SENGGANG, Sudut Pandang

{Film} Kesempatan Kedua yang Menegangkan


Ibu selalu menjadi ingatan paling menyentuh. Meluluhkan keangkuhan logika, melelehkan keakuan, dan mengembalikan seseorang kembali menjadi manusia. Malam-malam yang terus tegang, waktu yang terus mencekam, dan hari-hari yang melelahkan di Pesantren Impian, membuat Dewi (Prisia Nasution) didera lelah fisik, hati dan pikiran karena semua kejadian di luar estimasi dan kalkulasinya.

“Ibu saya yang terakhir mengucapkan itu…” ketika Ustadzah Hanum (Sita Nursanti) memberikan Al-Quran sebagai hadiah ulang tahun Dewi, di tangga Pesantren Impian pada suatu malam. Malam terakhir Ustadzah Hanum sebelum menjadi korban pembunuhan berantai yang sangat misterius di Pesantren Impian.

nu89FO4Kematian Ustadzah Hanum adalah titik balik tumbuhnya kembali rasa menjadi anak bagi Dewi. Emosinya membela ibu, membela orang tua, mengatasi rasa semata tugasnya sebagai polisi yang harus mengungkap kasus pembunuhan. Seperti awal kedatangannya ke Pesantren Impian bersama dengan sepuluh orang perempuan dari berbagai masa lalu dengan beragam profesi gelap. Ada pelacur, pemadat, termasuk tersangka pembunuh yang menjadi target Briptu Dewi atau Eni.

Pesantren Impian adalah film adaptasi dari buku berjudul sama karangan Asma Nadia. Penulis yang beberapa buku sebelumnya juga diadaptasi menjadi film. Dari Rumah tanpa Jendela dan Emak Ingin Naik Haji yang dibesut sutradara Aditya Gumay,  Assalamu’alaikum Beijing (Guntur Soeharjanto), dan Surga yang Tak Dirindukan garapan sutradara Kuntz Agus.

Sebagaimana film adaptasi dari buku, tentu ada kompromi dan pengembangan cerita sesuai dengan kebutuhan emosi tontonan serta tuntutan rasa estetik dan sinematik. Rasanya, Ifa Isfansyah sebagai sutradara peraih Citra ini mampu menghidupkan imajinasi pembaca buku Pesantren Impian, menjadi tontonan yang cukup menegangkan sepanjang hampir satu setengah jam. Komposisi ketegangan demi ketegangan seperti diperhitungkan sekali, sehingga penonton bisa berdesis, “Habis ini siapa lagi?” sambil berpikir dan menuduh-nuduh siapa di antara tokoh-tokoh itu yang melakukannya. Gerakan gambar disajikan seolah menggiring penonton untuk turut berteka-teki. Menebak-nebak.

Sebuah tontonan thriller rangkaian kematian penghuni Pesantren Impian yang tidak menghadirkan setetes pun darah. Tanpa eksploitasi perempuan seksi. Tidak ada kekerasan apalagi hantu-hantuan yang datang mengaget-ngageti penonton. Pesantren Impian oleh sutradara asal Jogja dan kebetulan hampir semua lokasi syuting film ini di Jogja, dikemas sebagai tontonan thriller yang cukup elegan. Sebuah langkah baik mengurangi dominasi film-film thriller Indonesia yang cenderung menghadirkan kemolekan tubuh perempuan, tokoh kebanci-bancian, serta kekonyolan yang dalam mengemas mitos hantu-hantuan.

“Masa lalu kalian berakhir ketika sampai di sini…”

Ucapan Gus Budiman (Deddy Sutomo) ketika menyambut kedatangan peserta Pesantren Impian adalah pesan penting film ini. Selalu ada kesempatan kedua untuk lebih baik. Berubah menjadi baik, meninggalkan masa lalu yang sudah lewat. Ada yang berhasil mengakhiri masa lalunya, hingga berhijrah menjadi baik, setidaknya lebih baik. Seperti Dewi dan Inong (Dinda Kanya Dewi) yang akhirnya berhijrah agar Tuhan tidak lupa padanya. Ada yang terpuruk dalam proses mengakhiri masa lalunya, termasuk mati dalam perjalanan mengakhiri masa lalunya. Ada juga yang gagal seperti misteri rentetan kematian di Pesantren Impian ini.

Berubah memang tidak mudah.

Seperti sosok Umar (Fahri Albar) asisten Gus Budiman yang misterius. Apakah dia termasuk yang sudah berdamai dengan masa lalunya, canggung atau sebaliknya. Dewi melingkari berkali-kali nama itu dalam sketsanya. Siapa Umar? Mungkin dia perlu sentuhan ibu. Ya, ibu tempat kembali sejauh apa pun kita pergi bermain atau berkelana. Ibu juga bermakna, selalu ada tempat dan kesempatan untuk berhijrah.

Selamat menonton…

Jusdul film : Pesantren Impian | Pemain : Prisia Nasution, Dinda Kania Dewi, Fahri Albar, Sita Nursanti, Deddy Sutomo. |Skenario : Alim Sudio dan Salim Bachmid  | Cerita : Asma Nadia | Sutradara : Ifa Isfansyah | Produser : Manoj Punjabi | Produksi : MD Pictures

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “{Film} Kesempatan Kedua yang Menegangkan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s