Sudut Pandang

Memandang Sesuatu


“Kok kamu diam aja sih, Mas! Mbok kasih pendapat…”

Saya hanya tersenyum malas, sehingga membuat istri saya sering tambah geregetan. Walaupun sebenarnya, itu pertanda, betapa tidak menarik dan tidak pentingnya ‘topik pembicaraan’ yang dianggap sedang jadi trending topic, kekinian, atau apalah istilahnya bagi saya. “Lagi rame, Mas. Dibicarakan banyak orang.” Oke, oke… “Banyaknya berapa, kan ada hitungannya, terus siapa saja?” Wong ukurannya saja subjektif, bagaimana saya mau kasih pendapat.

topi-atv

Demi membahagiakan istri, saya ladeni permintaannya. Bagaimana pendapat saya. Alasannya ya sederhana, saya tidak bisa membahagiakan dengan cara lainnya. Berikutnya, mengemukakan pendapat selain dijamin undang-undang juga cara termurah, tidak mengeluarkan ongkos, dan bisa ‘sak enak udel-nya’ sendiri. Namanya juga pendapat. Bisa jadi benar, bisa disalahkan, bisa dianggap keliru, kurang tepat, atau malah digoblog-goblogan. Biasa. Saya semakin senang kalau dianggap salah, karena saya bisa belajar lagi mana yang benar, mana yang pembenaran, mana yang benar, benar, benar!

“Sekarang kita lihat dari mana?” tanya saya.

“Ya semuanya. Pokoknya sejelas-jelasnya,” pinta istri saya.

“Bikinin kopi dulu, biar otaknya agak anget, biar bisa terang…” Istri saya menjep-menjep sambil berangkat ke dapur membuatkan kopi suaminya yang otaknya rengat, licik, dan picik. Tidak perlu lama, kopi tersedia, aromanya menusuk hidung, hingga bulu-bulunya bergetar. Saya tersenyum berterimakasih, pun istri saya berbinar karena menabung ‘kemoga-mogaan’ pahala berbakti pada suaminya.

“Oke, begini…”

Memandang sesuatu itu harus bijaksana, bijaksini, dan bijaksitu. Mbuh ini bahasa apa, tapi ya begitulah mudahnya. Bijak itu apa? Buka kamusnya. Biar kita bisa sepaham, jangan dengan definisi sak maunya sendiri. Sekarang ini, nanti sejam lagi ganti. Oke sepakat ya, bijak itu menurut KBBI Daring adalah selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir. Saya sepakat sama istri memakai dasar ini. Berikutnya ada pembicaraan tentang akal budi itu apa, pandai itu apa dan kriterianya bagaimana, hingga mahir itu juga artinya apa, hingga siapa yang bisa disebut mahir dan tingkatan apa saja yang harus dilewati untuk bisa sampai pada level mahir.

Terus sana, sini, situ apa? Menjadi bijaksana, bijaksini, dan bijaksitu itu bagaimana prosesnya. Pembicaraan ini memang akhirnya panjang. Itu sebabnya saya minta dibuatkan kopi. Biar bisa srapat sruput sambil menguliti perihal bagaimana semestinya berpendapat. Biar tidak asal bunyi alias asbun, tidak asal ngomong tapi kosong, sehingga tega menyalahkan, memaki, bahkan menghujat. Banyak kan di media sosial saling menyalahkan, saling memaki, dan saling menghujat.

Menjadi agak menarik kalau sudah menyangkut mata pencaharian. Entah apa namanya, apa sebutannya, tapi ada profesi mulia di balik berbagai isu yang jadi produk dagangan di media sosial. “Misal, yuk kita bikin tranding topic dengan hastag ini pada jam sekian bareng-bareng posting ya…” saya mencontohkan saja. Namanya juga profesi, pekerjaan, pasti mulia karena merupakan upaya gerak ibadah mencari nafkah untuk keluarga. “Ini soal bakul nasi yang goyang-goyang, Neng…” canda saya. Kalau sudah menyangkut bayaran, artinya kan profesional.

“Oh, jadi…” istri saya menyimpulkan sendiri.

Berpendapat, menilai sesuatu, mempersepsi kan bebas saja. Mau merasa pendapatnya paling benar juga sah. Mau menang-menangan sendiri ya silakan. Wong ini dunia yang siapa saja boleh berbuat apa dan bagaimana. “Asal tidak malu…”

Di sana, di luar diri kita, masih banyak orang yang lebih tahu, lebih ngerti, dan lebih paham. Di sini, di dalam diri kita masih banyak ketidaktahuan, ketidakmengertian, ketidakpahaman, dan penuh kedangkalan. Di situlah perlunya kita bijak…

“Mestinya lu ngomong, ‘situ mau berpendapat, emangnya situ bijak?’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s