Sudut Pandang

Tumpeng Tambeng


“Tumpeng erte kita juara tiga…” istri saya memberi kabar ketika pulang dari reriungan peringatan Kartinian. Sambil menyodorkan piring berisi nasi kuning, urap, perkedel, orek tempe, mie, dan dua ekor ikan asin. “Herannya, tumpeng kita nggak juara, tapi malah paling ramai diserbu. Emang lebih enak sih, lagian ada ayamnya…”

Lomba tumpeng hampir selalu diadakan setiap tahun. Anak-anak muda di komplek perumahan saya cukup kreatif mengakali bagaimana cara makan enak gratisan dan ramai-ramai. Maka di antara beberapa acara yang dihelat, lomba tumpeng menjadi momen yang ditunggu. Hehe… ini sih bisa-bisanya saya. Tujuan sebenarnya ya, lomba tumpeng lah!

tumpengTumpeng secara filosofis jawa merupakan simbolisasi dari tumindak sing lempeng. Bertindak yang lurus. Jangan ugal-ugalan, rusuh-rusuhan, atau sikut-sikut dan fitnah-fitnahan. Jadilah orang yang lurus dalam tindak dan laku bila mau berhasil mencapai cita-cita atau tujuan. Ndak usah pecicilan, fokus! Kira-kira begitu.

Ada pula makna lainnya, tumpeng adalah tumindak lempeng tumuju pangeran. Artinya kurang lebih, – maaf walaupun saya orang Jawa tapi sudah’ndak njawani’ kata ibu saya – bertindak lurus di segala sendi hidup untuk menuju ketaatan pada Tuhan. Kepanjangan ya. Wis, kira-kira begitu lah. Ada banyak tafsir dan makna tumpeng, intinya adalah simbolisasi kesyukuran pada ciptaan Tuhan dan sarana untuk mengingatkan kebesaran-Nya agar kita ingat ajarannya dan cara menuju-Nya.

Seperti juga manusia, tumpeng juga turut bermigrasi ke luar daerah asalnya. Di Jawa, tumpeng menjadi bagian penting dalam berbagai peringatan. Seperti juga sebuah pergerakan atau pergeseran. Hakikat dan makna sering tercecer, mengalami reduksi, mengikis, sehingga tumpeng beralih tanpa makna yang seperti asalnya. Biasalah, mendangkal. Kalau tidak dangkal kan tidak modern, hahaha… yang simbolik penuh kedalaman itu masa lalu, ribet, dan nggak asik. Sebagai generasi penerus, ya terusin saja. Kalau perlu dibuat modifikasinya biar lebih kekinian.

Mengapa tumpeng harus berbentuk seperti gunung. Kalau pertanyaan itu diberikan saya pasti akan dijawab, “Ya, memang sudah dari dulunya begitu…” Hehe! Padahal mah kudunya saya harus jawab agak mentereng, “Oh, itu kan simbolik. Kenapa kerucut, melambangkan gunung, selain secara geografis tanah kita banyak gunung-gunung, juga simbol perjalanan manusia yang semakin matang, semakin tinggi, semakin sendiri.” Aishhh… Kalau menurut ahlinya, mengapa kerucut, untuk menunjukkan rasa syukur pada Tuhan di atas sana.

Membaca beberapa referensi, tumpeng itu memang simbolik sekali. Tentu Museum Sejarah Rekor Indonesia (MURI) tidak mencatatkan tumpeng yang pertama kali dibuat. MURI hanya mencatat rekor tumpeng tertinggi yang konon tercatat sebagai rekor dunia Guinness World Record juga. Yaitu tumpeng yang dibuat tim Artha Graha Peduli di World Expo Milan, Italia pada peringatan HUT RI ke-70 tahun 2015. Tingginya 2,28 meter dan beratnya 1.400 kilogram. Nyendoknya gimana itu ya… Nah, karena dibuat dalam rangka ulang tahun kemerdekaan RI, maka banyak angka simbolik di tumpeng itu. Misalnya, terdiri dari 17 jenis makanan lauk pauknya, delapan tingkat tumpeng, dan 45 tumpeng kecil-kecil di sekelilingnya.

Tuh kan, jadi tumpeng itu selain enak dimakan ramai-ramai, juga penuh makna simbolik. Ada yang mengatakan lauknya harus tujuh rupa. Tujuh dalam bahasa Jawa itu pitu. Artinya pitulungan. Perlambang bahwa segala sesuatu terjadi karena pertolongan Allah semata. Ada yang memilih dengan lauknya ada lima, persimbolan rukun Islam jangan dilupakan, shalat lima waktu jangan ditinggalkan. Ajib deh kalau mau dimakna.

Seperti yang terjadi dalam lomba-lomba, tentu tumpeng tidak lagi sedalam itu maknanya. Penilaiannya hanya sekitar rasa, apakah keasinan, hambar, atau malah tidak keruan. Selebihnya unsur estetika, bagaimana menghias tumpengnya. Sesudah itu, ya sudah. Tumpeng diserbu! Ada yang selow, mengambil secukupnya. Tapi ada yang tanpa malu, mengambil lebih dari ukurannya, rakus, culas, dan takut tidak kebagian. Mumpung gratis, mumpung ada, mumpung…

Model orang-orang tambeng seperti ini, tentu tabiatnya jauh dari makna bagian puncak tumpeng yang disebut buceng. Nyebuto sing kenceng. Sadar dan ingatlah, eling, emut, nyebut! Bukan salah zaman, bukan salah panitia. Tapi orang rakus dan culas ada dimana-mana, dicipta sebagai ayat Tuhan agar kita belajar kepada mereka. Agar kita terus sadar dan ingat, terus eling, dan banyak menyebut asma Allah sebagai bentuk kesyukuran yang dalam. Saya bukan penafsir makna dan simbol yang kompeten. Hanya kira-kira ya begitu…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s