FUN Institute, Fun Writing

Patrick – Juara Sayembara Faber Castell


Patrick

“Mas saya juara satu, saya juara satu…” suara lelaki di hape saya terasa sekali aura kebahagiaannya. “Barusan saya ditelepon panitia, katanya naskah saya juara lomba Faber Castell.”

Tentu saja saya turut bahagia, turut bangga. Bagaimana juga saya tahu persis proses kreatifnya dan berkeringatnya Patrick untuk sampai juara. Dan sekali lagi, ini memberi pelajaran buat saya, pertama usaha yang sungguh-sungguh pasti akan berhasil. Kedua, selalu ada penghiburan yang tak terduga dari Allah ketika seseorang berada dalam deraan beban hidup yang nyaris membuat putus asa tapi tetap percaya ada kebaikan bersama kesusahan.

Ya, saya pernah merasakan itu. Kini itu terjadi pada Patrick. Anak muda yang punya semangat ingin bisa menulis luar biasa, lalu berani bersusah payah, berlelah-lelah, dan pantang menyerah terus menulis. Anak muda yang saya kenal ketika memberikan pelatihan penulisan di Don Bosco Pulomas, dan mengaku sebagai guru bahasa Inggris. “Saya ingin belajar menulis, Mas,” begitu kalimat pertamanya ketika menemui saya usai sesi pelatihan itu.

Benar saja, waktu bergerak. Pertemuan itu menjadi jalan keindahan silaturahim dan persahabatan. Patrick beberapa kali datang ke Fun Institute, tentu untuk belajar menulis. Katanya. Walaupun sebenarnya tidak semata-mata belajar menulis, tapi juga menghibur saya, istri saya, dan anak-anak Fun Institute dengan gesekan biolanya yang mengalunkan lagu-lagu klasik. Dan itu menggoda saya untuk belajar biola pada akhirnya. (Sstt… impian lama akhirnya terwujud juga)

patrick2

Patrick idenya banyak, liar juga. Sebenarnya dia sudah biasa menulis. Bersama saya hanya berdiskusi, bagaimana membuat cerita pendek yang baik. Terus bicara tentang hal-hal teknis saja. Selebihnya, Patrick sendiri yang jungkir balik menulisnya. Saya hanya menertawainya. Karena kesungguhannya menulis agak unik. Dia bertekad, “Saya belum mau pulang kalau tulisan saya belum selesai.”

Dan itulah yang terjadi. Dia selalu menyelesaikan tulisannya di Fun Institute. Di saung dia membuat kerangka cerita dan bolak-balik membaca buku. Lalu mengetiknya di bawah meja payung sambil ngopi. Dia sangat serius, bahkan kadang sampai buka baju ketika mengetik, hehe… “Panas Mas!” katanya. Saya hanya menyahut, “Biasa, kalau menuju klimaks memang memanas.”

Saya menyarankan dia ikut beberapa lomba menulis. Sebelum nanti mengirimkan karyanya ke media. Benar saja, dia mengikuti saran saya. Mengikutkan beberapa naskahnya ke lomba-lomba. Kadang harapan memang sering meleset dari kenyataan. Indah di awang-awang dan angan-angan. Tapi kenyataannya, realitasnya kejam tak terperi. Satu dua pengumuman lomba tak menyantumkan namanya sebagai pemenang atau nominasi.

“Saya kayaknya nggak bakat jadi penulis, Mas…” katanya ketika dia mengetahui pengumuman demi pengumuman lomba. “Santai Bro… penulis senior dan sudah biasa ikut lomba saja banyak yang nggak juara. Nanti ada jatahnya, tunggu saja. Terus aja menulis, dan semangaaaattt…” jawab saya.

Setelah kabar dari Patrick, saya mengecek situs penyelenggara lomba. Dengan perasaan agak berdesir, saya membaca namanya, “Juara 1: Patricius Valentino Dipratama “Penawaran”… Patrick, Patrick, akhirnya kamu juara juga. Jangan cepat puas ya, semua baru dimulai Bro…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s