Story & History

Kembali ke Masa SMA


Bukan teman lama, tapi teman-teman yang sudah lama tidak bertemu. Tetap teman, tidak ada yang lama. Baru itu suasananya, waktu bertemunya. Karena selepas sekolah, pilihan dan konsekuensinya membawa mereka berhambur di mana saja. Saya bahagia, karena ada sebagian teman yang mau bersusah payah, membuat acara, mengumpulkan teman-teman semasa sekolah, di sela-sela berbagai aktifitas dan perannya.

Buat panitia reuni, tentu mereka tak excited lagi. Rapat demi rapat, pertemuan yang intens, baik langsung maupun dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Tapi buat saya, buat teman-teman saya yang tidak terlibat kepanitiaan, “Wow…” senang sekali bisa ketemu dengan berbagai rasa. Bagi yang punya mantan, mungkin deg-degan, salah tingkah, mengira-ngira banyak gerangan. Bagaimana nanti, bagaimana sebaiknya.

Model kayak saya, ya biasa senang saja bawaannya.

Lha, zaman sekolah dulu pikirannya hanya main. Jadi yang terlintas ya bakal kembali ketemu teman-teman sepermainan yang sekarang sudah berumur. Walaupun menurut kriteria terbaru versi WHO, usia di antara 18-65 tahun itu masuk kategori pemuda. Menghibur banget nih rilis WHO. Jadi kalau saya semangat datang reuni, ceritanya ya tidak jauh dari anak muda dan perilaku kacaunya saat bersekolah.

sekelas“Gue inget banget, elu kalo sekolah tuh bukunya satu, bajunya nggak pernah dimasukin, nggak dikancingin sampai kaos dalemnya belepetan ke mana-mana…” sambil tertawa teman saya, Uyank mengingatkan betapa berkelasnya pilihan fesyen saya. Meski membuat saya tersipu, tapi saya tidak malu. “Seksi ya…” saya menyahut. “Iiihhh… amit-amit dah!” dan pecahlah tawanya. Uyank adalah teman istimewa yang membuat saya bisa ‘bertaubat’ dengan kenang-kenangannya menjelang perpisahan. Makasih ya Yank…

Meski sudah lama sekali tidak berjumpa, beberapa masih saling bersama, saling bersapa. Pada setiap teman, saya punya kenangan. Seperti saya dan Uyank.  Dia dulu itu termasuk yang pintar di kelas. Baik juga, jadi bisa dimintai contekan tanpa banyak komplain. Facebook termasuk yang cukup berjasa menemukan teman-teman yang lama tak berkabar. Meski berkabar, bertelepon, ditambah whatsapp-an tapi baru bertemu pas reuni.

Semua teman saya kangeni, saya rindui…

Maya yang dulu ditaksir banyak cowok lintas kelas, ternyata sudah lama tinggal tidak jauh dari rumah saya. Pramugari senior Garuda ini ternyata selama ini bertetangga. Tapi tak pernah berjumpa. Terlaluuuu… kalau kata Bang Haji Rhoma. Ibarat kata, gue jongkok, jemurannya aja keliatan dari rumah. Begitulah salah satu berkah reuni. Bertemu masa lalu dalam kekinian. Ada Wita yang sejak sekolah sudah jadi dubber dan sekarang supersibuk dengan bisnisnya, Dian yang awet mungilnya, Ary yang sudah mulai ubanan, Meyta yang tetap kalem, Mervin yang tetap gede besar seperti raksasa, meski saya sudah melar, tetap saja tak bisa menyamainya. Lia yang tetap bawel, tak terhitung berapa ribu kata dikeluarkan meski dalam perjalanan singkat dari Depok sampai pintu tol Veteran. Estin kini lebih keibuan, Sri elegan banget, Diana, Tety dan banyak sekali tak mungkin saya sebut satu-satu.

Pasti ada yang istimewa, itu pasti.

Dia teman sebangku dari kelas dua sampai kelas tiga. Satu-satunya murid di kelas itu yang duduk berpasangan. Sebabnya ya sederhana. Ketika berbagi tempat duduk, sisa laki-laki satu, saya… dan perempuan satu. Ya sudah, keadaan yang menyatukan kami. Namanya Eka, dulu langsing kayak saya, sekarang langsungan juga kayak saya.

Karena kondisi begini, beberapa kali saya dan Eka sering ditegur kalau pelajaran agama. Tidak boleh laki-laki duduk dengan perempuan. “Lha, terus saya suruh ngegoler di lantai, Pak…” saya nyeletuk. Dulu tidak ada takutnya, tidak ada sungkannya, tapi saat reuni menghadirkan para guru, terutama guru agama itu, saya pun mencium tangannya, sebagai tanda hormat saya pada beliau. Memeluknya, sebagai tanda terima kasih dan kesyukuran bisa dipertemukan kembali. Dan tentu saja, “Saya Taufan Pak, minta maaf. Dulu bengal, nggak nurut…” malu-malu mengaku dan agak terharu. Terakhir saya hanya bisa mendoakan beliau.

Saya dan Eka punya banyak kenangan. Namanya juga teman sebangku. Pernah dijutekin waktu mata di fotonya saya coret-coret jadi tampak juling. Ternyata dia sulit lupa. Dia yang sering bawel karena saya tidak pernah mencatat, bercanda melulu, dan sering ngisengin teman. Sering ngajak bolos, haiyah… banyak sekali daftar kejahatan saya. Selepas SMA, kami masih saling bertemu. Dia tahu persis siapa saya, waktu memperkenalkan istri saya, dia nyeletuk, “Kok mau sih sama Topeng…” Topeng adalah panggilan sayangnya pada saya, seperti saya selalu memanggilnya Mak. Dia juga yang sering membantu dan selalu membesarkan hati saya. Makasih Mak…

Reuni bagi saya berbagi bahagia, meski tidak semua teman dalam kondisi serupa. Sekaligus menjadi momentum untuk menumbuhkan simpati dan empati. Berbagi untuk teman-teman yang tidak beruntung, yang sakit, dan memiliki masalah ekonomi, pekerjaan, dan lainnya. Berpikir positif saja, karena waktu sudah mendewasakan teman-teman semua. Tidak perlu terbingkai perasaan rendah diri, tidak sukses, atau malu masih sendiri, belum punya anak, rumah masih ngontrak.

Tidak perlu berprasangka buruk bahwa reuni menjadi ajang pamer ini itu. Wajar saja puluhan tahun lepas dari SMA, kuliah dan bekerja keras, sehingga mereka memiliki pencapaian-pencapaian seperti hari ini. Saya sih berpikirnya karena itu sudah rezeki mereka, berkat dari kerja keras mereka. Toh tanpa memiliki itu semua, kita masih bisa menikmatinya, “Nebeng ya pulangnya, pengen nyobain mobil bagus…” Atau malah tanpa diminta justru tawaran berdatangan. Saya dijemput Uyank di rest area, enak kan…

Saya tidak punya apa-apa, tidak jadi siapa-siapa… tapi saya datang dan bahagia punya banyak teman yang masih ingat dan menyayangi saya. Hingga selepas reuni, saya berjanji dalam hati, setiap ada kesempatan, saya akan sempatkan mengunjungi dan menemui mereka di mana pun.  Kalaupun saya menyesal ketika reuni, “Mengapa dulu saya tidak serius waktu sekolah…” Padahal kata kepala sekolah saat sambutan, “SMA kita, termasuk dalam jajaran SMA terbaik di seluruh Indonesia.” Hihihi… jadi malu sayah!

#oleh-oleh reunian SMAN 1 Depok, 7 Agustus 2016

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s