FUN Institute, Kegiatan FI

Spirit Antikorupsi dalam Puisi


MERAYAKAN WORLD BOOK DAY bersama Gol A Gong

 

“Tidak ada satupun kata korupsi dalam buku kumpulan puisi ini,” dikemukakan Gol A Gong sang penulis buku puisi Kota yang Ditinggalkan Penghuninya. Korupsi hanyalah kata kerja. Dalam KBBI daring disebut, korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Mungkin karena terlalu jamak, maka Gong tidak mengutipnya.

Namun realitas-realitas akibat korupsi berserakan di buku yang berisi 56 puisi itu. Selamat tinggal kotaku, aku tak akan kembali, kenangan indah padamu telah kukunci di bagasi, album foto cinta di dalam dus kutandai pita hitam… Terasa sekali kemarahan, keperihan, dan kekecewaan Gong pada kotanya. … lihat wajah pucat tubuh kurus berjejer di kotamu.

mas gong

Tafsir puisi memang luas, tidak bisa dibatasi dan diberi patok-patok untuk mengerangkengnya. Namun seperti puisi pun tak bisa lepas dari tempatnya ia berdiri. Gong adalah anak Serang, Wong Banten yang sangat merasakan denyut korupsi dinasti penguasa Banten secara langsung. Kotanya tak kunjung berkemajuan, meski uang milyaran terserak di lantai ruangan penguasa.

Seperti telah diketahui, pembangunan di Provinsi Banten sejak memisahkan dari Provinsi Jawa Barat tak kunjung sesuai harapan penggagas dan rakyatnya. Banten menjadi provinsi sejak berdasarkan UU No.23 tahun 2000. Saat ini wilayah Provinsi Banten meliputi empat kota dan empat kabupaten. Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Serang, dan Kota Cilegon. Serta Kabupaten Tangerang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Serang.

Dari masa penjabat gubernur Hakamuddin Jamal hingga terpilih pasangan gubernur definitif pertama Djoko Munandar dan Ratu Atut Chosiyah, aroma korupsi dan kuatnya politik dinasti mudah dirasai. Djoko Munandar dinonaktifkan karena kasus korupsi, Ratu Atut naik ke singgasana Banten 1 dan kembali ke periode berikutnya dengan menggandeng Rano Karno mantan wakil bupati Tangerang. Di masa Atut, ibu tiri, adik, adik ipar, anak dan menantunya masuk dalam struktur pemerintahan, ada yang menjadi bupati, wakil bupati, walikota, hingga anggota dewan, baik pusat maupun daerah.

Hingga KPK menangkap Tb. Chaeri Wardhana alias Wawan, adik Atut sekaligus suami dari Airin (Walikota Tangsel) karena korupsi pada 2 Oktober 2013. Atut menyusul ditangkap lembaga antirasuah itu. KPK mendakwa Atut terlibat kasus suap pilkada yang turut mengantarkan ketua MK Akil Mochtar ke penjara. Wawan dan Atut harus terima vonis penjara selama tujuh tahun.

Masyarakat Banten merasakan keperihan itu. Gong juga, seperti yang ditulisnya, kau menikamku berkali-kali, dari segala penjuru mata angin (Aku Dikalahkan Kotaku). Kekecewaan belum berhenti, karena pilkada tak juga melahirkan pemimpin yang ‘gila’. Hanya bermanis di baligo, senyum di spanduk, namun tak berkutik ketika sudah duduk. Tak sesuai harapan dan janji. Gong menulis kekecewaannya, Kenapa kau sibuk memoles diri?  Aku tahu tubuhmu telanjang, kau masih melambaikan tangan di koran dan televisi (Kita tak Memiliki Hidup Kita)

Puisi adalah kejernihan. Emosinya memiliki daya. Karena dia lahir dari sebuah kontemplasi dari tempat yang tinggi, melihat dengan terang dan jernih, berdekat-dekat tanpa sekat dengan apa yang dirasa oleh orang banyak. Kata-kata dan diksi yang lahir adalah suara yang memiliki ruh. Kegetirannya tetap berima, kemarahannya tanpa senjata, kekecewaannya menjadi tenaga. Aku kehilangan masa depa., Kursi pengantinku dicuri. Album keluargaku dibakar penguasa. (Aku Harus Meninggalkan Kotaku).

Bersama spirit anti korupsi, Gol A Gong bersama Teater Rumah Dunia, menggelar rangkaian acara TIDAK PADA KORUPSI berkeliling Banten. Dengan dukungan KPK, Asia Foundation, dan banyak pihak, Gong menyuarakan antikorupsi dari berbagai tempat berkeliling sepanjang April ini. Dimulai dari Fun Institute, Kunciran, Kota Tangerang, halaman Markas ATN Serang, di Padepokan Kopi Simetris bersama Komunitas KPJ Rangkas Bitung, dan berpuncak di Rumah Dunia, Serang dengan gelaran meriah berbagai kegiatan literasi lainnya. Merayakan World Book Day – hari buku – dengan spirit antikorupsi, bukan semata membunyikan puisi dalam keindahan olah emosi dan keanggunan diksi. Tapi Gong memberikan ruh, menebar virus antikorupsi.

Puisi Gong hidup! Penuh daya. Menjadi isyarat bahaya bagi para pengelola kota.  Membagi sinyal cinta pula. Sudah terlalu banyak yang jatuh dari kursi panas itu.Kotaku di atas tungku. Kita semua berlomba menjaga apinya. Pandai-pandailah menjaga diri atau terbakar nanti. (Kota di Atas Tungku).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s