Story & History

Nglinting Wae, Mbah…


“Sori, saya merokok…” tamu saya mohon izin. Tentu saya persilakan, “Asbaknya di luar. Karena biasa teman-teman kalau ngobrol sambil ngrokok ya di sana.” Saya menunjuk samping rumah, halaman yang sengaja dibuat ada saung, ada meja berpayung, dan gemericik air mancur untuk memecah hening. Itulah cara saya agar tetamu saya tidak merokok di dalam rumah.

Saya tidak anti orang merokok, tidak antirokok juga.

Dulu saya perokok, kalau menghabiskan dua bungkus sehari masuk kategori perokok berat, maka ada suatu masa, saya masuk kelompok itu. Kalau ditanya kapan mulai merokok? Dari sekolah dasar! Makanya, saya tidak kaget melihat anak-anak yang merokok. Karena dulu pun saya memulai ‘belajar’ merokok di usia itu. Dan baru menjadi perokok sesungguhnya ketika SMA. Mungkin saya tumbuh di wilayah orang kebanyakan, akar rumput, grass root, sehingga saya tidak kaget. Beda saya sama teman-teman saya yang lahir dan tumbuh dari rahim etalistik. Melihat dari balik kaca, sama sebanding, tapi tak satu frekwensi. Ada kekalisan, ada hijab yang menghalangi tumbuhnya emosi pada situasi yang tampak. Wajar, simpati dan empatinya berbeda dengan saya dan kebanyakan orang yang memang hidupnya di situ. “Dunia lain”

“Dia berhenti merokok sebelum menikah…” kata istri saya.

Banyak alasan tidak bisa berhenti merokok. Tidak apa, karena alasan memang harus banyak. Saya menghargai semua alasan. Karena saya tidak punya hak memaksa orang lain untuk berhenti merokok seperti saya. Sedemikian tidak punya ‘nyali’ untuk mengutip dalil-dalil yang memubahkan, memakruhkan, hingga mengharamkan.

Bagi saya, orang melakukan sesuatu, pasti ada alasannya. Ada argumentasinya. Punya dasar untuk melakukan hal tersebut. Meskipun dengan argumen terlemah dan tidak masuk akal sekalipun. Misalnya, merokok buat menguruskan badan. Tidak masuk akal, tapi dia yakini itu ya sudah. Merokok karena ikut-ikutan, kalau ada yang ngrokok ikutan minta, kalau lagi sendirian ya tidak merokok, wong tidak ada yang dirokok, mau beli sayang duitnya, atau malah tidak punya uang.

Ketika teman saya merokok di tempat saya, ada beberapa teman-teman lain berbisik, “Eh, si itu ternyata ngerokok ya…” “Kok, Mas Taufan bolehin sih.” Banyak lah. Ya tidak apa-apa. Alasannya sudah saya ungkapkan. Saya pun menghargai teman-teman yang tidak suka itu. Baik tidak suka dengan ‘orang yang merokok’, tidak suka dengan ‘asap rokok’-nya, atau memang tidak suka dengan semuanya. Termasuk pabrik rokok, iklan rokok, dan semua yang berhubungan dengan rokok.

Ketika saya berhenti merokok, alasannya apa? Ya karena ingin berhenti saja. Sesederhana itu. Terus caranya? Ya berhenti. Tidak membeli rokok lagi, tidak mengisap rokok lagi. Selesai. Tidak ada embel-embel lainnya. Sekarang, kalau ada yang menawari saya rokok, jawabannya, “Sudah pernah…”

Lagi-lagi soal kepernahan!

simbah            Kalau ada yang menganggap merokok itu menjijikan, simbah saya sampai akhir hayatnya merokok. Menolak rokok kretek atau pabrikan, dia melinting dan meramu sendiri tembakau, cengkeh, klembak, dan menyannya. Lintingannya tidak kecil, seperti lintingan orang nyimeng. Tapi segede jempol orang dewasa. Saya belajar melinting rokok dari mendiang simbah saya. Setiap kali ibu saya hendak ke rumah simbah, selalu mampir dulu membeli tembakau dan paket melintingnya di Toko Ge Thong.

Mungkin di sini bedanya, rokok pabrikan diracik dengan berbagai perasa dan campuran kimia. Nikotin dan tar adalah dua kata yang paling sering kita dengar. Silakan dicari sendiri apa itu tar, apa pula itu nikotin. Termasuk beberapa zat kimia lain yang membuat rokok begitu ‘terasa’ nikmat.

Sedangkan ‘tingwe’ atau ngelinting dewe (melinting sendiri), lebih berasa herbal karena unsur tembakau, cengkeh, dan akar klembaknya lebih dominan. Nyaris tanpa sentuhan bahan kimia. Bahkan untuk papir, pembungkusnya, di beberapa tempat menggunakan kulit jagung yang dikeringkan.

Saya percaya, sesuatu yang diciptakan dan ditumbuhkan itu ada manfaatnya. Termasuk tembakau. Setidaknya, dari pendeknya pengetahuan saya, ada beberapa manfaat tembakau bagi kita, dari sekadar melepaskan dari gigitan lintah, anti radang, obat pilek, bahkan mengandung protein anti kanker. Tentu semua itu disimpulkan dari kerja-kerja penelitian dan sangat ilmiah.

Mungkin itu juga yang membuat simbah saya memilih untuk melinting sendiri dan menolak rokok pabrikan. Bahkan dia sempat-sempatnya, diam-diam melinting tembakau dan mengisap dengan nikmatnya di lantai atas rumah, sebuah tempat yang fungsinya untuk jemuran. Saya meyakini, meski simbah saya orang lama, lahir di awal tahun 1900an. Tapi dia tahu manfaat tembakau, meramunya dengan tumbukan cengkeh, mencampurnya dengan klembak. Tidak seperti saya, yang katanya anak sekolahan tapi sangat ‘sok tahu’ dengan kedangkalan pengetahuan. Apalagi paham dengan kearifan alam…

“Nglinting wae, Mbah…”

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s