Sudut Pandang

Belajar Objektif


“Titip duit bisa kurang, titip omongan pasti lebih.” Ungkapan itu saya kutip, karena belakangan saya banyak bertemu dengan orang yang sering sekali ‘kelebihan omongan’. Sama-sama berada di lokasi, waktu, dan kejadian tapi mengapa cara menyampaikannya kok bias kemana-mana. Saya meraba saja, mungkin soal sudut pandang saja. Tapi tidak semata itu. Terlalu banyak bunga-bunga, mengaburkan esensi, dan sangat cemar dengan pandangan sendiri, sehingga fakta tidak sampai secara objektif.

Terus terang saya merasa tidak nyaman dengan ‘subjektivitas’ akibat dari bias informasi saat ini. Rasa nyaman itu terganggu, saya memilih ‘terganggu’ bukan ‘terciderai’, karena kalau hanya terciderai kurang menohok soalnya. Saya tidak tahu, mungkin juga sudah ada riset ilmiah tentang imbas atau pengaruh subjektivitas pemberitaan media atau informasi terhadap perilaku pembaca atau komunikannya. Mungkin saya yang kurang membaca atau kurang piknik jadi tidak tahu.

Berkali-kali dan di berbagai urusan hal ini saya alami.

Saya tidak tahu, apakah secara psikologis semua orang butuh perhatian. Sehingga, ketika ada forum, mendapat panggung, walaupun hanya dialog antarpersonal, hanya berdua, juga menjadi area untuk menunjukkan eksistensi diri. Begitu ada yang memerhatikan, objektivitas jadi membias. Kalau tidak melantur, pilihan lainnya memotong pendek rangkaian peristiwanya, lalu membiaskan dengan argumen lainnya.

Saya belajar komunikasi tahun 90-an, saat akses internet masih sangat terbatas. Penerbitan dan media massa cetak masih berjaya, radio dan televisi mulai berkembang dengan hadirnya beberapa stasiun televisi. Saya mendapati empati kepercayaan publik pada informasi media sangat tinggi. Koran masih dipercaya, berita tivi masih dinanti dan bisa dinikmati, pun informasi radio yang lebih cepat akselerasi beritanya ke pendengar.

Arus zaman yang melesat, saya pun mengikuti. Tapi kecepatan itu, kemudahan ini membuat banyak informasi yang melimpah kedodoran kredibilitasnya. Semua orang bisa menjadi ‘wartawan’ dengan ‘koran’-nya sendiri. Semua orang yang miliki akun media sosial bisa menjadi pemberita, baik dengan beritanya sendiri, maupun mengutip kabar orang atau media lain. “Tanpa cek ricek, tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya!”

Maka bila sebuah peristiwa terjadi, simpang siur berita itu sekarang jamak saja. Silang sengkarut kabar luar biasa riuhnya. Apalagi menyangkut kontestasi pilah pilih penguasa. Objektivitas entah di mana rimbanya. Banyak kabar sumir yang terus menggulir. Ada kabar burung yang terus didorong untuk melambung. Katanya dibungkus menjadi seperti fakta, pemihakan telah melupakan dirinya sebagai manusia biasa, keberpihakan membuat picik pandangan dan menutup diri dari realita.

Semua itu untuk apa? Untuk siapa?

Setiap orang melakukan sesuatu selalu ada motivasinya. Dalam skala terkecil saja, hubungan antarpribadi, komunikasi antarpersonal. Apa perlunya membiaskan fakta, apa pentingnya melebarkan berita, apa gunanya mengaburkan kejelasan. Biar apa? Ben piye? Saya juga masih belajar untuk menyampaikan sesuatu secara objektif. Misalnya isu yang lagi seru, “Rano Karno adalah Gubernur Banten. Wahidin Halim adalah anggota DPR. Rano Karno mantan wakil gubernur Banten. Wahidin Halim mantan walikota Tangerang. Kini keduanya menjadi bakal calon gubernur Banten dalam Pilkada 2017 nanti.” Ini objektif. Tapi bisa sangat mudah diotak-atik jadi subjektif, bias, dan kabur dengan versi serta motivasinya.

Itu hanya sekadar contoh, betapa subjektivitas, pembiasan bisa terjadi dalam berbagai topik dan tema apa saja. Apalagi tema-tema sensitif seperti contoh yang saya tuliskan tadi. Belajar menjadi orang yang objektif adalah cara memelihara karunia intelegensia kita. Berkata objektif, memberitakan objektif, berpikir objektif…

Gampangnya, “Bila A katakan A, bila B katakan B. Kalau kodok sampaikan kodok, jangan kodok dibilang katak. Kalau bikin gondok, mending dijitak!” Lho, kok malah berpantun.  Udah ah… tulisan nggak jelas banget nih!

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s