Story & History

Marahnya Orang Tua


Sering sekali saya mendapati orang tua yang memarahi anaknya. Contoh kecil saja, malam minggu yang lalu ketika saya menjumpai ibu menjewer anaknya sambil memarahi sepanjang jalan pulang. Anak itu hanya satu dari segerombolan anak-anak tetangga yang biasa bermain bersama. Malam itu mereka pulang agak larut, lewat jam sembilan malam, karena menonton layar tancap di salah satu rumah warga. Dia biasa memutar film layar tancap setiap malam libur. Idenya bagus, menghibur tetangga, termasuk anak-anak agar tidak terlalu bingung mau apa di malam liburannya. Toh film yang diputar pun untuk segala usia.

dorothy-nolte            Karena melewati tempat saya dan beberapa orang yang nongkrong di pos sekuriti, maka kejadian itu jadi bahan pembicaraan. Dari mulai yang bilang kasihan, sampai ada yang pinter hingga keluarlah teori-teori tentang pengasuhan anak yang benar. Termasuk efek marah pada anak. Saya sering takjub, di sebuah tongkrongan yang sering disinisi, tidak berkelas, muncul banyak ilmu. Bersyukurlah saya menjadi manusia kebanyakan, biasa ngopi sasetan, kerodongan sarung, dan pantatnya akrab dengan bangku kayu sebagai tempat duduk.

“Jadi ada penelitian…” kata salah satu teman duduk saya. Pembukanya membuat saya segera menyimak. Apalagi intonasi suaranya begitu magnetis. Tidak hanya saya yang mengantri mendengarkan lanjutannya, tapi dua orang sekuriti yang ada di situ.

“Memarahi anak itu bisa mematikan milyaran sel otak!”

Wajah kaget, penasaran, muka bego dan rona bloon balapan menyodorkan diri kepada sumber info itu. Saya menjadi bagian dari orang yang menyorong kebarutahuan dan ketidaktahuan dari informasi ini.

Kemudian dia menjelaskan panjang lebar. Intinya, memarahi anak itu berbahaya bagi masa depannya. “Efeknya bisa sangat banyak. Yang jelas sangat merugikan bagi mereka. Sayangnya, orang tua menyuruh anak-anaknya belajar, tapi banyak orang tua tidak mau belajar lagi. Merasa sudah tua, lebih banyak pengalaman…”

“Padahal pengalaman sama pengetahuan kan beda ya, Pak,” ujar salah satu sekuriti.

“Beda banget! Makanya, orang tua juga harus terus belajar.”

Saya manggut-manggut, sambil urun bicara dari apa yang saya pernah baca. Dari buku itu, saya lupa judulnya, setidaknya diungkapkan efek negatif perkembangan anak dari perlakuan tadi. Sering dimarahi. Anak bisa menjadi minder, tidak percaya diri, dan takut salah.

“Bener banget itu, Mas…”

Saya melanjutkan sambil mengingat judul bukunya, tapi tak kunjung ingat juga. Akhirnya saya sampaikan yang teringat saja. Efek lainnya, marah pada anak bisa menyebabkan mereka tidak banyak memiliki inisiatif. Kemudian, si anak akan mengalami kesulitan bersosialisasi, agak susah bergaul, memiliki rasa takut, khawatir, dan kecemasan setiap memasuki ruang sosial yang baru.

“Satu lagi Mas, anak-anak yang biasa dimarahi orang tuanya, biasanya jadi pribadi yang sangat emosional, ini penelitian lho…” kata bapak yang tadi menambahi.

Pembicaraan yang serius, mendalam, dan sungguh terjadi di tempat dan waktu yang tidak lazim. Kalau dalam set skenario akan ditulis, OUTDOOR – NIGHT – POS RONDA. Casting: Orang Pintar, Saya, Dua Sekuriti Komplek. Benar-benar bukan sudut ruangan berpendingin dengan layar yang menampilkan rangkaian slide dari sorotan infocus. Tidak pula di sudut café dengan aroma ruangan dan kopi olahan warung waralaba.

Saya jadi teringat kutipan tulisan Dorothy Nolte yang sering dipajang di tembok sekolah dan kantor guru. Tentang anak dan cara membesarkannya. “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri.” Masih panjang, ada beberapa lagi. Kutipan dari penulis buku Children Learn What They Live asal Amerika Serikat ini sangat masyhur.

Saya langsung ke kalimat akhirnya saja, “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.” Ini juga yang disampaikan teman pintar di pos ronda malam itu, “Karena satu pujian pada anak, akan menumbuhkan banyak bibit kecerdasan buat mereka.”

“Lagian jadi orang tua emang nggak boleh marah-marah, kan? Emang bahaya buat anak, Pak,” sela seorang sekuriti. “Saya sih denger aja nih dari pengajian mesjid, ridho Allah itu ada pada orang tua, murka Allah juga ada di orang tua. Kalau orang tua marah-marah mulu, kasihan anaknya, Allahnya nggak ridho-ridho, malah murka mulu. Repot kan anak kita, Pak…”

Malam yang menakjubkan!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s