Story & History

Waktu yang Bergegas


“Pada suatu ketika, satu persatu di rumah ini akan pergi,” itulah kalimat yang paling penting dari perbincangan malam itu dengan istri saya. “Entah pergi karena Allah merindukannya, pergi karena ruang tumbuhnya, atau pergi karena pilihannya.” Saya meyakini betul, semua ada waktunya, semua ada masanya, dan semua yang awal akan menemui akhirnya. Termasuk pertemuan yang akan menjumpai perpisahan, dan kebersamaan yang akan meninggalkan kesendirian.

SAMSUNG DIGIMAX A403
Ibu pergi untuk kembali ke haribaan-Nya, Angga pergi untuk ruang tumbuh berikutnya

Semula saya orang yang sedih dengan semua ujung itu, ujung pertemuan, ujung kebersamaan, dan ujung dari semua yang menguarkan kebahagiaan, kehangatan, dan semacamnya. Saya paham, mengapa orang menangis sedih ketika seseorang meninggalkannya, ketika seorang berpisah, manakala seorang kehilangan, dan tatkala seseorang menjadi sendiri lagi.

Perlahan, waktu yang bergegas membuat saya paham. Semua sudah diperturutkan, dialirkan, dipergilirkan. Pergiliran itulah yang misteri, kapan sampai ke kita. Mungkin nanti, mungkin sebentar lagi, atau mungkin sedang terjadi tanpa kita sadari. Kepergian dari orang yang hilir mudik datang, membuat saya mengerti, tidak ada yang abadi. Maka saya bersiap diri untuk tidak kecewa, tidak bersedih berlebih, dan menerima keadaan dengan lapang. Saya berusaha memakna pergiliran datang dan pergi itu, baik yang datang sendiri, pergi sendiri. Datang bersama, pergi satu persatu, atau datang satu-satu pergi bersama-sama. Kepergian adalah kepastian dari sebuah kedatangan.

Ketika saya punya cucu, anak dari kemenakan saya… Saya bahagia. Luar biasa. Tapi saya tidak melepaskan suka cita itu tanpa batas. Saya memilih bersadar segera, saya mengkhawatirkan kecintaan saya yang terlalu berlebih, akan membuat saya kecewa ketika dia pergi ikut jalan hidup orangtuanya. Saya tidak mau sedih berlebih, saya mengelola perasaan sayang dan cinta itu sedemikian rupa. Hingga ketika dia keluar dari rumah, pergi bersama kedua orangtuanya menjalani hidup baru, di tempat baru, dengan kehidupan baru saya bisa mengekang rasa sedih tidak berlebihan. Ini hanya satu contoh.

Jauh sebelum itu, ketika ibu saya pergi… yang ini saya menganggap dia pulang ke haribaan cinta-Nya. ~teriring doa senantiasa, al-fatihah untuknya, khusushon ila ummi Napsiah binti S. Djauhari~ Saya merasa sedih luar biasa. Bersama beliau dalam suka duka mengarungi hidup. Terlalu banyak cerita, terlalu banyak kenangan, tak terperikan. Kesedihan itu justru karena rasa sesal, “Belum banyak yang bisa saya banggakan, belum selesai saya membahagiakannya.”

Baiklah, tidak perlu saya sesali, karena usia adalah rahasia sang Maha Cinta. Saya akan berusaha membahagiakannya di segala kesempatan dengan mendoakan dan mewujudkan pesan-pesannya dalam sisa hidup saya, sebisa-bisanya. Cerita tentang kepergian tidak berhenti. Satu-persatu yang bersama saya pergi. Untuk studi, untuk pekerjaan, dan untuk kehidupan yang lebih baik.

Waktu terus bergegas…

Saya mulai merasa tua. Setidaknya dengan usia berkepala empat. Saya harus bisa memakna lebih dalam dan luas dalam kejernihan pikir dan nurani. Kepergian adalah perjumpaan yang baru di tempat yang berbeda. Perpisahan adalah pertemuan di ruang dan waktu yang lain. Semua bergilir dan dipergilirkan. Kembali lagi ke soal pemaknaan, bisa menerima atau tidak, bisa memberi arti atau malah lepas kendali dalam emosi.

Perpisahan kini meninggalkan pertanyaan, “Seberapa besar manfaat yang bisa saya berikan. Sebesar apa ilmu bertransformasi demi kebaikan selama pertemuan itu… Sebisa apa saya bisa menjadi jalan kebaikan dengan segala berita dan kabar baik untuk kebaikan berikutnya.” Kini, saya sering menyesal, seharusnya kebersamaan harus menjadi ruang semai kebaikan, hingga perpisahan kelak menumbuhkannya. Pertemuan hendaklah menjadi karantina kasih sayang, hingga perpisahan kelak menguarkan kasih sayang itu selapang-lapangnya.

Pergiliran adalah sebuah kemestian. Dan saya terus berusaha memahami dengan rasa yang paling lapang. Kalau boleh saya mengutip lagunya Iwan Fals , penyanyi balada idola saya sejak muda.

Satu satu daun jatuh kebumi, Satu satu tunas muda bersemi, Tak guna menangis tak guna tertawa, Redalah reda| Waktu terus bergulir, Kita akan pergi dan ditinggal pergi, Redalah tangis redalah tawa, Tunas tunas muda bersemi …

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s