Ibu, Story & History

Bahagia yang Dekat


“Apa yang kamu cari?” tanya seseorang pada saya.

Belum sempat menjawab, dia sudah menyela lagi. “Saya lihat kamu bahagia, semua kamu miliki. Ngapain harus ngoyo, nguber apa?”

Pertanyaan demi pertanyaan tak kunjung usai. Saya bingung menjawabnya. Karena hampir semua jeda, berlanjut dengan pertanyaan lain lagi. Saya seperti diinterogasi. Tapi memang saya layak diperlakukan begitu. Saya sering menyadari, saya lost control, hilang arah, limbung dan perlu dihentak agak kembali keharibaan kehakikatan sebagai manusia.

“Saya jawab nih… udah belum nanyanya?” tanya saya.

Dia mengangguk sambil menyeruput kopi. Biasa, kopi sasetan. Itulah yang bisa saya suguhkan. Walau sebagaian orang menganggap kopi sasetan sebagai sirup berwarna hitam dengan segala ampasnya. Tidak mengapa, bukankah anggapan orang itu sah saja. Tidak perlu dipersoalkan tidak perlu diperdebatkan. Apalagi soal selera, ditambah soal gaya, ditambah soal remeh temeh lainnya.

Ini juga jawaban saya pada pertanyaan pertama teman saya. “Saya tidak mencari apa-apa. Saya hidup apa adanya, sebisa mungkin ada manfaatnya buat orang lain. Tidak sibuk untuk diri sendiri, itu pun bukan original dari saya, itu pesan mendiang ibu saya. Saya hanya berusaha jadi anak yang baik buat beliau, melanjutkan dan melaksanakan pesan baiknya.”

Dia mengangguk.

ibu - blog            “Saya nukilkan sedikit saja apa yang dilakukan mendiang ibu untuk keluarganya ya. Karena saya menjadi penyaksinya. Dulu waktu beliau ada dan sehat, tidak terhitung apa yang dilakukan untuk adik-adiknya, kakaknya, keponakannya, dan tentu orangtuanya. Tidak terbilang. Kalau soal uang, saya mengibaratkan ibu saya seperti ATM buat mereka. Mereka datang atau hanya bertelepon, lalu mengungkapkan apa yang mereka inginkan, dan ibu saya akan memberikan. Tidak sekali, tidak dua kali, berkali-kali dan berganti-ganti…”

Lagi-lagi teman saya mengangguk-angguk menyimak.

“Ibu saya bukan orang kaya, Alhamdulillah diberi kecukupan. Ibu saya pekerja keras, hidupnya keras. Single parent puluhan tahun. Mengisi waktunya dengan banyak pekerjaan. Lepas dari pekerjaan pokoknya, dia mengerjakan apa saja yang bisa menopang hidupnya bersama anak tunggalnya yang harus sekolah. Berharap agar saya tidak menjadi anak yang minder karena tidak memiliki apa yang teman-temannya miliki.”

Kali ini gantian saya yang tidak memberi ruang tanya pada teman saya. Biarlah dia menikmati kopinya. Walau hanya kopi sasetan belaka.

“Ibu saya bilang, berlakulah baik sama orang lain. Sama tetangga terutama. Sama orang-orang dekat di sekelilingmu. Selagi kamu bisa lakukan, lakukanlah. Lakukan terus, terus, jangan sampai kamu bosan baik dalam lapang maupun sempit. Banyak yang berterima kasih, tapi adakalanya, yang dikasih tidak berterima kasih, tidak ngerti terima kasih. Namun kata beliau, yang begitu itu cobaan agar kamu tidak berhenti memberi, tidak bosan berlaku baik. Lakukan saja terus…”

“Ibumu baik…”

“Saya tidak bisa sebaik ibu, dia terlalu baik…”

“Dari ceritamu, saya jadi malu. Tapi saya jadi tahu. Memberi itu soal kewajiban dan harkat. Kewajiban yang tumbuh dari kesadaran bahwa harkat orang yang memberi selalu lebih mulia dari yang diberi. Selalu lebih tinggi martabatnya dari orang yang meminta-minta.”

“Memberi bukan karena berlebih, ibu saya bukan orang yang berlebih. Dia hanya mengajari saya, berbagilah. Dan saya mulai tahu, mulai merasakan, ada bahagia di situ.”

“Iya, walaupun kopi saset, saya bahagia hari ini…” teman saya tergelak. Mungkin dia tahu, istri saya tidak mau repot dan tidak terlalu pintar meracik kopi.

“Sasetan wae, Lik…”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s