Story & History

Buanglah Sampah Sembarangan


Saya tidak akan membahas kasus Dimas Kanjeng, Kopi Bersianida, Perguruan Brajamusti, apalagi kasus korupsi, reklamasi atau pilkada. Saya hanya ingin bicara soal ketidakseimbangan. Orang yang tumbuh dalam keseimbangan lahir, batin, dan pikir itu jarang. Silakan diotak-atik sendiri, bila tidak sepaket ketiga hal itu tumbuh, maka jangan heran akan melahirkan ironi-ironi dalam diri kita, atau diri orang-orang yang kita kenal. Kalimat yang sering terucap, “Nggak nyangka ya…”

Ini kasus sederhana.  Soal buang sampah!

sampahSaya tinggal di perumahan yang tidak besar, hanya dua ratusan rumah saja. Tapi termasuk perumahan tua, karena dibangun dari tahun 80an. Saya gelombang pemukim 90-an, masih bertemu dengan orang-orang yang datang pertama kali di sini. Mereka para purnawirawan, para pensiunan perwira pertama dan menengah yang usianya sudah sepuh. Sehingga saya beruntung memperoleh pengaruh baik dari mereka tentang bagaimana peduli pada lingkungan tempat tinggal sendiri.

Pengaruh baik yang saya ingat adalah soal sampah! “Dilarang membuang sampah sembarangan!” Dulu, mereka memiliki agenda bergotong royong setiap akhir pekan untuk bebersih komplek. Ada salah satu erte yang membuat warganya tidak enak duduk, tidak enak hati, bila dia sudah memberi kode untuk bebersih. Membakar sampah! Itu kode bagi warga untuk segera bergegas, bebersih, minimal di lingkungan rumahnya sendiri. – Dulu belum ada larangan membakar sampah dari Pemkot –.

Ya, lingkungan benar-benar bersih. Semua rumah punya tempat sampah, baik yang permanen berupa kotak persegi dari bata dan bersemen, drum besar yang dicat, atau tempat sampah plastik besar. Di rumah saya, tempat sampah di pojok halaman, di dalam pagar, bukan di luar pagar. Ada tutup dan semacam pintu dari luar sejajar tembok pagar tempat petugas pembersih mengambilnya.

Zaman berkembang, perumahan saya semakin banyak isinya. Bebeberapa berganti penghuni. Ada yang bertambah karena menantu turut tinggal di mertua, ada juga penghuni baru. Sekitar komplek saya pun tumbuh bisnis kontrakan rumah petak. Hampir semua menempel dengan sisi komplek. Tumbuh juga pemukiman baru dari developer yang berbeda mengelilingi perumahan yang saya tinggali. Banyak dihuni orang muda, pasangan muda, banyak yang berpendidikan tinggi, hampir semua rumah memiliki kendaraan roda empat plus sepeda motor yang tidak hanya satu. Bisa dua, bisa tiga parkir di garasinya.

Dulu, akses jalan menuju komplek saya diapit sawah. Air yang jernih. Pemandangan hijau segar bila pagi dan musim tanam. Menghampar kuning mengalun ketika menjelang musim panen. Sepi, lalu lalang kendaraan tidak seramai sekarang. Jalan ini juga menjadi akses masuk juga bagi perumahan lain.  Tidak ada sampah di sepanjang sisi jalan itu. Tapi sekarang…

Orang membuang sampah begitu saja di pinggir jalan!

Mereka membuang sambil lewat. Kadang dari mobil, seringkali dari sambil bersepeda motor. Dilempar ke sisi jalan yang bukan tempat sampah tanpa rasa bersalah. Satu orang memulai, orang lain mengikuti. Jadilah pinggir jalan menjadi tempat sampah yang panjang. Mengganggu pemandangan, menciderai penciuman, menyuburkan aroma busuk, dan tentu saja membuat sarang penyakit.

Saya tidak paham, hal ini dilakukan orang-orang yang berpendidikan. Setidaknya pernah sekolah, mungkin pernah kuliah, ada yang selesai ada yang drop out. Mereka entah suami atau istrinya sebagian bekerja di gedung-gedung ber-AC, bertingkat, di tengah kota, bahkan mungkin bukan hanya di jalan protokol saja, malah dekat Istana Merdeka atau Istana Negara. Mereka paham arti kebersihan. Mereka juga tahu pasti apa akibat dari ‘membuang sampah sembarangan’.

Pernah dibuatkan spanduk bertuliskan, “Yang buang sampah di sini MONYET” lengkap dengan gambar monyet. Tapi tetap saja nggak ngaruh! Tetap ada oknum warga membuang sampah di tepi jalan. Coba kalau tepi jalan tempat mereka membuang sampah itu depan rumahnya, sebelah rumahnya, halaman rumahnya, ruang tamunya, kamar mandinya, ruang makannya atau malah meja makannya…

Itu yang saya bilang ketidakseimbangan, antara lahir, batin dan pikir tidak berjalan seiring. Dalam kasus ini bisa dibilang, tidak selalu paralel pendidikan tinggi, ekonomi mapan, pekerjaan terhormat dengan kecakapan berlingkungan. Seperti kata dosen filsafat saya, “Pengetahuan sama berpengetahuan itu berbeda…” Pengetahuan itu teorinya, berpengetahuan itu eksekusi atau implementasinya. Ada daya yang bergerak. Tahu buang sampah itu di tempatnya, tapi dia tidak menggunakan pengetahuannya, hingga membuang sampah sembarangan.

“Nggak nyangka kan?”

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s