Story & History

Menemani Orang Tua


 

Kadang kala, banyak kata-kata yang kita lepaskan tanpa sadar mengandung tendensi memamerkan. Mungkin tidak disadari, karena situasi tertentu, lawan bicara seolah memberi peluang dan sinyal ‘tersihir’. Maka dorongan untuk menaikkan satu atau dua digit keakuan muncul. Ada yang terkontrol, ada yang bablas bicaranya ketinggian dan lupa daratan. Tidak terkontrol lagi.

Inilah yang sering saya garis bawahi dan pegang betul. “Tetaplah jadi manusia, agar mudah menjadi diri sendiri. Agar mudah memaafkan diri sendiri.” Karena godaan untuk tidak jadi diri sendiri itu besar sekali. Arus gelombang untuk narsis dalam pergaulan saat ini luar biasa derasnya. Pun dengan ruang yang siap pakai untuk melakukan itu banyak sekali pilihannya, termasuk akses ‘kapan pun’ waktunya.

tope-menemani-orangtua            Memang hidup itu pilihan. Tapi bagaimana kita konsisten dengan pilihan dan asyik dengan pilihan kita itu tidak mudah. Inkonsistensi, ketidakpaduan antara akal pikiran, hati dan tindakan itu banyak sekali contohnya. Bahkan terjadi pada orang-orang yang saya sebut patut diteladani.

Semisal tentang isu, seorang imam masjid yang saya kenal sekali mengizinkan anaknya menikah beda keyakinan. – Bagi yang beda sudut pandang, soal boleh atau tidak silakan diperdebatkan. Atau mencontohkan Buya Hamka toh merestui adiknya menjadi non muslim, misalnya – Tapi terus terang saya shock! Saya sangat mengagumi orang tua ini, menghormatinya, dan memberikan tempat istimewa dalam hidup saya. Karena saya melihat banyak hal baik yang perlu diteladani serta beberapa hal yang patut ditiru.

Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu semuanya. Tidak saat rumor berkembang sedemikian ramainya. Ya, saya menunggu waktu. “Pada saatnya, semua akan dibukakan, diterangkan seterang-terangnya…” begitulah keyakinan saya. Pada saat itu, reaksi orang-orang yang mengenalnya bermacam-macam. Ada yang menghujat, sebagian mengucilkan, mengacuhkan, dan menggunjing tak kenal waktu dan tempat. Hanya sedikit yang bertahan untuk tetap menemaninya.

“Cobaan saya berat sekali…”

Ada kesempatan saya untuk menemaninya. Menyediakan telinga untuk mendengar. Dengan tetap menempatkan dia sebagai orangtua. Orang tua itu berarti, selain orang yang sudah tua secara usia, tapi juga orang tua yang di pundaknya bertengger banyak tanggung jawab. Terutama tanggung jawab untuk menjadikan anak-anak yang shaleh seperti sering sekali menjadi tema ceramahnya. Tidak perlu lah, saya menjelaskan tentang keshalehan itu.

Saya juga menempatkan dia sebagai teman. Karena setahu saya, semakin usia seseorang meninggi, semakin sedikit temannya. Sama seperti ketika kedudukan seseorang, status sosial maupun status ekonominya meninggi, semakin sedikit temannya. Bisa karena sungkan bagi orang lain, bisa karena selektifitas yang bersangkutan dalam berteman. Saya berusaha menjadi yang sedikit itu tanpa sungkan, tanpa pretensi, dan semata-mata berusaha paham, semua orang butuh teman. Orang tua juga manusia, butuh teman. Terutama teman yang mendengar di kala berbagai cobaan datang deras bagai hujan yang tak berkesudahan.

Dari banyak waktu bertemu dan berdialog. Saya memetik banyak pelajaran. Pertama, semakin tinggi semakin kencang anginnya. Tinggi di sini bukan hanya popularitas, kekayaan, atau status seseorang. Tapi termasuk tinggi hati! Seperti saya bilang di awal, mungkin tidak disadari, mungkin karena kesempatan. Hati-hati, tinggi hati bukan lagi berurusan dengan angin yang kencang, tapi dengan angin yang lebih kencang. Kedua, pentingnya keselarasan pikiran, tindakan dan ucapan. Begitu tidak satu jalan, tidak satu arah dan gelombang. Maka efek balik pada pemiliknya deras tak terbendung. Apalagi bila berhubungan dengan sitiran ayat, dalil, hikmah. Tidak terbayangkan. Itu sebab saya sangat menghindari karena memang tahu diri, betapa dangkal dan sempitnya perihal ini pada diri saya. Biarlah ahlinya saja…

Pelajaran penting lainnya, memulai segala apa pun dari diri sendiri. Ini juga yang mendiang ibu saya pesankan. Mengapa banyak orang yang tak melakukan apa-apa memiliki daya magnetis tinggi. Disukai banyak orang, disegani, diteladani. Karena dia memiliki kekuatan yang pasti dan jelas. Tanpa bicara dia sudah melakukan pada dirinya sendiri, kalaupun dia ucapkan, menjadi penegasan yang jelas contohnya.

Tidak semua yang ada dalam diri orang tua itu benar semua. Tapi ada cara baik untuk meluruskannya. Setidaknya dengan mendengarkannya, setuntas-tuntasnya. Ketika mulai berkurang kepenatan yang berjubel dalam dirinya, kejernihan akan menelisik di rongga dan sela-selanya. Sehingga kita selamat, “Tidak melawan orang tua…” Kadang sebagai yang lebih muda terlalu bersemangat, merasa lebih kekinian, terbuai kedangkalan, dan terjebak menceramahi.

Kalau begitu, apa bedanya?

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s