FUN Institute

Awal Mula Fun Institute


beasiswa

“Datang aja ke rumah, kita belajar sama-sama,” begitulah mulanya. Kondisi psikologis saya waktu sedang drop, sebuah peristiwa besar telah membuat saya lunglai. Namun saya tidak boleh cengeng, harus bangkit, dan ‘harus bermanfaat’ secepat-cepatnya. Dan itulah yang saya lakukan, mengumpulkan teman-teman yang ingin belajar menulis di rumah. “Saya belum bisa pergi terlalu sering dan terlalu jauh.”

Beberapa orang bersepakat pada hari dan waktu untuk berbagi pengalaman di rumah saya. Ditajuki ‘Beasiswa Kelas Menulis Cerpen’, ‘Beasiswa Kelas Dasar-Dasar Editing’, dan seterusnya. Saya hanya berbagi pengalaman dari sedikit yang saya punya dan saya bisa. Kebetulan saja, saya sedang menjadi redaktur majalah cerpen, kebetulan juga sebelumnya saya jadi editor buku di sebuah penerbitan.

Intinya, berbagi!

Mungkin ini sebab hikmah adanya setelah kejadian. Bermula dari permintaan ibu saya untuk bekerja di rumah saja. Beliau tidak tega saya harus pergi sangat pagi dan pulang sering larut. Faktanya begitu, tapi saya membacanya sebagai teguran, “Kapan waktumu untuk Ibu.” Karena akhir pekan pun kadang masih dipakai untuk keperluan lain. Belakangan saya merasa ini feeling tajam ibu, bahwa waktu bersamaku semakin sempit. Jalan menuju Tuhan semakin dekat.

Betul saja, ketika semua dipersiapkan. Kavling sebelah rumah yang semula hanya dipagar, dibangun, dari mulai bikin pondasi, meneruskan menjadi bangunan. Ibu saya senang, bahkan dia meminta disisakan tempat buat tanaman dan bunga-bunga. “Nanti ibu bikinin kolam air mancur ya…” Semua saya sanggupi. Hingga bangunan hampir selesai, tinggal finishing, mendadak ibu saya sakit dan harus masuk rumah sakit. Bangunan terbengkalai, terhenti tepatnya. Karena saya harus fokus mengurusi ibu di rumah sakit.

Berhari-hari sepeninggal ibu, saya sering terpekur di balik jendela. Membayangkan ibu saya mengurusi tanaman dan bunga-bunga diiringi gemericik air mancur. Sepulang kerja, saya selalu naik ke lantai atas. Teringat kata ibu saya, “Nanti kerjamu di atas, biar nggak keganggu.” Dalam kelelahan lahir dan batin saya sering terpekur berlama-lama di awal-awal pekan kepergian ibu di ruang atas. Tak ada yang mengganggu.

Ada banyak sesal walau saya sudah merasa berbuat terbaik di akhir hayatnya. Dari pindah kerja ke tempat yang lebih dekat. Bisa berangkat agak siang dan pulang bisa diatur. Mengurangi kegiatan keluar akhir pekan. Semua itu saya lakukan agar waktu bersama ibu lebih banyak. Termasuk memenuhi semua permintaannya ke mana pun dia mau. Tak peduli waktu.

“Jadilah orang yang bermanfaat, itu bekal untuk selamat…” begitu pesannya.

Saya sadar, tidak sebaik ibu saya. Tidak pula bisa menyusul langkah cepatnya untuk turun tangan membantu orang-orang yang memerlukan. Ini pernah saya katakan padanya, dan dia bilang, “Kamu sekolah lebih tinggi dari Ibu, kamu punya banyak kebisaan, kamu pasti bisa lakukan lebih baik dari ibu.” Hmm…

Semua berawal dari ibu saya. Begitu lugas, jelas, dan tanpa hijab mencontohkan tindakan cepat tanpa tapi. Ya, lakukan segera kalau itu baik, setidaknya diyakini itu kebaikan. Yup, saya tidak boleh terlalu lama hanyut dalam sedih. Walau tetap manusiawi dan dimaklumkan kalau sedih. Itu semua yang membuat saya segera turun tangan.

“Oke, mau belajar apa lagi? Sepanjang saya bisa, hayukkk…”

Pertama, saya harus mempertanggungjawabkan tempat yang terlanjur dibangun. Tempat ini harus menjadi manfaat. Kelak harus menjadi saksi, bahwa di tempat ini berlangsung transformasi banyak kebaikan. Kedua, di tempat ini menjadi ruang bagi saya untuk bisa berbagi, mengalirkan ilmu yang tidak seberapa untuk menjadi manfaat. Pilihannya jelas, ilmu harus bermanfaat. Seberapapun itu. Di tempat ini pula, saya mewujudkan keinginan terakhir ibu, “Kerja di rumah saja, jangan jauh-jauh…”

Setelah berlangsung beberapa sesi kelas beasiswa, akhirnya saya memiliki keberanian menulis di dindingnya, FUN INSTITUTE. Di bawah tulisan, ditanami bunga-bunga dan dibuatkan kolam air mancur… persis seperti permintaan mendiang ibu saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s