Story & History

Bahagia Sebisanya


“Kalian ini kelihatannya senang terus ya…” kata seseorang yang datang ke rumah. Istri saya hanya tersenyum. Sementara saya terpaksa harus meluruskan. Tentu sangat tidak benar kalau saya dan istri itu senang terus. Mana ada orang yang hidupnya senang terus. Walaupun diguyuri harta benda dan emas permata setiap hari. Tidak ada.

“Mungkin situ ngliatnya waktu kami sedang senang…” kata saya.

“Nggak kok, beneran. Buktinya saya belum lama di sini sudah tak henti tertawa.”

Saya hanya tersenyum. Tertawa adalah cara paling sederhana, murah, dan bisa dijangkau agar saya dan istri merasa bahagia. Saya tidak melucu, saya hanya mengajak pasangan saya menertawakan diri sendiri, meski sedang dilanda runyam rumit dan gundah gulananya rasa.

“Istri saya, semakin tidak punya uang, tertawanya semakin keras…” jelas saya. Dia malah tertawa. Entah karena tidak percaya atau mengira saya bercanda. Padahal saya mengatakan apa adanya.

tope - tertawa Tidak seperti suami lazimnya, seorang pekerja dengan tingkatan karier dan penghasilan yang jelas. Saya ini menggelandang tak jelas di dunia kerja. Sehingga sangat tidak mungkin saya bisa membahagiakan istri dengan kelebihan harta, emas dan berlian. Percayalah, tak bakal ketemu istri saya keluyuran belanja di mal.

Saya tahu diri, cara membahagiakannya ya dengan menertawakan diri sendiri saja. Syaratnya sederhana. Cukup dengan bersyukur. Itu saja. Apa yang didapatkan hari ini nikmati. Apa yang belum tercapai, diusahakan sebisanya. Apa yang bisa dikerjakan, kerjakan maksimal. Kalau ada keinginan yang tidak tercapai, ya tidak apa-apa, bisa jadi memang tidak penting dan tidak butuh. Cuma sekadar keinginan.

Soal keinginan, saya dan istri pernah balapan membuat daftarnya. Bukan main banyak dan panjangnya. Pokoknya tidak boleh ada yang tertinggal. Baik yang mungkin maupun yang mustahil. Tuntas sampai kerak-keraknya. Setelah itu di antara kami saling membacanya. Luar biasa, selalu ada keinginan yang kembali lahir di sela-selanya.

Setelah capek membacanya, tinggallah kita tertawa.

Menertawakan keinginan yang menggila. “Capek ya menuruti keinginan,” kata istri saya. Padahal baru mencatat saja, belum mewujudkannya. Kemudian, pembicaraan beralih kepada kebutuhan, apa yang kita butuhkan, besok, hari ini, sekarang. Ternyata, menuliskan kebutuhan sangatlah singkat. Kesimpulannya, “Kita hanya butuh bersyukur untuk bahagia.”

Kalau orang bilang bahagia sederhana, ya sesederhana itu saya dan istri memakna. Misal, bicara soal kuliner, makanan, minuman dalam berbagai bentuk. Ujungnya, soal selera. Tidak bisa diperdebatkan soal enak dan tidak enak. Lidah Pak Bondan “Makyuss” Winarno dan penikmat rasa yang seliweran di televisi itu berbeda dengan lidah saya dan lidah istri. Wong rasa adanya hanya selintasan di lidah. Setelah lewat tenggorokan ya sama saja, sedemikian juga hasil akhirnya. Maka saya sering bilang, makanan itu ya adanya enak dan enak banget. Kedua rasa itu tidak terpaku harga, cara masak, maupun tempat makannya. Tapi makanan yang ada tepat di waktu yang pas. “Pas laper, eh ada yang bisa dimakan!”

Seperti juga tidur… syukur ketemu idealnya. Tempatnya enak, nyaman, kasurnya empuk, berpendingin, seperti di hotel. Tapi ternyata tidur paling enak itu ya kalau ngantuk. Mau di sofa ruang tamu, di karpet depan tivi, atau di selasar masjid kalau sudah ngantuk ya langsung tidur. Apalagi sampai mendengkur, wow… bangun lengannya kesemutan karena buat bantal tak masalah.

Hal-hal kecil seperti itulah yang berusaha saya dan istri nikmati. Tentu ada unsur menghibur diri. Karena saya tahu, siapa lagi yang mau peduli pada orang-orang macam saya. Datang dengan suka cita dan bilang, “Mas, kedatangan saya kemari ingin menghibur. Karena saya lihat Mas dan Mbak hidupnya selain kurang piknik juga kurang hiburan.”

Pret!

Jadi kalau kelihatannya saya senang terus, itu karena semata-mata saya tidak ingin menyusahkan diri sendiri. Ketika saya bisa melepaskan diri dari yang susah-susah, saya mengajak istri saya untuk hal yang sama. Bukan berarti hidup kami tidak ada masalah, tapi saya dan istri yakin banget, “Bersama kesulitan ada kemudahan.” Itu yang pertama, berikutnya, saya dan istri yakin juga, “Kita bukan orang yang paling menderita, masih banyak orang lain dengan persoalan yang lebih rumit dan lebih berat.”

Terakhir, tetap jadi manusia. Agar tetap bisa salah, bisa keliru, bisa bodoh, bisa sotoy meski otak kosong. Serta yang lebih penting, bisa sok pinter walaupun tidak pinter.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s