SENGGANG

Wedangan Filadelfia, Angkringannya Purwokerto


“Kalau di sini harus minum Jekaje…” sambut Mbak Dani pemilik angkringan “Wedangan Filadelfia” depan markas Polisi Militer, Kebon Dalem, Purwokerto ini ramah.

Tentu saya penasaran, apa itu minuman Jekaje. “Jekaje apa tuh?” tanya saya memakai logat Banyumasan paling medok level mentok.

“Itu minuman, jahe, kencur, sama jeruk, Mas…” jelasnya, “Tunggu ya, saya buatkan.”

Mbak Dani bergegas meramu minuman, saya leluasa memilih menu angkringan yang bikin mata lumer, bingung milih. Terlalu banyak pilihan. Walau tentu khas angkringan. Banyak sate-satean seperti usus, ati ampela, telor puyuh, dan karena ini di Banyumas, maka ‘mendoan’ tidak ketinggalan. Menu lainya, ya nasi kucing… dengan variasi lauk tempe orek, ikan, dan beberapa lainnya. Saya mencomotnya dua bungkus. Biar nggak bolak-balik…

Namun ada satu menu yang dibungkus daun pisang membuat saya tertarik.

“Kiye apa, Mbak?” tanya saya ke Mbak Dani. Ini apa maksudnya, dia jawab, “Nasi bakar, silakan coba, enak…”

Setelah perburuan sate-satenan, mendoan, nasi kucing, dan nasi bakar, saya beranjak ke lesehan. Asyik juga menikmati Purwokerto di malam hari dengan lesehan nasi kucing begini. Memang belum terlalu malam, tapi parkir sudah mulai penuh, beberapa tikar yang digelar sudah terdapat beberapa kelompok orang yang menikmati angkringan ini.

Sambil berbincang dengan teman yang baru ketemu juga di Purwokerto, ramuan minuman ‘Jekaje’ datang. Hmm… saya mencium aroma jahe yang segar, sekaligus aroma kencur yang fresh! Tak sabar saya seruput perlahan. Yesss! Nggak salah… Pantas saja Mbak Dani bilang, sekali minum bakal ketagihan. Dan minuman ini menjadi andalan di antara varian menu lainnya. Termasuk mengalahkan ego saya ketika hendak memilih ngopi saja.

Menunggu pilihan makan yang dibakar dulu, saya ngobrol sambil srapat-sruput ‘jekaje’ ini. Jadi perasan jeruk panas, dicampur dengan jahe bakar, dan kencur yang dihancurkan kasar, menjadi khas di tenggorokan. Ada hangat, segar, sekaligus enak di perut. Satu lagi, saya tak segan menguyah remukan kencur, yang kata orang tua saya, bisa menyegarkan tenggorokan, obat batuk, dan bisa mengurangi bau mulut.

  Okelah… sekarang saya harus makan nasi bakar khas Filadelfia. Konon dinamai Filadelfia yang bermakna persahabatan. Diharapkan siapa pun yang ‘ngangkring’ di Filadelfia bisa menjadi sahabat, mempererat persahabatan, dan menghangatkan persahabatannya. Hmm, boleh juga.  Saya termasuk yang memilih tempat ini untuk menjadi meeting point, kangenan, ketemu dengan sahabat-sahabat saya yang lama tidak bertemu.

Nasi bakarnya gurih…

“Iya, semacam nasi uduk kalau di Jakarta Mas,” jelas Mbak Dani yang angkringannya buka sampai dini hari, bisa jam dua, bisa jam tiga pagi baru tutup. Sebuah pilihan tepat buat orang seperti saya yang sering ‘pecicilan’ kelaperan malam-malam. “Enak, Mbak. Trus ini kok bisa ungu ya…” Mbak Dani tersenyum. Biarlah dia menyimpan resep andalannya.

mbak danimbak dani filadelfia

Purwokerto kian menarik seperti kota lainnya yang terus berbenah. Tidak terlalu pusing mencari tempat menginap di pusat kota. Bisa bercengkerama malam selepas pekerjaan selesai dengan banyak pilihan tempat dan kuliner yang beragam. Alun-alun kota di depan kantor bupati Banyumas juga indah. Ada air mancur, ada banyak mainan anak untuk sekadar melepas lelah dengan keluarga. Purwokerto adalah ibukota Kabupaten Banyumas. Merupakan kota yang memiliki sejarah kuat.

Perhatikan saja dari nama-nama ikonnya. Ada Universitas Jenderal Soedirman, ada Monumen Jenderal Gatot Subroto, ada juga Rumah Sakit Umum Prof. Dr. Margono Soekarjo. Membuktikan daerah ini melahirkan banyak orang besar yang memiliki kontribusi luar biasa di masa perjuangan hingga sekarang di berbagai bidang. Jenderal Soedirman, Jenderal Gatot Soebroto, sejarah menulisnya dengan gemilang. Siapa Prof. Dr. Margono Soekarjo? Membuka Wikipedia, saya dapat keterangan kalau beliau adalah dokter pribumi pertama kelahiran Sokaraja, Banyumas yang diakui Hindia Belanda. Selepas sekolah dokter STOVIA, dia sekolah di Belanda dan menjadi ahli bedah dengan kontribusi besar sekali untuk Indonesia. Membanggakan mbokan…

Begitulah, di angkringan memang mau ngobrol apa saja menarik. Apalagi di angkringan Filadelfia-nya Mbak Dani, huh! Sambil nyruputi ‘Jekaje’ – jahe kencur jeruk,  semua topik bahasan jadi mbleketaket pisan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s