Sudut Pandang

Batu Loncatan


Bukan ingin bicara tradisi fahombo atau loncat batu yang menjadi tradisi anak muda Nias menunjukkan kedewasaannya, tapi saya ingin bicara yang lain. Untuk mencapai sesuatu, bilamana ingin sampai ke tujuan, tidak ada yang serta merta. Selalu ada cara dan jalan sebagai tahapan yang niscaya dilewati. Saya menyebutnya proses, kira-kira begitu.

Masalahnya adalah zaman yang serba cepat.

Bayangkan saja, saat ini keserbacepatan menjalar menguasai otak kita. Sederhananya, hampir semua aktivitas keseharian ini, didukung dan dikelilingi oleh hasil rekayasa manusia untuk memenuhi keinginan keserbacepatan itu. Teknologi itu sudah merambah hampir semua keperluan hidup manusia.

Masak nasi, tinggal colok, tinggal sebentar matang. Mobil atau motor, untuk memenuhi zamannya tercipta teknologi matic, nyalakan, tancap gas, jalan! Kamera, bukan hasil beralih dari manual ke digital, tapi sudah menjadi bagian hidup yang terus melekat, karena menyatu menjadi fasilitas gadget yang terus dibawa ke mana saja. Hasil jepretan langsung bisa dilihat seketika, tidak berkenan, tekan tombol delete, pose lagi, berapa kali pun jepretnya, tidak khawatir ‘film-nya habis’. Semua serba cepat. Serba memudahkan.

Kondisi semacam ini sering kali mengabaikan langkah-langkah atau tahapan yang seharusnya. Sehingga banyak kejadian, ketidakseimbangan tumbuhnya daya pikir, emosi, dan hati nurani. Banyak sekali orang yang pintar dengan pencapaian gelar dan keilmuan akademik memukau. Tetapi mendadak menjadi ‘sangat bodoh’ di satu sisi. Puncak pencapaian akal sehat dan rasionalitasnya ternyata licin nian untuk turut terpeleset dalam hal-hal irrasional. Kasus profesor dengan jejak akademis luar biasa yang terperangkap dalam lingkaran klenik yang sedang ramai contohnya.

Pencapaian akademik yang gemilang kadang tak beriring dengan tumbuhnya emosi yang stabil. Sehingga, tak jarang juga kita diperlihatkan seorang yang intelek, tampil sangat garang, sangat percaya diri, tapi sangat emosional, ego sentris, dan tuna etiket. Tidak mampu menghargai orang lain, menyepelekan lawan bicara, dan menganggap pihak berbeda sebagai lawan abadi. Tak mampu membedakan lawan dan musuh, hal yang sangat mendasar.

Batu loncatan adalah kalimat yang saya dengan dari mendiang Simbah. Sering sekali orang meminta nasihat, datang berkunjung untuk silaturahim, sambil berharap mendapat jalan keluar atas masalah yang dihadapi. Simbah saya bukan dukun, orang datang karena menganggap pengetahuannya luas, koneksinya banyak, dan bisa memberikan pencerahan bagi mereka yang datang. Kata-kata ‘batu loncatan’ biasanya diberikan kepada mereka yang anaknya, saudara, atau dirinya ingin bekerja.

“Wis, apa saja dulu, buat batu loncatan,” begitu kalimatnya.

Penjelasan berikutnya, sambil kerja kan ketemu banyak orang, pasti informasinya lebih banyak. Bisa belajar lagi dari pengetahuan yang ada saat itu. Sehingga bisa berkembang pada akhirnya. Sambil terus berpikir dan berusaha mendekatkan diri melangkah mewujudkan cita-citanya.

Saya jadi teringat tontonan Ninja Warrior di televisi. Ada sesi melompat dari satu batu ke batu yang lain untuk sampai ke babak berikutnya. Ada yang langsung bisa, ada yang harus jatuh, ada yang mengulang beberapa kali, hingga akhirnya sampai pada tujuan. Saya melihat itu proses mencapai tujuan. Sesuatu yang tidak bisa percepat seperti produk teknologi yang menyerbacepatkan. Tidak ada yang bisa dilewati tahapannya. Kalaupun ‘dipaksa’ yang terjadi hanyalah kematangan semu. Karbitan. Seperti yang sekarang banyak terjadi. Kaya itu harus dengan kerja keras, kerja cerdas. Tidak bisa mendadak sontak! Kalau mau dipaksa bisa saja, tapi ujungnya pasti nista.

Kalau tujuan hidupnya begitu saja, ya silakan saja. Tapi bila ingin Tuhan menjadi tujuan, hidup mulia menjadi cita-cita. Kemuliaan hanya bisa diraih dengan niat baik dan cara baik, meskipun bakal bertemu dengan titik jenuh, lelah, lemah, dan nyaris putus asa. Begitulah makna batu loncatan, bertahap, pelan-pelan, sabar, dan hati-hati. Tidak perlu terburu, seperti para pelompat fahombo yang sempat akrab gambarnya karena tertera di uang kertas pecahan seribu. Para pemuda itu, berlatih terlebih dahulu, bertahun-tahun sebelum menyatakan diri yakin mampu melompat batu setinggi dua meter itu. Karena dia mempertaruhkan kehormatan demi pengakuan kedewasaannya.

Tak kan lari gunung dikejar, kabut lari tampaklah dia. Bahasa sederhana teman saya ngopi, ”Ngejar setoran lu, nikmati hidup…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s