Sudut Pandang

Politik itu Kepentingan, Titik!


Ngomongin politik memang asik, karena politik itu memang genit. Menggoda siapa saja untuk sekadar bicara, meramaikan sebagai penggembira, atau sebagai pemainnya. Menjelang pilkada – pemilihan kepala daerah – 2017 mendatang, menurut keterangan KPU sebagai penyelenggara, akan digelar 101 pemilihan kepala daerah, baik tingkat gubernur maupun bupati dan walikota.

Sayangnya media di daerah tidak segempita di Jakarta. Pilkada Jakarta itu hanya salah satu dari yang 100 lho! Tapi seolah-olah pertarungan kursi penguasa ibukota menjadi yang paling penting dan nyaris menyita semua perhatian siapa saja. Termasuk yang sama sekali tidak ada kepentingannya. Semua ngomongin petahana dan bakal rivalnya. Termasuk tetangga saya, teman ngopi saya yang tinggalnya dan e-KTP nya bukan gambar Monas turut berisik. Saya bukannya tidak tertarik, wong setiap hari ada beritanya, di media sosial juga seliweran. Tapi ya ngapain…

Di Banten, itu provinsi tempat saya tingggal lebih dari 20 tahun, itu juga bakal ikutan dalam kontestasi pilkada serentak. Saya yang tinggal di Tangerang, yang kini menjadi dua kota dan satu kabupaten, juga merasakan denyut pilkada. Tapi geloranya tidak sekuat ibukota. Padahal masyarakatnya, setiap pagi jutaan orang masuk ke Jakarta, pulang ke berbagai penjuru Tangerang. Ada apa dengan pilkada Banten bagi para pelaju ini? Beberapa orang dan kolega yang saya kenal, lebih fasih bicara pilgub Jakarta dan tergagap perihal pilgub Banten.

Pertanyaan yang muncul, apakah tidak penting, tidak menarik, tidak peduli, atau tidak tahu. Banten dengan isu ‘politik dinasti’ yang menyeret mantan gubernur ke penjara KPK rupanya ‘nggak ngangkat’ untuk jadi daya tarik. Banten dengan isu korupsi yang dimulai dari tertangkapnya suami walikota Tangerang Selatan, menjadi berita nasional, tak punya daya magnet untuk peduli pada pilgub kali ini? Banten dengan gubernur yang artis terkenal sekelas Rano Karno menarik untuk dilirik?

Kalau masalahnya emosional, ya gimana lagi. Merasa lebih Jakarta dalam dirinya, dibanding merasa menjadi warga Banten. Misalnya, karena ‘menjadi Jakarta’ lebih berkelas, sementara ‘mem-Banten’ tidak. Waduh, ini sama juga ketika kita memaki-maki seorang taipan yang menyebut Indonesia bapak angkat, Tiongkok bapak kandung dong. Lha, makan, tidur, kencing, buang hajat di mana, sekarang khidmatnya kemana. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung adalah peribahasa yang cocok untuk sikap ini.

Menjadi bangsa memang sejarahnya panjang, sepanjang perjalanan seseorang untuk menjadi manusia. Menjadi warga yang sublim pada budaya serta dinamika sosial dan politiknya juga butuh kelapangan hati. Tidak semuanya melulu politik, karena sepanjang sejarah politik, isinya ya satu; kepentingan! Mau bicara setinggi langit, ‘sundul langit’ – istilah Amien Rais – ya balik-balik kepentingannya apa. Tidak ada musuh abadi dalam politik, dulu beda kubu, saling caci dan mencerca, sekarang bergandeng tangan dan tampak mesra nian. Dulu reruntungan selalu bersama, kini berpisah dan saling membongkar salah. Begitulah politik, kepentingannya yang abadi. Tidak ada selain itu.

Contohnya…

Banyak sekali. Omongan para calon penguasa – walau tidak semuanya – itu sering banget tidak konsisten. Karena tujuannya kepentingan. Istilah isuk dele sore tempe itu biasa. Ludah dijilati sendiri itu bukan lagi hafalan peribahasa anak sekolah, tapi terjadi dan benar-benar ada. Coba kalau mau scrolling sebentar saja rekam jejak media tentang mereka. Pasti ketemu ironi-ironinya. Misal, katanya mau independen, lha kok lewat partai. Soal tidak konsisten, apa pun alasan dan argumennya, pola dan gaya seperti itu ‘berceceran’ – pinjam istilah Babe Cabita, seorang komika – di ruang politik.

Kalau di Pilgub Banten gimana? Bisa jadi ada dan terjadi yang seperti itu. Isu melawan kekuasaan dinasti korup itu kuat sekali. Menjadi peluru hampir semua calon gubernur di kampanye pilgub sebelumnya. Isu anti calon dari dinasti korup di pemilihan gubernur periode lalu dan belum bergeser sampai hari ini. Tapi, kalau ada yang melawan di masa lalu, kemudian berkawan hari ini. Ya kembali ke intinya, politik itu kepentingan!

Walaupun di kamus disebut politik itu; 1.(pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan); 2. segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain; 3. cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan.

Saya sih senang, karena hajatan demokrasi semacam ini membuat saya semakin paham apa itu politik, berpolitik, memolitikan, dan pemolitikan. Deretan kata terakhir itu semua saya ambil dari KBBI Daring ya, kalau mau tahu bedanya silakan saja dikebet…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s