Sudut Pandang

Berbusa Membuih


Hidup itu merdeka. Bukan berarti kemerdekaan itu bebas lepas seperti lirik lagunya Iwa K. “Kemerdekaan itu justru menciptakan peradaban, budaya, dan penghormatan kemanusiaan.” Itu yang saya kutip dari omongannya. Dia bercerita dengan analogi negara yang merdeka, melepaskan dari belenggu penjajahan, dengan cita-cita luhurnya. Saya jadi ngeh! Kemerdekaan itu diperjuangkan penuh kecintaan, jangan tanya pengorbanannya. Pasti semua akan dilakukan demi kemerdekaan itu.

Sejarah bangsa-bangsa terjajah, satu persatu dijelentrehkan ­– dibeberkan – dengan bahasa sederhana, tapi memakna rasa baru. Kemerdekaan itu keteraturan, kesepakatan untuk teratur bersama, biar bisa sejahtera bersama, makmur bersama, dalam rasa keadilan yang sama.

Kalau tidak begitu? “Hanya beralih ke penjajah dengan wajah yang berbeda.”

“Kalau buat diri sendiri, merdeka itu gimana?” tanya saya. “Jadilah diri sendiri!” begitu saja jawabnya. Dia malah agak sebal ketika saya terus bertanya apa maksudnya menjadi diri sendiri itu. “Nggak usah ngikut-ngikut. Punya karakter, punya idealisme. Nggak usah ngaku ganteng, karena ada yang lebih ganteng, walaupun juga ada yang lebih jelek…” Saya tertawa. Saya memang tidak ganteng, tapi saya keren. Ketika saya ungkapkan itu dia yang tertawa.

Dia mengutip ungkapan sahabat sekaligus menantu Rasulullah yang terkenal itu, ucapan Ali bin Abi Thalib ra. Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu. Rupanya ini yang membuat dia santai saja ketika didera sedemikian kebencian dan fitnah. “Lakukan saja yang baik-baik. Daripada cuma berisik tentang kebaikan-kebaikan.”

Duh! Saya semakin terbirit-birit menyusuli langkahnya.

Ibarat BuihSaya mencoba mencerna. Kalau dalam materi pelajaran taman kanak-kanak, makan itu selain mendahuluinya dengan membaca doa, juga harus dikunyah sampai lembut. Dalam keterangan lain disebut agar mengunyahnya hingga 33 kali, agar pencernaan kita tidak bekerja terlalu keras, dan bisa menimbulkan penyakit.

Saya berusaha mengunyah pernyataan-pernyataan dan kata-kata teman yang ajaib itu. Tentang jadilah diri sendiri. Apa iya, saya sudah menjadi diri sendiri. Dia menyebut salah satu indikatornya ‘tidak ikut-ikutan’.  Saya jadi malu, saya ini senang sekali ikut-ikutan berisik tentang isu yang lagi happening, meski saya tidak tahu banyak. Saya juga tidak tahu, alasan dan argumentasi saya ikut-ikutan melakukan itu. Aneh kan… untuk apa, demi siapa, dan biar terlihat bagaimana gitu. Saya harus membuang banyak waktu, tenaga, perasaan dan tentu saja pulsa.

Perlahan, saya kunyah lagi… rupanya terlalu banyak yang tidak menarik dan tidak penting dari yang saya lakukan. Tidak menarik, tidak penting, bagaimana mungkin menjadi sebuah identitas diri yang berkarakter. Kalau sampai usia segini, karakter saya masih mencla-mencle, ngikutin arus, ngikutin perasaan, baperan. Ups! Manusia kualitas apa saya. Kalau saya mengaku manusia rijek, tidak mungkin. Karena Allah ciptakan manusia sesempurna penciptaan. Tapi menjadi konyol dengan sedemikan rupa sadarnya, sungguh saya malu. Orang tua saya nyekolahin sampai tinggi. Kok ya tidak cukup mendongkrak saya untuk menjadi manusia yang berkarakter, menjadi diri sendiri, dengan berbagai kapasitas yang mampu menjadi daya dan menggerakkan kebaikan serta kemanfaatan. “Kecil nggak papa, asal terus menerus. Daripada gede tapi sekali, setelah itu nggak pernah lagi.”

Saya mungkin manusia buih yang turut dibawa gelombang, kemudian tidak menjadi apa-apa ketika sampai di tepian. Mereka ibarat buih di laut… saya pernah mendengar ini, kriteria umat akhir zaman. Ramai, banyak, tapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh.

Tidak perlu penjelasan lagi bahwa saya adalah bagian dari kebodohan di zaman ini…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s