SENGGANG, Story & History

Permisi, Nyai Subang …


Sesuatu yang pertama kali kita lakukan pasti akan bertemu dengan hal-hal menakjubkan. Ini bukan perjalanannya yang pertama, tapi pergi bersama rombongan orang-orang tua pemuka warga tempat tinggal saya. Tujuan utamanya, kondangan. Namun tujuan antaranya, pelesiran sekalian. Kebayang kan, saya dan istri menjadi orang paling muda di antara pasangan lainnya.

Namanya juga pergi bareng orang banyak, toleransinya kudu tinggi. Tingkah orang macam-macam. Apalagi dengan orang-orang lebih sepuh usianya, jadi mau tidak mau, ya level toleransinya dinaikkan lagi. Ada yang tidak bisa menahan buang air kecil, ada yang sepanjang jalan cerita melulu – mungkin sudah tidak punya teman sebaya atau anak-anaknya malas mendengar ceritanya, hehe – ada lagi yang ngomelin sopir karena dianggap terlalu kencang, wis nano-nano rasanya lah.

Kami ke Lembang dulu, sepakatnya begitu. Maka sang sopir mengambil jalur Cipali keluar di Subang tidak lewat tol Cipularang. Saya dan istri seperti biasa, hanya bercerita sendiri tentang apa yang kami lihat dan menarik. Ketika melihat marka jalan menunjuk keluar tol Subang, saya teringat tentang Nyai Subang Larang. Konon, nama Subang itu berasal dari namanya ketika beliau meninggal dunia dalam perjalanannya dari Karawang ke Caruban Larang, menengok anaknya yang tinggal di sana, Walang Sungsang alias Muhammad Abdullah Iman dan masih banyak alias lain yang kian menakjubkan.

“Kok kamu tahu sih, Mas…” tanya istri saya.

“Ya tahu, makanya baca buku, bukan baca status fesbuk orang aja!” saya merasa dapat kesempatan menegur istri atas kondisi belakangan ini, dia mulai agak kurang waktu membaca buku. Kalau alasan sibuk kerjaan tak masalah, tapi sibuk dengan gadget dan medsos, saya memang kurang sreg.

“Ada cerita turun temurun, ada yang murni sejarah. Meski sejarah pun banyak versinya… Tapi ini saya kutip dari buku sejarah perkembangan Islam ya. Jadi Nyai Subang Larang itu anak dari Ki Gedeng Tapa pembesar di pesisir utara Jawa yang nyantri kepada Syekh Jamaluddin atau Syekh Quro yang berasal dari Campa atau Kamboja. Dia tinggal di Karawang. Kok bisa? Dulu selain Banten, Sunda Kelapa, Karawang juga pelabuhan seperti juga Tangerang, tapi nggak gede. Dari pintu-pintu itulah para pendakwah masuk bersama rombongan besar Laksamana Cheng Ho, salah satunya Syekh Quro yang tinggal di Karawang, guru dari Nyai Subang Larang alias Kubang Kencana Ningrum.”

“Oh, begitu tho Mas, saya malah baru tahu…” ujar orang yang duduk di samping saya nimbrung. Istri saya juga nambahi, “Iya, saya juga baru tahu, Pak…”

“Nah, ketika Prabu Siliwangi dari Pakuan Pajajaran melakukan inspeksi ke Karawang, dia terpikat dengan Nyai Subang Larang yang cantik, putih, dan pintar mengaji. Prabu Siliwangi melamar murid Syekh Quro itu, Nyai Subang Larang mengajukan satu syarat, dia harus menikah dengan orang yang seagama. Lalu pernikahan terjadi, dan Prabu Siliwangi memiliki tiga anak dari Nyai Subang Larang…”

“Berarti Siliwangi muslim dong Mas? Bukannya dia raja kerajaan Hindu atau Sunda Wiwitan ya …” tanya bapak yang duduk dekat jendela.

Saya hanya tersenyum, sambil sesekali melihat pemandangan kebun teh di pinggir jalan. “Sederhananya, mana ada wanita shalehah dinikahi laki-laki tidak seiman. Soal kontroversi sejarah kan biasa. Lagi pula, raja-raja dulu kan istri dan selirnya banyak. Wong Eyang Subur bukan raja aja istrinya delapan…” Tawa di deretan bangku belakang memecah, membuat tetua yang lain menengok dan bertanya-tanya.

“Ini soal syiar Islam, betul bahwa waktu itu kekuasaan Pakuan Pajajaran itu hampir dari ujung barat Jawa sampai perbatasan Jawa Tengah. Tapi ini fakta, bahwa pada saat bersamaan, pada masa kekuasaan Siliwangi, Islam sudah ada. Sejarah yang membuat Islam kecil, penguasa kan selalu begitu. Agadiumnya, sejarah milik pemenang, milik penguasa. Jadi ketika sejarah ditulis, penjajah nggak ingin dong Islam tampak besar dan punya pengaruh…”

“Iya, ya… nama Subang berasal dari Nyai Subang Larang saya baru tahu lho…” ujar bapak di samping saya, lagi-lagi istri saya menimpali, “Saya aja baru tahu Pak…”

“Nah, nanti keturunan Nyai Subang Larang dari Prabu Siliwangi menjadi tokoh islam terkemuka dan penting dalam sejarah perkembangan Islam. Mereka kan punya anak Walang Sungsang, Rara Santang, dan Raja Segara. Kemudian Walang Sungsang dan Rara Santang pergi naik haji, malahan Rara Santang diperistri oleh ulama Mesir yang ayah dan saudaranya menjadi tokoh penyebar Islam di nusantara…”

Mereka melongo, ada yang kaget mendengar nama-nama itu, ada yang tidak percaya dan penasaran. Namun saya merasa, mobil berbelok ke tempat parkir sebuah rumah makan. “Kita makan dulu…” bunyi komando ketua rombongan. Cerita cukup dulu ya… nanti dilanjutkan setelah makan, kayaknya asyik nih makan di Rumah Makan Pengkolan, Subang. Tempatnya eksotik, saung di pinggir sawah dan gemericik air bening mengalir di sampingnya. Menunya juga pas, saya memilih… nasi tutug oncom spesial!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s