Story & History

Joko Kaiman Bukan Dongeng


“Katanya wong Mbanyumas, Joko Kaiman nggak kenal, priben sih!”

Ini peristiwa bercandanya suami istri kurang kerjaan atau stres banyak kerjaan. Untuk menghilangkan pegal pikiran , mending bercanda sambil menikmati tetangga dangdutan digenapi secangkir kopi.

“Emang Joko Kaiman siapa, Mas…”

Maka berceritalah saya dengan segenap jiwa raga demi istri tercinta. “Pernah dengan Wirasaba?” itu pertanyaan pertama saya. Diangguki. Pertanyaan kedua, “Pasir Luhur tahu?” Dia ragu, antara menggeleng dan mengangguk. “Pernah dengar-dengar gitu,” kilahnya. “Raden Banyak Sosro? Pernah denger?” Dia tegas menggeleng.

Baiklah cerita saya mulai…

Jadi dulu itu tersebutlah Adipati Pasir Luhur bernama Raden Haryo Banyak Sosro. Adipati lho ya, bukan bupati. Dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa, adipati itu memiliki kekuasaan bernama kadipaten, biasanya terdiri dari beberapa kabupaten yang dipimpin bupati. Nanti kita diskusikan lagi. Adipati Banyak Sosro ini mempunyai anak bernama Raden Joko Semangun alias Joko Kaiman.

Seperti tradisi para pembesar jaman itu, cara menyiapkan kepemimpinan itu biasanya dingengerkan. Diikutkan orang dengan maksud tertentu. Ngenger itu melatih seseorang untuk bisa menahan diri, mengendalikan diri, dan memiliki perasaan yang halus sehingga peka terhadap apa yang terjadi. Selain itu, ngenger juga menyebabkan kemandirian seseorang teruji, selain kecepatan dan kecekatan dalam mengambil keputusan dan tindakan.

Joko Kaiman dingengerkan kepada pasangan Kiai Sambarta dan Nyai Ngaisah atau sering kawentar dengan sebutan Kiai dan Nyai Mranggi Semoe di Kejawar. Begitulah, fase pembentukan karakter Joko Kaiman dibentuk. Setelah dewasa, Joko Kaiman melakukan fase berikutnya, ngabdi. Dia mengabdi kepada Adipati Wirasaba, Raden Warga Utama I. Babak berikutnya, sang Adipati Wirasaba itu kepincut dengan kepribadian Joko Kaiman. Maka dinikahkanlah dia dengan putri sulungnya bernama Rara Kartimah.

“Ngerti nggak?” tanya saya pada istri. Sebenarnya modus untuk nyruput kopi. Istri saya mengangguk-anggukan kepalanya. “Kayak cerita ketoprak di RRI Purwokerto ya…”

“Uwalah, ini sejarah bukan dongeng!” sergah saya. Seperti biasa, dia cuma mrenges!

Adipati Wirasaba, Raden Warga Utama I ini mempunyai empat anak. Rara Kartimah, istri Joko Kaiman. Ngabehi Wargawijaya, Ngabehi Wirakusuma, dan Rara Sukartiyah. Nah, saat itu Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang memerintahkan kepada semua adipati untuk menyerahkan anak perempuannya untuk menjadi selir. Adipati Wirasaba menyerahkan anak perempuan bungsunya, Rara Sukartiyah.

Rara Sukartiyah diketahui sudah menjadi menantu dari Ki Demang Toyareka. Tapi sudah diceraikan dan belum terjadi hubungan apa pun. Perjalanan ke Adipati Wirasaba ke Pajang mengantarkan Rara Sukartiyah dilakukan pada hari Sabtu Pahing. Setelah itu, anak Demang Toyareka menyusul dan mengatakan kepada Sultan Pajang kalau Rara Sukartiyah adalah istrinya. Tanpa korfirmasi, cek dan ricek, Sultan Pajang menyuruh gandek untuk membunuh Adipati Wirasaba, Raden Wargo Utama I yang sedang dalam perjalanan pulang.

“Beneran deh, aku baru tahu… terus, adipatinya dibunuh?”

“Iya, dibunuh waktu mampir di kediaman Ki Ageng Bener, di Ambal, Kebumen.”

“Hah, terus?”

Itulah pentingnya mendengarkan keterangan dari banyak pihak. Jangan mudah percaya dengan aduan satu orang, satu kelompok, atau golongan saja. Sultan Pajang itu menyuruh gandek lain untuk menyusul utusan sebelumnya agar jangan membunuh Adipati Wirasaba itu. Dia sudah mendapat penjelasan dari Rara Sukartiyah apa yang terjadi sebenarnya. Tapi terlambat. Warga Utama I tewas ketika sedang menikmati jamuan pindang banyak di rumah Ki Ageng Bener.

Sebagai bentuk rasa bersalah, Sultan Pajang memanggil keturunan Adipati Wirasaba. Namun anak-anaknya ketakutan, maka berangkatkan Joko Kaiman sebagai menantunya ke Pajang dengan berbagai risikonya. Ternyata…

“Joko Kaiman justru dijadikan Adipati Wirasaba dengan gelar Wira Utama II sebagai ungkapan penyesalan atas kesalahan yang dilakukannya. Begitulah pemimpin. Berani ngaku salah…”

Tap Joko Kaiman bukan orang yang tidak tahu diri. Dia sadar hanya menantu, jangka atau penglihatannya jauh. Menghindari banyak kemudharatan, dia memilih jalan maslahat, Wirasaba dibagi menjadi empat wilayah. Sementara Joko Kaiman memilih di Kejawar dan membuka hutan Mangli untuk membangun pusat pemerintahan yang kemudian disebut Banyumas. “Pendoponya dekat sekolah SMA-mu tuh, desainnya mirip keraton-keraton jawa kan? Ada pendopo, alun-alun, masjid…”

“Joko Kaiman keren ya…” kata istri saya. “Aku tahunya Wirasaba itu lapangan udara, di buku RPUL waktu sekolah…”

“Owalah, jerene wong Mbanyumas. Priben sih…” ujar saya menutup canda ria malam itu dengan seruputan kopi sasetan yang mulai dingin. Sejarah memang selalu dingin dan sepi, dia hangat dan seksi ketika mulai dibangunkan. Entah demi apa… 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s