Story & History

Nenek Moyangku Petani


“Mana bisa, Mas. Model kayak elu mau jadi petani…”

Istri saya dengan sangat yakin tidak percaya. Karena lima belas tahun bersama-sama dia tahu persis bukan hanya luar dalam, tapi sampai jeroan suaminya juga khatam. Cangkir kopi yang dibawanya sampai bunyi beradu dengan alasnya, saking gelinya dia menertawakan saya. Suami model saya kok mendadak pengin jadi petani. “Ledes kabeh,” ujarnya di sela-sela tawanya. Lecet semua!

Sambil mijitin kaki, saya dongengi oleh-oleh saya ngidher ke berbagai tempat di Banyumas bersama Pak Joko dari Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto dan Mas Hari, penulis novel bahasa Banyumasan, ‘Geger Wong Ndekep Macan’.

“Jadi ada metode bertani baru, mungkin udah lama, tapi kita baru tahu…” saya mulai cerita. “Bertani dengan Metode Hazton…”

Metode Hazton adalah metode tanam yang ditemukan oleh Ir. Hazairin dan Anton Kamarudin, S.P, M.Si. pada tahun 2012. Nah, bisa ditebak kan nama Hazton dari mana? Ya perpaduan dua nama orang hebat itu tentunya, HAZairin dan anTON. Hazton! Atau sering dipelesetkan menjadi, “Hazilnya berton-ton.”

Mengapa demikian, karena produksi panennya bisa dua kali lipat lebih tinggi, cara menanamnya mudah, tingkat adaptasinya cepat dan tidak mudah stres pasca tanam. Buat saya yang ngertinya bertani hanya model konvensional, ya sangat surprise. Apalagi metode ini disebut umur panennya lebih cepat, hasil padi atau gabahnya menthes (berisi) serta ongkos produksinya lebih murah.

Malam itu, saya mendengarkan banyak tentang keberhasilan pertanian metode Hazton di Kalimantan Barat. Pak Djoko Juniwarto, sewaktu berdinas di Bank Indonesia Perwakilan Pontianak adalah orang yang terlibat dalam proses ini. Sehingga, saya mendapat penjelasan yang jelas, tuntas, dan pas. Setidaknya, saat ini di Kalimantan Barat, sebagai pelopor pertanian metode Hazton, terjadi kenaikan produksi dari rata-rata 3,5 ton per hektar, menjadi 9-10 ton per hektar.

Ini pula yang dia kembangkan di tlatah Banyumas ketika memangku tugas di BI Perwakilan Purwokerto. Beberapa tempat sudah mulai mencoba dan menerapkan pertanian Metode Hazton. Saya beruntung, dibawa serta melihat langsung lahan pertanian di sekitar Pegalongan, Gunung Tugel yang sudah panen dan memasuki masa tanam berikutnya. Sudah ada beberapa tempat di empat kabupaten se-eks karesidenan Banyumas.

“Bagus juga ya BI punya program begitu. Terus, di Sumpiuh ada nggak…” tanya istri saya.

Sumpiuh itu salah satu dari 27 kecamatan di Banyumas. Kenapa istri saya tanya, karena lahir dan masa kecilnya habis di sana.

“Ada, di Lebeng ada berapa hektar, gitu. Terus yang di Selandaka.” Nah, Lebeng dan Selandaka itu nama desa. Dua di antara sebelas desa dan tiga kelurahan di Kecamatan Sumpiuh. “Tahu kan bedanya desa sama kelurahan?” istri saya cuma mrenges, pamer gigi. Desa itu dipimpin oleh Kepala Desa yang dipilih langsung oleh warganya. Gajinya dari tanah bengkok, bisa berupa sawah, bisa berupa ladang. Harus dikembalikan bila masa jabatannya selesai. Kalau kelurahan dipimpin Lurah, ditunjuk langsung oleh Bupati atau Kepala Daerah, pegawai negeri, dan digaji seperti halnya pegawai negeri sipil lainnya.

“Terus, gimana bisa mau jadi petani, Mas? Kan sawahnya nggak ada. Magang jadi kepala desa? Ikut pemilihan? Emang ada yang mau milih elu…”

“Ya sewa lah! Sewa sawah… eh siapa tahu bisa beli sawah,” jawab saya.

“Terus?”

“Ya kita bertani dengan metode Hazton.”

“Bibitnya dari mana? Nyemainya gimana? Nanemnya priben?”

Semua metode pasti ada SOP-nya, standart operating procedure. Ada manajemennya dan tata cara serta aturannya bila menginginkan hasil maksimal. Kalau sudah teknis banget ya nanti saya cari tahu sama ahlinya. Datang langsung lihat yang sudah jelas hasilnya. Tentu bukan kebetulan saya bertemu Pak Djoko, Mas Hari, dan para petani di Kelompok Tani Dewi Sri, Selandaka yang sedang mengembangkan pertanian dengan metode Hazton.

“Nenek moyang kita kan petani, kecuali nenek moyangnya Rio Haryanto, mereka pembalap,” canda saya.

Pesan besarnya, semua gerakan baik untuk kelebihbaikan orang banyak ya harus kita dukung lah. Kaum tani, kaum marjinal itu jangan hanya buat dagangan kampanye terus. “Kita sejahterakan, kita sejahterakan…” Tapi giliran panen, harga gabah murah, impor beras terus dibuka. Waktunya mupuk, pupuk langka, kalaupun ada harganya selangit. Ya, modiar kabeh rakyate…

Iklan