FUN Institute

Pesta Puisi Gol A Gong di Fun Institute


“Malam ini saya sangat menikmati Gol A Gong.”

Demikian kata Gusur Adhikarya yang membedah dengan jernih buku kumpulan puisi Gol A Gong, “Kota yang Ditinggalkan Penghuninya” terbitan Gong Publishing.

Suasana malam minggu di Fun Insitute, Kunciran, Kota Tangerang 2 April lalu memang berbeda. Meski hujan sempat menyapa, sepertinya hendak turut serta meramaikan Pesta Puisi – Kota yang Ditinggalkan Penghuninya karya Gol A Gong. Sebuah perhelatan dengan banyak pesan, seperti tema besar TIDAK PADA KORUPSI dan tentang mimpi, harapan, serta penglihatan atas pembangunan kota. Juga tentang pergerakan tiada henti menyemangati gerakan literasi.

Dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka bersama-sama, diiringi oleh Funkustik yang digawangi oleh Patrik (biola) dan Arif (gitar). Selain menyatukan ruh dan frekwensi yang hadir, secara simbolik ingin menyampaikan juga pesan, semua ini dilakukan atas nama kecintaan kepada bangsa, kemanusiaan, dan keindonesiaan.

Acara pembuka dari rangkaian #roadtoworldbookday dan #bantenmembaca yang akan dihelat di empat tempat dengan tiga kota di Banten, Kota Tangerang (Fun Institute), Kota Serang (Bina Persaudaraan Indonesia), Rangkas Bitung, Lebak (Komunitas Pemusik Jalanan) dan puncaknya di Rumah Dunia, Serang, 23 April 2016 mendatang.

Mengapresiasi puisi itu luas sekali, Inggrid salah satu dosen sastra yang khusus datang dari Depok mengatakan, “Ingin sekali mengajak mahasiswa saya melihat ini, agar mereka tahu, bahwa berpuisi itu ekspresif sekali, tidak selalu dengan tampang merengut.”

Saya tidak akan bicara banyak, kali ini, biarlah gambar-gambar saja yang bicara. Hal terpenting dari kegiatan ini, selain pesannya…

  1. Tidak untuk korupsi adalah pesan penting, bahwa kampanye anti korupsi harus dari rumah, lingkungan terdekat, dan terkecil. Disinilah KPK memberi apresiasi pada kegiatan seperti ini.
  2. Puisi adalah ekspresi privat yang penuh dengan perjalanan reportase, begitu kata Gusur Adhikarya, sehingga mampu memotret penglihatan atas realitas dan kegelisahan diri. “Buku Puisi Kota yang Ditinggalkan Penghuninya” adalah kegelisahan, protes, sekaligus cara Gol A Gong memperbaiki kotanya.
  3. “Jangan takut menulis puisi,” kata Gol A Gong.
  4. Tafsir puisi harus ekspresif, sehingga bisa menjadi tontonan yang menghibur, tidak menjenuhkan, tapi tetap bisa dinikmati dan pesannya tetap sampai. Seperti yang dilakukan oleh Teater Rumah Dunia dalam mengapresiasi puisi-puisi dalam buku “Kota yang Ditinggalkan Penghuninya.”
  5. Pentingnya jejaring… menyuarakan idealisme, tidak bisa sendirian. Seperti berteriak di tengah kota yang bising, terlipat suara kita. Dalam kebersamaan, akan banyak lagi keindahan yang kita lakukan.

Mari berpuisi, mari membaca, dan mari terus menggerakan semangat berbagai.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s