Sudut Pandang

Mental Gapura


“Besok bisa jadi? Pak Lurah pagi mau kontrol…”

Entah apa yang ada di benakmu, enteng banget ngomong begitu, tepat pukul 11 malam. Saat saya juga baru saja didera kantuk dan lelah, saat telepon dari seseorang menyuruh saya datang ke pertemuan itu.

“Apa-apaan ini! Main suruh sembarangan!”

Itulah refleks jawaban saya. Mukanya tetep lempeng, seolah tak bersalah, tak ada yang keliru dengan ucapannya. Malah menambahi, “Lha saya baru dapat intruksinya tadi jam delapan. Cuma saya baru baca jam sepuluh.”

13699572_120300000038097280_1140806458_o (1)            Dua orang yang menyertai saya dalam pertemuan itu hanya diam. Saya bilang saja, “Nih, Pak… saya kasih tahu. Pertama, bapak bertamu di jam orang menjelang tidur. Ini sama sekali tidak beretika. Kecuali ada sesuatu yang sangat genting, bencana, gempa, atau besok kiamat. Kedua, bapak ke sini itu nyuruh! Saya bukan siapa-siapanya bapak lho. Saya warga sipil biasa, sama seperti warga lainnya. Apa pun instruksi yang bapak bawa… saya tidak peduli… saya punya hak seperti warga lainnya. Kenapa bapak tidak melakukan ini kepada mereka.”

Dengan entengnya dia bilang, “Situ kan orang seni, pasti bisalah…”

“Apa?” saya mencelat!

“Bapak bawa duit segepok pun nggak bakal jadi itu gapura besok pagi! Apa lagi bapak ke sini lenggang kangkung nggak bawa apa-apa! Kalau mau juara, modalin! Jangan cuma nyuruh, terus pengen menang! Mental apaan begitu…”

Saya tidak peduli, dua orang yang menemani saya mukanya merah padam. Aparat model begini ini harus dicuci biar tahu dia berhadapan dengan siapa. “Bapak bawa duit berapa sekarang?”

Dia bicara melintir ke sana-sini. Mbulet! Bolak-balik sama sekali tidak bermutu. Intinya, nyuruh saya bikin gapura untuk program Kampung Ramadhan mewakili kelurahan. Karena dia berulang bicara, saya pun berulang bilang…

“Siapkan uangnya, bawa uangnya! Mau bikin model apa juga bisa kalau ada uangnya. Tapi kalau kita suruh keluar uang, maaf… bapak cari tempat lain saja.”

Mentok. Deadlock…

Menjelang jam 12 malam dia duluan pamit pulang.  “Udah malam, saya pamit duluan ya. Kasihan besok bapak-bapak ini harus kerja,” katanya.

“Lha bukannya bapak datangnya juga sudah malam…” sahut saya.

Dia bergegas menyalami saya dan dua orang lainnya. Mukanya datar. Tanpa rasa bersalah atau pura-pura saja. Mendadak baik tentu tidak baik. Saya sering papasan sama dia, tapi boro-boro dia menyapa, kasih salam, turun dari sepeda motornya ikut nimbrung. Songong!

Malam itu akhirnya saya terlambat tidur, karena kantuknya keburu hilang. Walhasil saya menemani sekuriti sambil ngopi. Hampir pagi saya kembali ke rumah.

Apa yang terjadi…

Orang semalam, ya orang kelurahan mendatangi rumah saya bersama rekannya perempuan. Masih sarungan saya temui mereka.

“Kok umbul-umbul belum dipasang?” tanyanya.

“Lha, siapa yang nyanggupi pasang umbul-umbul,” jawab saya.

Temannya yang perempuan melongo. Wajahnya bingung. Saya senang melihat gelagat tidak kompak seperti ini.

“Gapuranya juga belum dibuat ya,” tanyanya lagi. “Pak Lurah sudah mau ngontrol nanti jam sepuluh.”

“Lho, emang ada deal bikin gapura? Nggak ada kan?” jawab saya.

Lagi-lagi wajah teman perempuan sesama orang kelurahan itu kaget, bingung, dan agak kacau. Saya jelaskan pertemuan semalam. Dari saya ditelepon, saya hadir, isi pembicaraan, jam berapa dan seterusnya, tuntas. Perempuan itu melongo. “Begitu…”

“Begini deh, logikanya gimana… Bapak ini datang jam 11 malam. Nyuruh saya bikin gapura hari ini harus sudah jadi. Bawa uang juga nggak… nyuruh doang. Emang bahannya nggak beli, emang tukangnya gratisan? Kalaupun semalam dia bawa uang, mana ada material buka! Sederhana saja mikirnya, Mbak…” jelas saya.

Perempuan itu paham. Tampak lebih cerdas dari seniornya yang kemudian malah membelokkan pembicaraan. Mungkin malu, tapi apa iya dia punya malu. “Kita ke Bu Erwe aja, yuk…” dia mengajak rekan perempuannya .

“Bagus itu. Tapi nanti ujungnya juga ke sini juga. Percaya deh…”

Kedua orang itu pergi. Saya langsung ke toilet. Mules makin dengan pagi yang nggak banget! Beberapa saat kemudian saya dapat telepon dari Bu Erwe. Jawaban saya, “Mereka barusan dari sini. Intinya, mana duitnya… kalau nyuruh doang, ya nggak bakal jadi.” Saya mendengar tawa berderai di ujung telepon.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s