Sudut Pandang

Galau itu Milik Kita


Setiap kali ada berita yang di-blow up menjadi besar, selalu melintas di benak saya, “Apa mereka nggak punya orang tua, ibu, bapaknya, anak-anak dan keluarga besarnya?” Bagaimana perasaan mereka, kalau kasus yang itu terus membesar, membesar dan membesar. Semua orang berbicara atas dasar informasi yang semakin bias, semakin beraduk dari fakta, asumsi, hingga opini dari berbagai pandangan. Tak peduli!

Sekadar contoh kasus yang sedang ramai saat ini. Ternyata kegalauan milik semua orang. Tak peduli status ekonomi, sosial maupun tingkatan usia. Dalam sebuah wawancara di televisi, wartawan senior Ilham Bintang menyampaikan pandangannya terhadap kasus GB yang tertangkap pasca terpilih menjadi ketua Parfi. “Banyak orang kaya, banyak duit tapi tidak punya status sosial. Maka mereka akan mendapatkan dengan uangnya.” Tidak sama persis tapi setidaknya demikian intinya.

Kita juga paham, berorganisasi hari ini sangat berbeda dengan zaman orde baru. Karena zaman sudah berubah, membuat organisasi sangat mudah, berkomunitas terbuka luas, berserikat dan berkumpul dapat dilakukan siapa saja. Bagi orang film, orang-orang dalam lingkaran kerja perfilman mungkin bertanya, siapa GB. Apa kompetensinya, dedikasi dan kontribusi apa yang sudah diberikan terhadap dunia perfilman Indonesia? Tentu pro kontra, tapi kejernihan tetap membunyikan kebenaran dalam hati nurani.

Sekarang ini banyak sekali organisasi yang sering terdengar aneh, unik, dan tampak ‘apa sih’. Tapi diketuai oleh seorang yang kaya raya, pernah menjadi public figure, dan sepak terjang organisasinya nyaris tak terdengar. Kedangkalan saya mengiyakan, pembuktian teori Maslow, eksistensi adalah puncak kebutuhan seseorang. Contohnya ya, GB yang konon tak sayang mengeluarkan uang hingga milyaran untuk menjadi ‘ketua’ seperti yang saya dengar di sebuah acara televisi pagi.

Kegalauan GB ternyata tak hanya masalah eksistensi. Ada kebutuhan lain, memiliki pengikut, untuk menguatkan eksistensi. Caranya? Mendirikan padepokan untuk menampung orang-orang galau. Dia tahu, banyak sekali orang galau di wilayah yang dibidiknya, dunia selebriti. Star syndrome mulanya… semua ingin terkenal. Rumusnya sederhana, masuk ke lingkaran itu. Entah jadi apa, ikut arusnya, ikut putarannya. Jadilah terkenal, apa pun brandingnya. Karena tanpa kompetensi yang baik, lingkaran itu cepat sekali putarannya, sehingga mampu melempar siapa saja, kapan saja, dari pusarannya.

Post star syindrome…

Begitu saja cerita cepatnya. Kehidupan berubah, penghasilannya terutama karena job menurun, popularitas turun, orang-orang mulai abai. Tapi gaya hidup sudah terlanjur berstandar borju. Sulit untuk kembali ke selera asal, susah untuk kembali menjalani kehidupan sebagai orang susah seperti awalnya. Galau! Bahkan frustrasi… Ada yang memilih sendiri, ada yang mencari teman. Ada yang benar jalannya, ada yang salah pilih teman.

Padepokan GB hanyalah salah satu saja, banyak padepokan atau apa pun namanya dengan praktik sama. GB juga hanya salah seorang saja, banyak lagi orang yang menggelari dirinya sendiri dan mengaku memiliki kekuatan tertentu sebagai tameng dan topeng dari kelakuan menyimpang, tidak benar, atau kalau agak kasar disebut, “kebejatannya.” Banyak fenomena semacam ini di masyarakat yang tak ter-cover media. Itulah bedanya dengan GB yang memilih berdekat dengan selebritis yang empuk jadi berita media.

Banyak sekali orang galau, entah karena urusan asmara, rumah tangga, pekerjaan, ekonomi hingga posisi sosialnya di masyarakat. Jangankan orang-orang dengan kedudukan tinggi, pemimpin, tokoh masyarakat, selebriti. Kita saja, sebagai orang biasa bisa sangat galau. Seperti orang mengantuk, kegalauan perlu diistirahatkan. Tidurlah, biar otak, otot, dan fisik yang lelah beristirahat. Seperti orang lapar, kegalauan perlu asupan makanan. Kalau batinnya yang lapar, berdialoglah dengan Tuhan. Kalau fisiknya yang lapar, ganti makanannya dengan yang halal dan sehat. Galau juga seperti orang bingung, dia perlu diarahkan. Dan arah terbaik dari kehidupan manusia semua orang itu jelas, tidak perlu dijelaskan.

Persoalannya…

Apakah mereka yang ‘nyasar’ itu tidak punya orang tua? Tidak punya keluarga. Bukankah tempat terbaik untuk pulang adalah orang tua dan keluarga? Arah pulang terbaik dari kegalauan tentulah keluarga. Bukan sebaliknya, lari dan menjauh. Banyak contoh, lari dan menjauh justru semakin membuat keluarga terluka. Apalagi bila terlibat kasus yang akhirnya terbuka di media. Apa perasaan orang tua dan keluarga? Mereka punya tempat tinggal, punya tetangga, kerabat, sahabat, dan teman kerja. Betapa berat kehidupan mereka karena akibat yang tak pernah mereka duga. Dibebani urusan yang sebenarnya bisa selesai di bilik kamar, di ruang keluarga, atau sambil bersantap malam bersama.

Teringat lagu kanak-kanak dulu, betapa mulianya keluarga… satu-satu aku sayang ibu, dua-dua aku sayang ayah, tigak-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga, sayang semuanya.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s