah yang nggak jelas sumbernya. “Banyak lho, sekarang yang asal copas! Ndak jelas sumbernya… tapi banyak yang percaya! Ini bukti, satu ada beberapa orang kita yang malas belajar. Kedua, lebih menyukai hal-hal yang praktis. Wis, iki wae, ringkasannya saja. Ketiga, sudah malas, terima yang ada aja, boro-boro mau melakukan cek dan ricek, tabayyun, klarifikasi pada sumbernya. Ini yang menyebabkan banyak orang tertipu… sing pinter saja ketipu, apalagi yang bodoh.”

Mendadak saya ini bodoh sekali. Terlalu banyak yang tidak saya ketahui. Berani betul kemaren lalu saya bicara tentang ini itu yang sumbernya tidak jelas. Hanya bisik-bisik gosip jadi referensi, berdasar omongan siluman media sosial bisa menyalah-nyalahkan orang. Hanya karena merasa segelombang, satu kesamaan, langsung rabun pada kebenaran dan membela habis-habisan yang belum tentu benar. “Banyak orang pintar menjadi bodoh karena salah jalan, karena salah berguru, bukan ke mata airnya, tapi merasa cukup pada air comberan atau kobokan…”

Makanya jangan heran, kalau ada yang pinternya sundul langit… menyundul ke langit saking tinggi ilmu yang dimiliki tapi ngusruk ke haribaan dukun pengganda uang. Ada yang pinternya sangat luar biasa namun terpuruk di pusaran keculasan, berkomplot untuk kepentingan sendiri, keuntungan sendiri, keperluannya sendiri, akhirnya sendiri di balik jeruji. “Padahal tidak ada sejarahnya orang yang hidup sendiri, bahkan mati pun dia perlu orang lain untuk menggali makam, memandikan, menyolati, hingga memakamkan. Masih mau menange sendiri?”

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s