Sudut Pandang

Melangkah Walau Berat


tope-kecewa            Saya membayangkan anak-anak usia remaja (mungkin SD atau SMP) sebanyak 25 ribu orang. Kira-kira itu butuh tempat seberapa besar. Kalau saja dikumpulkan di Gelora Bandung Lautan Api, tempat pembukaan PON XIX oleh Presiden Jokowi di Bandung, maka hampir separuh dari kapasitas bangku yang menampung 38 ribu kursi itu terpakai. Kalau harus memakai Gelora Bung Karno yang kapasitas tempat duduknya 88 ribu orang, paling tidak sepertiganya terisi.

“Emang mau ngapain?”

Menurut informasi yang didapat Menteri PPPA Yohana Susana Sambise, setiap hari ada 25 ribu anak dan remaja Indonesia mengakses situs porno. Nah lho! Sebenarnya ini kabar lama, karena saya cek juga media sudah banyak yang menulis. Itu sebab, saya membayangkan sejumlah itu, mereka duduk berkumpul mengisi kursi stadion dan mengakses situs porno. Tidak dari warnet, tapi melalui smartphone yang ada di tangan mereka, di saku baju sekolah, bahkan di tas yang selalu mereka bawa setiap hari. Dan tentu saja dari smartphone yang dibelikan orangtua mereka, termasuk pulsa internet dari uang saku yang sumbernya dari orang tua. Bagaimana kalau orangtua mereka duduk dan melihat apa yang dilakukan anak-anaknya dari sisi lain stadion?

Miris. Sedih. Menangis? Mau salah-salahan? Tidak cukup.

Ini realitas, Menteri Sosial Chofifah Indar Parawangsa pun angkat bicara, “Indonesia darurat pornografi!” Apalagi hampir sebagian besar korban kejahatan efek pornografi adalah remaja. KPAI merilis ketika memperingati Hari Internet Aman Sedunia, angka jumlah anak korban pornografi dan kejahatan seksual online di atas 1000 orang.  Mulai dari korban, menjadi objek video porno hingga menjadi pelaku prostitusi anak online.

Kasus terbaru, terbongkarnya prostitusi anak untuk para pedofil dan gay di Bogor akhir Agustus lalu. Mengerikan. Hampir seratus anak-anak usia sekolah dijajakan melalui situs online untuk memenuhi hasrat sex menyimpang orang dewasa. Usia mereka antara 13-17 tahun!

Apakah kita hanya cukup sedih, prihatin dan cemas semata. Saya teringat teman-teman, tetangga, dan handai taulan yang anak-anaknya sedang berada di usia itu. Semoga hal ini tidak terjadi pada anak-anak mereka. Menyayangi anak-anak adalah hal penting setiap orang tua, memberi apa yang diingini juga bagian dari cara membahagiakan anak. Karena anak adalah daya hidup, perisai di masa depan, sumber kebahagiaan juga.

Namun realitas itu bukan hal maya, sesuatu yang tidak terjangkau, jauh dari capaian. Realitas itu dekat, sedekat ruas jari jemari, selengket kedua bibir. Jadi kejadian yang terurai di atas, bisa sangat dekat dengan kita. Itu sebab, tanggung jawab orang tua luar biasa beratnya. Bukan hanya menjaga dari godaan pornografi yang aksesnya tinggal sentuh di hape mereka. Tapi lebih dari itu, tanggung jawab untuk menjaganya menjadi produk keshalehan yang kuat mengarungi arus zaman.

Inilah yang sering menjadi bahan diskusi, orang tua harus terus belajar. Belajar memahami zaman, agar bisa menyelam ke masa lalu dan terbang ke masa depan. Tapi juga tak gagap dengan kekinian. Banyak pola pendidikan anak, metode pengasuhan anak, dan berbagai teori parenting dibabarkan. Intinya kalau mengutip Mama Dedeh di televisi yang saya dengar sambil ngantuk, orang tua harus bisa menyeimbangkan peran dan kewajiban yang ada di pundaknya. Peran suami, pencari nafkah, juga ayah bagi anak-anak, selain peran sosial keagamaannya. Istri, juga ibu, madrasatul ula bagi anak-anaknya.

Awalnya, hape yang kini berubah jadi barang ajaib adalah alat untuk memudahkan komunikasi. Meski begitu cepat dan canggih perkembangannya, tetap saja dasarnya adalah alat untuk memudahkan komunikasi. Tapi apa yang terjadi, komunikasi yang seharusnya terjadi tidak menjadi prioritas antara anak dan orang tua. Dengan berbagai kemudahan, ternyata komunikasi ternyata bukan hal yang mudah. Sering terjadi hal di luar kontrol. Artinya apa?

Komunikasi antar personal, sentuhan, pertemuan fisik, tatap muka tidak terganti dengan teknologi secanggih apa pun. Orang tua harus dan wajib hadir dalam masa tumbuh kembang anaknya. Mungkin, saya harus setuju ketika ada gerakan mematikan gadget di rumah. Agar keluarga bisa berinteraksi dan berkomunikasi tanpa jeda apa pun. Menghadirkan emosi, menyalakan ruh kehangatan keluarga. Seperti yang ada di foto fenomenal kaleng biskuit… “Tapi itu kan nggak ada ayahnya?” “Lha, kan ayahnya yang moto!”

Bukankah kita harus menghargai sebuah ikthiar. Tidak ada kata terlambat. Biar lambat mulailah. Walau berat, melangkahlah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s