Story & History

Bercanda dalam Bahaya


“Kalau ada anak, bercanda sampai temannya lumpuh gimana?”

Ana Amelia, anak sembilan tahun yang jatuh terduduk, karena canda teman-temannya menggeser kursi yang mau diduduki, membuat saya nyeri hati. Diduga, hentakan keras pada tulang ekor telah merusak sarafnya. Berita dari Semarang ini melengkapi banyak kejadian lain di belantara nusantara dengan sebab sama tapi tak terungkap media.

Mendadak saya teringat gaya lawakan era 80-90an. Saat televisi masih hitam putih dan hanya ada TVRI. Kemudian dihidupkan kembali dan tayang di salah satu televisi swasta di Jakarta. Banyak adegan yang mengundang tawa salah satunya ya menggeser kursi yang mau diduduki. Tapi itu tontonan, guyonan yang direkayasa. Entah pakai script atau tidak, pelakunya sudah tahu sama tahu. Unsur bahaya tentu sudah diantisipasi sedemikian rupa.

Teringat lagi saya tontonan smack down!

168844_10150961822413819_903162804_n
Bercanda di tangga…

Tayangan gulat bebas yang nge-hit banget di tahun 2000an. Sampai berganti tayang dari satu stasiun televisi ke stasiun televisi lainnya. Banyak menuai protes penonton, walaupun pihak televisi mengalihkan jam tayang menjadi lebih malam. Gaya gulatnya banyak ditiru anak-anak. Mereka tidak peduli, juga tidak tahu tepatnya, kalau smack down adalah acara televisi penuh rekayasa. Sedemikian juga, tidak banyak juga orang tua yang tahu, kalau smack down adalah tontonan yang direkayasa. Lagi-lagi by script. Gerakan membanting, dibanting, pukulan, diatur sedemikian rupa untuk keperluan hiburan.

Smack down tayang di banyak negara. Salah satunya Indonesia, memakan korban anak-anak yang tidak paham dan tidak ada penjelasan tentang semata-mata tontonan. Ada yang patah lengan, ada pelipisnya berdarah, banyak sekali laporan ke KPAI – Komisi Perlindungan Anak Indonesia – yang akhirnya turut menjadi bagian dari arus besar yang meminta tontonan itu dihentikan.

Sempat juga agak lama ada tontonan yang penuh canda, membiasakan ‘kekerasan’ sebagai bagian dari cara menjaring tawa penonton. Ada adegan dicemplungin sumur, menabrak lemari, termasuk menggeser kursi. Meski diembel-embeli ‘terbuat dari bahan yang aman’, penggunaan sterofoam tetaplah berbahaya. Secara visual, jelas sekali mempertontonkan unsur kekerasan, walaupun dianggap lucu. Bahaya berikutnya…

semanggi
Bercanda di jalan protokol kota (car free day)

Efek tontonan yang ditiru anak-anak. Entah berapa anak menjadi korban bercanda ala acara opera itu. Beraksi dengan keseolah-olahan tanpa memperhatikan bahan yang dipakai. Dan bahaya jangka panjang, sampah sterofoam yang sulit terurai!

“Ini zaman instan, semua pengen cepet punya uang…”

Pengaruh canda ini tidak hanya di dunia informal, keseharian, dan pergaulan belaka. Tapi pada beberapa acara resmi yang ngapurane – maaf-maaf -, kok pemandu acaranya jadi turut membuat acara jadi seperti panggung opera canda. Bukannya yang formal-formal kaku! Ya harus dibedakan dong, acara resmi, bagaimana juga harus dijaga marwahnya. Saya termasuk yang beberapa kali merasakan, terundang dalam sebuah acara resmi yang kurang lagi berwibawa karena dibawa cengengesan oleh pembawa acaranya.

“Biar kekinian…” ujar saya bergurau getir.

“Kekinian dengkulmu mlocot!” umpat teman saya.

wcamp5
Bercanda di lapangan sepak bola

Bercanda ya bercanda, tapi ya pada tempatnya lah. Jangan semua-semuanya dibuat bercanda. Harapan saya, kalau boleh berharap. Buat para pemimpin, di level mana pun, urusan publik pasti tidak bisa dibuat bercanda. Sampeyan ini dilihat orang, dibuat panutan sama orang banyak.

Mosok ada punggawa negara, puan bangsa, ada kebiadaban, kejahatan kemanusiaan menimpa pewaris bangsa, anak 14 tahun diperkosa 14 orang hingga meninggal dunia tidak tahu. Padahal terjadi di tanah lelulur neneknya. Kalau ini bercanda saya tidak tahu harus bilang apa. Jangan bercanda di ruang publik yang menyakiti atau menyinggung orang banyak. Cukuplah canda tentang orang miskin untuk berdiet waktu itu.. Cukup. Ini negeri gampang latah. Cepat sekali segala sesuatu ditiru. Jangan menggunakan memainkan perasaan rakyat Indonesia yang pemaaf dan lapang hatinya. Begitu mudahnya menganulir pernyataan penting, menyangkut hajat hidup orang banyak, dengan cuma ngomong, “Kemarin saya bercanda…”

“Bercanda dengkulmu mlocot!” Sori Dul, pinjem omonganmu ya. Saya gampang emosi nih kalau ngomongin yang begini. Nanti saya traktir ngopi.

Bercanda mbok yang cerdas. Jangan membodohi, ndak usah ngapusi. Indonesia bercanda ada waktunya. Silakan tanya sama Cak Lontong, di NET tivi tayang acaranya.

 

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Bercanda dalam Bahaya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s