Story & History

Ciri Orang Bahagia


tope-kecewa            Ndingaren, tumben-tumbenan waktu jumatan kemarin saya tidak ngantuk. Mungkin karena tidak dapat senderan. Sehingga walaupun tetap kesemutan bersila, saya bisa menyimak isi khutbah sang khatib. Masih muda, bergamis, pakai udeng-udeng, itu lho sorban yang diikat di kepala. Suaranya jernih, aksentuasinya jelas, dan diksinya sederhana, mudah dimengerti orang awam seperti saya.

Ndilalah temanya kok ya mathuk…

Ciri-ciri orang yang berbahagia. Tentu semua orang ingin berbahagia dalam hidupnya, baik yang sementara maupun yang kekal dalam alam abadi kelak. Menarik sekali analogi yang disampaikan. Setidaknya buat saya yang sulit menjangkau hal-hal rumit, karena sudah penuh kerumitan. Caranya mengutip baik hadits maupun ayat Al-Quran itu ya elok nian. Saya merasa, dia tahu persis bagaimana ‘pesan’ itu sampai tanpa tendensi menggurui, mengajari, atau menasihati.

Disampaikan oleh sang khatib bahwa ciri-ciri orang yang berbahagia itu antara lain selalu ingat dosa. Baik dosa terkini, kemarin, hingga masa lalu. Klasifikasi waktu itu kemudian diurai menjadi pada masa sekarang, baik yang sudah berumah tangga atau belum, semasa sendiri atau lajang, hingga jauh diingatkan sampai pada masa ketika masuk akil baligh. Mendadak saya kok seperti ditampar-tampar ya… apalagi ketika dia uraikan definisi dosa itu apa, kemudian disampaikan kategorinya, dosa besar dan kecil itu apa.

Caranya bicara seolah membawa saya mondar-mandir ke berbagai penjuru waktu. Masuk ke wilayah yang selama ini tak terjamah. Memasuki ruang gelap dan pengap yang terabai. Menyelisik ke rongga-rongga masa silam, menyelusuri celah pori-pori masa yang telah berlalu dan bisu dengan rasa ngilu. Malu, malu, kalau harus mengaku. Terlalu banyak yang diingat…

“Bila semua teringat, itulah ciri orang bahagia,” katanya.

Tentu saya tidak masuk kriteria orang bahagia. Karena terlampau banyak waktu saya tersilap untuk mengingat yang lain. Melupakan dosa. Ingatan saya lebih banyak pada ‘bahagia’ yang lain. Tentu saya harus perlahan-lahan menyiapkan diri untuk bahagia dengan kriteria ini. Karena tidak mudah berdamai dengan masa lalu, sulit sekali menerima kenyataan pahit dan getir di masa silam. Saya mengetam rasa sekeras-kerasnya agar punya tempat menerima kenyataan masa lalu, seberapa pun kelam dan buruknya. Saya harus meyakinkan diri sendiri sebisa-bisanya, bahwa saya bisa dan harus bisa!

Heroik sekali rasanya…

Saya yakin tidak mudah, butuh waktu, dan tidak bisa sulapan, prok, prok, prok berubah, itu yang pertama. Kedua, butuh suasana dan frekwensi berhamba yang konstan dan konsisten. Ketidakmudahan lainnya, lingkungan dan dinamika yang beragam dan cepat geraknya. Dan terakhir, saya bukanlah orang yang religius, dangkal sekali soal seperti ini, minimalis banget perihal kebaikan yang memantul jauh hingga ke aras keakhiratan.

Tentu bukan alasan. No reason… Bukan kebetulan saya jumatan di masjid itu. Tidak kebetulan juga isi khutbahnya tentang ciri orang bahagia. Bahagia yang sejati, bahagia yang hakiki, bahagia yang abadi. Bukan bahagia versi manusia yang banyak definisi atau sekadar justifikasi. Saya memang harus diingatkan sering-sering hal sedemikian ini. Hidup saya terlalu ugal-ugalan di masa lalu. Bahkan sampai hari ini.

Kalau menjelang tua saya masih saja ugal-ugalan selain tidak pantas, tidak tahu umur, juga bisa disebut tidak tahu diri. Khutbah yang setengah jam itu mungkin stimulus, bisa juga peringatan selain tentu saja ilmu. Saya wajib mengeksekusinya agar menjadi amal, supaya menjadi perilaku. Setidaknya, saya tahu ciri orang bahagia sesungguhnya. Selain yang terurai di atas, sang khatib menambahkan ciri lainnya. Yaitu orang melupakan kebaikannya di masa lalu. Orang yang selalu melihat ke atas soal ibadah kepada Tuhan dan melihat ke bawah perihal kehidupan dunia. Nantilah dibahas lain waktu.

Sulit bukan berarti tidak bisa. Susah tidak berarti mustahil. Karena saya tentu tidak mau lah masuk ke kriteria sebaliknya. Orang yang tidak bahagia. Saya menulis ini semata untuk mengingatkan diri sendiri. Agar lebih menancap dalam diri saya. Terus terang saya sendiri takut dan ngeri-ngeri gimana nulis tentang dosa… kayaknya gimana gitu.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s