SENGGANG

{Buku} Geger Wong Ndekep Macan


“Novel kiye pancen maen temenan.”

Ujar sastrawan  Ahmad Tohari pengarang Ronggeng Dukuh Paruk, terhadap buku ini. Novel dengan bahasa Banyumasan karya Hari Widiyanto Soemoyo setebal hampir 400 halaman terbitan tahun 2009 ini pancen maen temenan, memang bagus beneran. Saya membaca terbitan keduanya tahun 2010, dan membaca ulang untuk kesekian kalinya. Antara takjub dan terus belajar memakna novel langka ini.

Novel ini komplit!

13022237_10208622009406120_850958291_n
Judul : Geger Wong Ndekep Macan, Penulis : Hari Widiyanto Soemoyo, Penerbit : Jejak Pena Publishing, 2010, Cet. Kedua.

Geger Wong Ndekep Macan karya Mas Hari, begitu saya menyapa penulisnya, yang kemudian diakrabkan karena tulisan. Novel bahasa Banyumasan yang pertama kali saya baca dalam sejarah hidup saya. Selain memaparkan idealisme dan kecintaan penulisnya tentang pertanian dan peternakan organik – tema ini menjadi sandaran cerita dari awal hingga akhir – juga menyampaikan secara detil unsur sosio kultural setting dan tokoh-tokohnya.

Tema besar tentang ‘perlawanan’ terhadap produk-produk unorganic diungkap dengan detil melalui pergerakan Laskar Organik, Jaringan Kerja Organik, dan ketokohan Haji Iwak. Sebuah idealisme penulisnya untuk mengembalikan gerakan pertanian dan peternakan organik yang berbasis pada ketahanan ekonomi kerakyatan. Apabila dibaca sebagai perlawanan, maka novel ini memprotes konglomerasi modal besar atas produk makanan hingga camilan yang berbahan kimia sintetis yang tidak sehat, tidak mensejahterakan pekerjanya, dan tidak memberi ruang enterpreuner baru. Termasuk kritik terhadap lembaga pendidikan tinggi yang tidak berbasis pada ilmu-ilmu konvesional yang berpihak pada pergerakan ekonomi kerakyatan.

Haji Iwak dengan Laskar Organik dan Jaringan Organiknya menjadi bagian yang penting dalam novel ini. Pengetahuan dan wawasan yang luas tentang pertanian, peternakan organik, disertai pemahamannya di bidang ini dari penulisnya, membuat cerita mengalir seperti membawa pembacanya pada ruang pelesiran baru bernuansa desa yang hangat dan cerdas. Penulis seperti ingin menyampaikan pesan juga, dari banyak pesan lainnya yang berjubel di novel ini, bahwa ‘kecerdasan itu bisa lahir dari desa’. Tidak selalu apa-apa yang besar dan bagus itu keluar dari Jakarta.

Keluasan pergaulan penulisnya pun terasa ketika mampu mengemas berbagai konflik dalam cerita. Penulis mampu merajut cerita yang analitis, seperti yang diceritakan di beberapa bab. Mengungkap jaringan dan orang-orang yang hanya berorientasi uang, pragmatisme yang ternyata ada di setiap kesempatan. Ada yang bermain-main dengan mengatasnamakan rakyat, tapi sesungguhnya hanya bualan semata. Ujungnya adalah berapa rupiah keuntungan untuk dirinya.

Merangkai banyak isu kekinian, pilkada dengan silang sengkarutnya, intrik pembakaran pasar dan persaingan usaha, termasuk serangan dengan senjata biologis. Persaingan usaha juga beririsan dengan persilangan pengaruh politik. Seperti diceritakan di bagian akhir novel ini, bagaimana Haji Iwak menjadi penting bagi partai politik untuk meminangnya. Karena pengaruhnya dan kekuatan idealismenya, hingga membiaskan persepsi bahwa Haji Iwak bisa jadi Ratu Adil yang didambakan banyak orang selama ini.

Lebih menarik dan update adalah ketika diceritakan, orang-orang di sekitar Haji Iwak melakukan penetrasi persepsi kepada publik, memberikan citra bahwa Haji Iwak adalah Ratu Adil dengan menggunakan berbagai keunggulan teknologi informasi. Buat saya, di sini Mas Hari keren banget! Bukankah itu yang sedang terjadi sekarang, perang pengaruh di media sosial untuk sebuah pencitraan?

… tekane Ratu Adil dipretandakna anane jaman kalabendhu. Ya kuwe, lindu sedina ping pitu, lemah pada mlethak mrekakah amba pisan, menungsa akeh sing padha mejen merga kenang pageblug, bencana alam nang ngendi-endi. Tenger liane ana kreta mlaku sing ora ngganggo jaran, tanah jawa dikubengi wesi, prau mlakune nang awing-awang, kali wis kelangan waduke, karo pasar wis ilang ramene. (Ratu Adil Wis Teka? hal. 384)

Sastra selalu memberikan kedalaman makna. Hari Widiyanto Soemoyo, penulisnya, menyampaikan banyak sekali nilai yang disampaikan dalam novel Geger Wong Ndekep Macan ini. Saya disuguhi banyak pekerjaan rumah dari novel ini. Pertama, pesan untuk kembali mencintai bahasa ibu, bahasa leluhur dan nguri-uri basa banyumasan. Kedua, novel ini membawa spirit entrepreneurship dan kemandirian, mari berusaha, mari bergerak, di mana pun dan dalam skala apa pun. Kalau dimulai, digemateni – ditekuni – pasti ada hasilnya. Ketiga, saya diingatkan kembali pada pesan menang tanpa ngasorake – jangan merendahkan orang lain, jangan merasa bisa sendiri dan pinter sendiri, tetaplah berendah hati dan bersandar pada kebesaran serta kersaning Ilahi.

Matur kesuwun Mas Hari, novele njenengan pancen maen temenan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s