Ibu, Story & History

Sulitnya Jadi Istri


Jadi istri itu sulit, apalagi jadi istri saya…

Belasan tahun silam, hal pertama yang saya utarakan kepadanya adalah, “Aku anak tunggal, berarti kamu bakal jadi satu-satunya menantu ibuku. Kalau ibuku anaknya banyak, maka mantunya bakal banyak. Kalau nggak cocok sama mantu yang satu, bisa pergi ke mantu yang lain, terus begitu.” Saya melihat wajah menerawang penuh kecemasan, khawatir, dan prasangka tak terlukis dari ‘calon’ istri saya waktu itu.

“Berat?” tanya saya.

Dia tidak menggeleng, tidak mengangguk. Tapi dia menatap mata saya. Pertanda, dia yakin, bersama saya dia bisa lakukan itu.

“Saya tidak mencari menantu buat ibu, tapi mencari istri yang bisa jadi anak perempuan buatnya. Istriku adalah anak perempuan ibuku. Jadi berlakulah sebagai anak perempuan yang menjaga ibunya, tidak perlu kujelaskan apa itu.”

Dia tersenyum. Artinya?

tope bwHampir tidak ada masalah adaptasi di masa pernikahan saya. Istri saya yang anak kost tahunan, sangat terbatas pengetahuan dan keterampilan memasaknya. Ibu saya membimbing, mengajari, dan mengajaknya menikmati dapur. Bukan hanya untuk belajar memasak yang enak, – karena ibu saya masakannya enak -, atau memberi tahu resep masakan kesukaan saya, makanan warisan turun temurun keluarga saya. Tapi lebih dari itu, ada transformasi dan sublimasi dari mertua menjadi ibu, dan dari menantu menjadi anak perempuan.

Walhasil…

Alhamdulillah… Hampir semua proses berjalan baik-baik saja. Kisah seteru mertua dan menantu tidak terjadi pada ibu dan istri saya. Keduanya saling menjaga. Tidak mulus semuanya, tapi selalu ada jalan baik dan cara baik untuk menyelesaikannya. Menjadi istri saya, berarti menjaga dua orang yang istimewa. Saya sebagai suaminya. Lalu ibu saya, orang nomer satu bagi saya yang tiada seorang pun boleh menyakitinya. Seperti janji kami di saat yang paling sepi dalam pelukan dukacita, masa paling nadir dari kehidupan saya dan ibu, “Kita sekarang hanya berdua, kamu sama ibu. Hidup ibu hanya untuk kebahagiaan kamu. Jadi kamu juga harus lebih sayang ibu, bisa jadi kebanggaan ibu.”

Sejak saat itu, hidup saya untuk ibu. Sejauh apa pun saya pergi, sepanjang saya bisa pulang. Saya akan pulang. Semalam dan selarut apa pun pekerjaan saya selesai. Saya akan kembali. Sesibuk dan sepadat apa pun aktivitas saya, selalu ada waktu untuk berkabar pada ibu. “Taufan baik-baik aja, bla bla bla…” Hidup saya hanya untuk membahagiakan ibu sebisa-bisa. Membuat bangga beliau, juga sebisa-bisa.

Makanya, berat sekali jadi istri saya. Tidak mudah, walau bisa asyik.

Ada yang menganggap ibu saya galak. Sehingga ada orang yang menganggap, “Kasihan banget itu jadi mantunya…” Kenyataannya? Ibu dan istri saya bisa seperti teman. Biasa belanja bareng, jalan-jalan berdua, atau pergi ke mana tanpa saya. Inilah persepsi, penglihatan dengan ilmu duga-duga, ilmu kira-kira, dan ilmu prasangka, seseuatu yang belum tentu benar, dilihat sepintas, tapi diyakini ‘sangat benar’ oleh orang itu. Sehingga pesan ibu saya, “Tidak usah ambil hati apa kata orang, apalagi hidup dengan ukuran kata orang. Fokus sama hidupmu.”

Ibu saya memang tegas, karena dia harus tegas. Hidup sendiri, menyandang status janda, dan harus berjuang sendiri menghidupi dirinya, anaknya, masih dibebani ini itu oleh keluarganya. Kesan itu direkayasa secara sadar sebagai salah satu cara untuk menghindari ‘keisengan’ laki-laki, juga ‘kekhawatiran’ para istri. “Status ibu itu serba salah, diam saja salah. Apalagi melakukan hal yang tidak bener. Tidak ada perempuan yang ingin jadi janda, ibu sendiri, karena bapakmu meninggal. Allah yang kasih. Kamu tahu artinya kalau Allah sudah memberi?”

Artinya, menjadi istri saya harus paham kondisi. Ia harus hidup dalam realitas, bukan di ruang persepsi. Orang mau ngomong apa tentang kita silakan, toh kita yang menjalani. Menjadi menantu seorang single parent, orang yang terbiasa sendiri, berpikir lugas dan cepat. Tentu butuh keterampilan adaptasi tersendiri. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin.

Itu baru berurusan dengan ibu saya, belum lagi berurusan dengan saya . Suami yang tak kunjung selesai bereksperimen dalam hidup. Ugal-ugalan mengendalikan setir bahtera rumah tangganya. Senang memilih jalan setapak, terjal, berliku, licin, dan becek. Tak terhitung berapa kali jatuh, tak terkira berkali-kali terpeleset, terpelanting berulang kali, bangun lagi, jalan lagi, jatuh lagi, bangun lagi, jalan lagi. Menjadi istri saya itu sangat berisiko. Jauh dari kemapanan, jauh dari ukuran kesuksesan orang kebanyakan.

Setelah ibu saya kembali ke haribaan Sang Maha Cinta dan hanya bisa bahagia dengan doa-doa anaknya. Kini saya berusaha membahagiakan istri saya. Tentu dengan cara saya. Apalah itu, seperti apa pun bentuknya. Memang tak bakal mengganti dengan segala kebaikan, ketulusan, dan pengorbanannya. Setidaknya, suami ‘gebleg’-nya ini tahu diri. Tidak perlulah dikira-kira, diduga-duga, insya Allah istri saya tahu bagaimana caranya bahagia bersama saya…

 

*hadiah kecil di hari ulang tahun istriku, Erawati

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Sulitnya Jadi Istri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s