Sudut Pandang

Kecewa itu Biasa


“Nggak nyangka ya, dia begitu!” Tidak sekali dua kali saya mendengar seperti ini. Puluhan bahkan mungkin ratusan kali. Kuping saya ini tempat sampah, jadi segala makian apa pun jenisnya, sindiran betapa pun kerasnya, atau ‘rasanan’ yang sedemikian halusnya pun masuk tanpa saringan. Percuma pakai saringan, jebol tak kuat saking banyaknya yang harus ditampung.

Orang kecewa sama orang itu biasa.

tope-kecewa           Pertama karena saking besarnya rasa sayang dan cintanya kepada yang bersangkutan. Bisa jadi alasan. Karena rasa sayang saja sudah sering kali menjerumuskan untuk tidak objektif dalam memandang dan memperlakukannya. Apalagi rasa sayang yang berlebihan, pasti akan lebih subjektif, bisa ditambah makin protektif, atau malah bisa jadi muncul sikap obsesif baik disadari atau tanpa sadar.

Kedua karena terlanjur terjebak dalam ‘frame’ tertentu. Orang menyebutnya pencitraan atau imaging yang agak keren. Misalnya karena selama ini kita kenali sebagai orang bijak, maka dia tidak boleh tidak bijak. Karena dikenal sebagai orang baik, maka dia tidak punya sisi buruk dalam dirinya. Atau karena dia seorang motivator maka dia tak boleh terlihat galau, lemah semangat, dan gagal menyelesaikan masalah.

Berikutnya, orang kecewa sama orang lain biasanya karena apa yang dilakukan tidak selalu memuaskan dirinya. Tidak selalu pas dengan yang diharapkannya. Banyak cerita, banyak kejadian dan peristiwa untuk contoh-contoh semacam ini.

Saya pernah sangat kecewa, ternyata orang yang mengklaim sangat agamis dan intelek, tidak bisa menerima perbedaan, sulit terbuka untuk dialog, dan cenderung keukeuh dengan argumennya. Tidak masalah, tapi satu hal, klaim keshalehannya sangat mengecewakan saya. Setahu saya, ciri keshalehan adalah rendah hati, tawadhu, luas hati, dan memperlakukan orang lain dengan segala kemuliaan.

Berkali-kali saya berhadapan dengan orang seperti ini. Padahal saya selalu datang dan mengaku sebagai ‘bukan orang shaleh’.  Harapan saya, ya keinginan saya, kehadiran saya menjadi peluang kebaikan bagi meluasnya ilmu, mengaruskan manfaat bagi dia, dan menjadi lahan menyemai banyak kebaikan dalam diri saya. Tetapi itu tidak terjadi. Ya tidak apa-apa. Toh itu maunya saya. Bisa saja dia melihat saya lain. Dari perspektif yang berbeda, dengan segala keyakinan, ilmu, dan pengalamannya. Mungkin saya ini apalah, tiada berguna, buang waktu belaka, atau tiada artinya.

Itu hanya contoh saja betapa saya pernah kecewa. Setelah tahu ya sudah…

Apakah saya membencinya? Tidak. Saya biasa saja. Kekecewaan tidak pernah mengubah apa-apa dalam diri saya. Saya hanya mendapat pelajaran baru, “Oh, begitu!” Setidaknya membuat saya semakin paham karakter banyak orang. Semakin tahu banyak sifat orang dan semakin paham bagaimana menyikapinya. Mungkin tampak menghibur diri, tapi ini yang saya lakukan. Menempatkannya sebagai manusia! Ya, tidak ada manusia yang sempurna. Bisa salah, bisa keliru, kadang menyenangkan, kadang menyebalkan. Sesekali konyol, tapi bisa juga dia bijak. Karena tidak ada manusia yang semua isinya kebaikan, tidak ada pula manusia yang semua isinya keburukan. Itu cara saya… seperti halnya saya memilih diri untuk tetap menjadi manusia.

“Kok kamu nggak pake kopiah…” sering sekali saya ditegur sama orang masjid yang sudah akrab. “Masak shalat pakai kaos…” ada juga yang menegur seperti itu. Ini hanya contoh kecil. Terus terang, apa yang saya lakukan, menjadi bagian sikap dan cara menyikapi saya pada keadaan. Saya tidak lagi peduli hal-hal simbolik. Walau itu mungkin nilainya lebih mulia dibanding sikap yang saya pilih. Kalau tidak setuju ya silakan, tidak suka ya monggo…

Hal-hal artifisial, sesuatu yang hanya tampak. Memperlihatkan sesuatu hanya sebagai buih-buih belaka atau gelembung-gelembung balon kosong buat saya tak penting. Ilmu penting, pinter penting, tapi penghayatan dan eksekusi ilmu menjadi amal lebih penting. Saya pernah juga kecewa dengan keidealan-keidealan yang seolah-olah diamini dan jadi benar. Kalau tidak begitu maka tidak ideal, kalau tidak ideal maka tidak bahagia. Pret! Justifikasi kebenaran itu seolah-olah absolut sekali milik orang-orang tertentu. Mendefinisikan keidealan, kebahagiaan, kehidupan yang baik dan benar, seperti orang jualan kecap. Semua nomor satu.

Saya sudah menua, kalau tidak belajar saya akan menjadi orang tua yang bodoh. Dan saya tentu tidak mau dikenang menjadi orang tua yang bodoh. Kekecewaan demi kekecewaan rupanya diciptakan agar kita belajar, agar kita luas hati, kemudian rendah hati untuk terus belajar, mengikhlaskan keadaan, menjadi diri sendiri, apa adanya, dan bahagia dengan semua yang ada. Karena kita tak hidup di dunia maya…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s