Sudut Pandang

Jebakan Simulacra


tope-bw            “Sulit membedakan lagi, yang semu sama realitas!” kira-kira begitu gampangnya. Apa yang semu, apa yang maya, seolah-olah kebenaran yang nyata. Seolah-olah ya, berarti bukan kenyataannya. Hari ini kondisi ini semakin menjadi-jadi, makin edan-edanan, tidak semata karena serbuan media massa dari berbagai penjuru mata angin. Tapi didorong juga oleh arus perkembangan teknologi informasi yang melesat cepat nyaris tak terkejar.

Kasus demi kasus akibat kesemuan yang menjelma dalam realitas sudah memakan banyak korban. Walau tidak semua kondisi kesemuan ini berindikasi negatif, kenyataannya tidak terlalu banyak yang mengarah positif. Misalnya, berapa orang yang tertipu oleh krim pemutih kulit, yang katanya bisa memutihkan kulit hanya dalam tiga minggu? Berapa lagi yang terpedaya pengoles anti penuaan kulit agar tetap awet muda? Juga banyak lagi olah rupa dan rekayasa pariwara yang menggiring orang pada kenyataan yang semu.

Bukan hanya dalam iklan pemutih kulit dan antiaging. ‘Kebenaran semu’ ini juga masuk ke berbagai wilayah kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang imajiner pada awalnya, menjadi sangat ‘nyata’. Hadir, bisa disentuh, bisa dirasa. Karakter kartun Disney seperti Donald Duck, Micky Mouse dan lainnya, kini hadir nyata di Disneyland yang terdapat di beberapa negara. Masih ada banyak lagi contoh lainnya, Universal Studio, Museum Madame Tussaud, China Town, atau beberapa lagi destinasi wisata spektakular di Dubai.

Saya tidak ingin bicara itu, saya hanya ingin memberi perhatian bahwa ‘kebenaran semu’ itu telah juga masuk ke berbagai urusan keseharian. Sekali lagi, media massa terutama televisi memiliki andil sangat besar untuk membuat sihir simulacra. Paling sederhana, bagaimana kesemuan itu menjadi tindakan, menguasai pikiran, dan mempengaruhi suasana emosional seseorang.

“Berat banget obrolannya, Bro… yang lainnya saja deh!”

Intinya begini, hari ini banyak di antara kita terjebak dalam pusaran pola kehidupan yang tidak jelas lagi pijakannya, sulit membedakan yang asli dan palsu. Seperti yang disebut simulacra oleh Jean Baudrillard, seorang pakar kebudayaan pascamodernisme dan pascakulutrisme dari Perancis. “Dunia yang dibangun dengan bercampurnya nilai, fakta, tanda, citra, dan kode-kode.” Seperti dunia simulasi, tidak lagi peduli dengan realitas. Semua melebur menjadi satu dengan segala silang sengkarutnya.

“Gue mumet Bro… ngomong apa sih.”

“Biar kelihatan agak pinter, sesekali ngomong yang agak tinggi dikit. Seperti kata Baudrillard, membangun citra, mereproduksi kesoktahuan, dari kebodohan dan kedangkalan yang saya miliki,” saya tersenyum. Pusing juga.

“Mbok contohnya yang deket gitu Bro, bahasanya yang membumi…”

“Begini, sering nonton tivi kan?” tanya saya. “Semua yang ditayangkan televisi itu sebagian besar hasil rekayasa, olah gambar dan suara, sebuah produksi dengan banyak orang yang terlibat, dibuat dengan script. Lalu semua itu hadir di ruang-ruang kita berada. Memenuhi otak kita dengan segala emosinya. Di kemudian hari, kita mengadaptasi persis ketika keadaan yang kita hadapi serupa itu. Dunia layar yang semu, dihadirkan dalam realitas.”

“Berangan-angan seperti modelnya, gitu Bro?”

“Semacam itu, makanya banyak berita, berceceran cerita, kriminalitas terjadi hanya karena hal ‘sepele’, penistaaan diri terjadi karena ‘ingin seperti’, hingga sampai putus asa habis akal hanya karena hal yang di luar nalar.”

“Terus biar kita nggak kejebak realitas kawe, bagaimana?”

“Ya realistis saja. Memang sulit, karena sebagian besar isi lingkungan kita juga berada dalam jebakan itu. Bisa jadi ketika kita bicara kesemuan realitas ini, kita sudah berada di pusaran terdalam simulacra…”

“Dunia makin membingungkan. Makin tidak jelas dan sulit membedakan yang nyata dan yang maya.”

“Dunia maya kita perlakukan seperlunya, terlalu banyak citra dan kedangkalan di sana. Walaupun sering kali, tampak dalam dan benar. Karena tampak sekali meyakinkan dan mengesankan. Begitulah jebakan-jebakan simulacra, meyakinkan tanpa menimbulkan keraguan sedikitpun. Solusinya?”

“Kita kembali pada realitas, alam nyata dimana kita berada. Terima kenyataan dengan apa adanya…”

Setelah saling tersenyun, kami berdua menyeruput kopi sasetan dalam gelas berlogo warung kopi waralaba dari Amerika. Begitulah tipu daya simulacra…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s